
Masih diruangan Bella. Suasana mulai terasa nyaman. Bella sudah mulai tersenyum, meskipun masih ada rasa kesal di hati tapi sudah berkurang.
"Sepertinya kamu tidak cocok jadi pelayan, bisa bisa istri orang juga ngikut ngantri" hahahaha Evan terbahak mendengar celotehan Bella.
"Apa itu artinya hukuman ku sudah berakhir" Bella mengangguk.
"Apa kau juga sudah memaafkanku dengan kejadian yang telah lalu? "
"Iya, aku memaafkanmu. Ayo ganti bajumu, aku kesal melihatnya"
"Baiklah, aku akan menggantinya. Setelah itu ayo kita jalan jalan" Berdiri kemudian berjalan ke kamar mandi.
Satu jam pun telah berlalu. Cafe pun normal seperti biasa. Evan dan Bella pun sudah pergi meninggalkan cafe. Rencananya mereka akan jalan jalan tapi ditengah jalan ada yang menghubungi Evan dan Evan pun terlihat menyetujui permintaan orang tersebut.
"Kita mau kemana, sepertinya ini bukan jalan ke mall"
"Iya, ikutlah sebentar aku harus menemui seseorang"
"Apa harus sekarang, apa aku tidak akan mengganggu, atau aku tunggu dimobil saja"
"Tidak apa apa, ikutlah juga, mereka akan senang bertemu denganmu"
"Begitulah? Apa kita saling mengenal? "
"Ehmm... mungkin bisa dibilang begitu" Mobilpun berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi.
"Apa ini rumahnya? Gerbangnya tinggi sekali, bagaimana kalau dipanjat maling, kasian malingnya"
"Kau tidak kasian sama pemilik rumahnya? "
"Pemilik rumahnya pasti kaya, tapi malingnya kalau jatuh pasti krek" menggerakkan tangannya seperti akan memotong lehernya. "Patah tulang atau mati"
"Bagaimana kalau malingnya bisa masuk dan mencelakai pemilikk rumah? "
"Pasti banyak pengawal di dalam seperti di film film. Eh tunggu kita kok jadi bahas maling" Gerbang pun perlahan terbuka dan wauuuuu... "Ini beneran rumah, halaman nya saja seluas ini apalagi rumahnya, sayang.. apa ini rumah artis? "
"Bukan"
"Rumah pejabat? "
"Bukan"
__ADS_1
"Rumah temanmu"
"Juga bukan" Mobilpun berhenti lalu mereka pun keluar.
"Aku tunggu disini saja ya, aku tidak mau masuk, rumahnya terlalu besar, aku gugup"
"Kau ini, ayo.. " Evan menggandeng tangannya, kemudian melangkah bersama. Pintu utama pun terbuka, Bella semakin takjub.
Benar benar rumah orang kaya. Berapa ya penghasilannya perbulan? ini benar benar crazy rich.
"Assalamualaikum.. " tentu saja tidak ada yang menjawab salamnya, karena disitu tidak ada orang."Bagaimana bisa ada rumah sebesar ini, sebagus ini, bagaimana mereka membuatnya, ternyata bukan dokter saja yang hebat, kuli bangunan pun hebat" Ucap Bella tertawa kecil sambil melangkah mengimbangi langkah kaki Evan. Dan sedetik itu juga terdengar tawa dari atas tangga. Membuat mulut Bella terdiam kaku, langkahnya pun terhenti.
Deg
Jangan bilang ini rumah orang tua Evan, dan apa yang aku katakan tadi.
"Ternyata wanitamu lucu juga" ucap Tuan sajaya yang masih tertawa sambil menuruni tangga, jangan lupakan wanita cantik disebelahnya. Tuan Sanjaya merangkul istrinya dengan mesra, seakan akan ia ingin menunjukkan bahwa ia tak kalah dari Evan putranya.
"Kenapa kau tidak bilang kalau mau kerumahmu?" Bisik Bella.
"Aku takut kau akan gugup"
"Dan sekarang aku semakin gugup, aku belum persiapan untuk menghadapi mereka" mereka saling berbisik.
"Bagaimana? sekarang saja rasanya aku tidak bisa menggerakkan kakiku, dan lihat tatapan ibumu, seperti ingin membunuhku, tapi ayahmu tampan sepertimu" Bella menoleh kearah Evan, mereka saling menatap dengan maksud yang berbeda.
Kau belum tahu saja dibalik wajah tampannya, ia sangat kejam. Apalagi menyentuh istrinya. Evan.
