
"Masuk" Tanpa melihat siapa yang masuk, Evan menyuruh masuk seseorang yang sebelumnya mengetuk pintu.
Wanita yang berdiri di depan pintu segera membuka pintu setelah mendengar perintah masuk dari seseorang yang berada di dalam ruangan.
Melangkah pasti kearah suaminya yang sedang sibuk membolak - balik dokumen. Berdiri tepat dihadapan suaminya tanpa bersuara ia memandang suaminya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Melihat tidak ada pergerakan maupun suara dari seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya, Evan mendongak melihat kedepan.
Deg
Ia terkejut melihat wanitanya mendadak ada di hadapannya. Tatapan mereka bertemu, Bella dengan senyumnya sedangkan Evan dengan raut wajah terkejutnya.
"Hii... Sayang"
Evan mengernyitkan keningnya. Heran dengan perubahan istrinya. Ia hanya diam menunggu istrinya berbicara lagi. Ingin rasanya ia memeluk wanitanya tapi ia urungkan mengingat keadaan istrinya yang tengah hamil dan babynya tidak mau berdekatan dengannya.
"Sayang kau tidak merindukan istrimu ini" Ucap istrinya manja membuat Evan semakin bingung. "Lebih baik aku pergi saja" Bella hendak membalikkan tubuhnya, ia sedikit kecewa melihat respon suaminya yang biasa saja.
"Tunggu, apa ada sesuatu?"
"Aku hanya merindukanmu" hening. Evan menatap istrinya intens. Kemudian ia berjalan mendekati istrinya berhenti tepat dihadapannya. Menggerakkan tangannya membawanya ke wajah dan menyentuhnya lembut.
"Kau tidak mual lagi berdekatan denganku? "
"Sepertinya tidak"
"Benarkah?"
"Entahlah" jawab Bella. Evan mendekatkan wajahnya mengecup pipi Bella.
"Bagaimana?"
"Aku suka"tersenyum malu malu, seperti sepasang kekasih yang lagi kasmaran. malu malu meong.
Dengan gerakan cepat Evan menyambar bibir istrinya, ******* nya semakin lama ciuman itu semakin menuntut. Evan mendudukkan Bella diatas meja dengan posisi Evan di tengah kedua pahanya, kemudian mereka berciuman kembali dengan penuh gairah.
Nafas mereka memburu. " Ini di kantor"
"Ingin mencobanya?" tanya Evan penuh damba.
"Tidak, aku....?"
"Sayangnya kau tidak punya pilihan, aku menginginkanmu" Segera Evan menggendong istrinya membawanya ke kamar tempat ia istirahat jika lelah.
"Ada kamar? Apa banyak wanita yang sudah kau bawa kesini?"
"Hanya dua"
__ADS_1
"Dua? mantan kekasihmu?"
"Kau dan mama, ini dulu ruangan papa"
"Oh... jadi kau penerusnya, apa papa dulu juga sering melakukannya"
"Kenapa pikiranmu kemana - mana" Tanpa Bella sadari sekarang keadaanya sudah polos.
Akhirnya mereka melakukan hubungan suami istri di kantor tepatnya di ruangan rahasia, karena dari luar itu tidak nampak seperti sebuah kamar.
Hampir satu jam mereka melakukannya, Bella beristirahat disana karena ia merasa lelah. Evan segera bangkit dari ranjang karena ia harus melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan di luar ruangan. Dari tadi ia mengetuk pintu tapi tak kunjung ada jawaban. Riki mendengus. " Bos apa yang kau lakukan di dalam?" setelah menunggu cukup lama ia memutuskan untuk membuka pintu. memasukkan kepalanya sedikit, melihat ke arah meja. " Tidak ada" dibuka lebih lebar lagi kemudian memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam ruangan. Memperhatikan sekitar.
"Kenapa tidak ada, apa bos keluar tanpa sepengetahuan ku?" ucapnya lirih.
Ketika Riki hendak meninggalkan ruangan, Evan keluar dari ruangan rahasia.
Kenapa aku melupakan satu ruangan itu. Apa bos sakit?
"Bos, anda tidak apa- apa? "
"Memangnya apa yang kau harapkan? "
"Tidak ada bos"
"Anda ada rapat 10 menit lagi bos"
"Baiklah, siapkan semuanya"
Riki keluar dari ruangan setelah diperintahkan untuk keluar.
"Kenapa bos seperti selesai mandi? " lirih nya tapi masih mampu di dengar oleh sekertaris yang sedang duduk di mejanya.
"Tadi ada istri bos"
"Hah? "
"Dasar jomblo akut, begitu saja tidak tahu, mereka habis wik wik"
"Sok tahu, kau juga jomblo"
"Heh, aku sudah punya pacar" memperlihatkan cincin di jarinya. " Dia sudah melamar ku