Tanpa terasa orang tua Evan sudah sampai di hadapan mereka.
"Ehem..." Membuyarkan lamunan Bella dan Evan seketika mereka menoleh ke asal suara.
Deg.
Ya Allah aku gugup. Tenanglah wahai diri ada Allah, kau tak perlu khawatir. Bella.
"Kau mau berdiri sampai kapan, ajaklah wanitamu ke ruang keluarga! " orangtuanya melangkah lebih dulu ke ruang keluarga sedangkan Bella dan Evan berjalan dibelakangnya.
"Selamat siang Tuan, nyonya" Bella menyalami kedua orang tua Evan dengan mencium tangannya sebelum mereka duduk di sofa.
"Kau tidak membawa buah tangan, berkunjung kerumah orang tua" tanya mama Evan.
__ADS_1
"Maaf nyonya, saya tidak tahu kalau Evan mengajak saya bertemu orang tuanya" jawab Bella gugup rasanya seperti wawancara pekerjaan.
"Apa Evan tidak memberimu uang?"
Uang. harus jawab apa ya, kalau wawancara pekerjaan jawabnya terserah perusahaan kalau ini harus jawab apa? apa ini termasuk wawancara calon menantu.
"Ehmm.. iya nyonya, Evan memberi saya uang" aku menundukkan kepala tak berani menatap wajah calon ibu mertua kalau diterima.
"Kalau berbicara tataplah orang yang mengajakmu bicara! "
"Iya nyonya" seketika aku mendongakkan kepalaku.
"Apa lagi yang Evan berikan padamu "
"Ba.. banyak nyonya" Apa ini pertanyaan jebakan tanyaku dalam hati.
"Apa saja, dia tidak memberimu apartemen kan? "
"Tidak nyonya, dia hanya meminjami saya apartemen. Dia memberi saya mobil, kartu sakti, dan cafe nyonya"
"Enak sekali hidupmu, numpang hidup ke putraku, bagaimana? enak kan punya kekasih orang kaya? "
"Sejauh ini... ehmm e...nak nyonya" gumam Bella terbata yang mampu didengar oleh semuanya. Sedangkan dua laki laki disebelah mereka haya diam mendengarkan obrolan wanitanya. Tuan Sanjaya kagum dengan jawaban Bella, jujur meskipun itu bisa merusak penilaian tentangnya, biasanya wanita itu selalu menutupi apa yang diberikan prianya, tapi Bella terang terangan mengatakannya.
Sedangkan Evan mulai jengah dengan pertanyaan ibunya, tapi ia tak mampu untuk menghentikan pertanyaan yang muncul dari mulut ibu tercintanya ini.
"Bagus ya.. apa kamu itu wanita tidak tahu malu, menggantungkan hidup pada laki laki yang bukan suamimu? " Bella tampak berpikir dengan ucapan ibunya Evan.
"Maaf nyonya, saya salah, saya akan mengembalikan semuanya"
"Tidak perlu, yang sudah keluar tidak perlu dimasukkan kembali, termasuk yang diberikan putraku, ambillah"
"Tapi... saya tidak mau meninggalkan Evan nyonya, saya mencintainya, meskipun anda tidak percaya sungguh saya mencintainya"
"Alasan. Kalau Evan tidak punya uang, kamu juga tidak mungkin mau sama Evan"
"Tapi bagaimana nyonya, saya mencintainya, bukan salah perasaan saya, mungkin Evan sudah kaya dan tampan dari lahir nyonya"
"Jadi maksudmu, kami yang salah?" Bella pun menggeleng, ia jadi serba salah.
"Tentu saja Evan tampan dari lahir, siapa dulu orangtuanya? " Tuan Sanjaya menyombongkan diri. "Dan masalah kaya salahkan saja nenek buyut yang membuat kami kaya tujuh turunan" sombong lagi nih papa.
__ADS_1
"Maaf Tuan, Nyonya saya tidak bermaksud begitu" ucap Bella merasa bersalah, ia jadi semakin gugup, tangannya berkeringat, ia tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Pa, Ma sudahlah kalian membuatnya ketakutan, kalian tidak lihat kakinya sudah gemetaran, lihat keningnya sudah berkeringat dingin" Tangannya terulur mengambil tissu kemudian mengelap keringat di kening Bella, sentuhannya membuat Bella menoleh kearahnya. Mata mereka saling menatap, dari tatapannya Bella ingin mengatakan. Tolong bawa aku pergi dari sini.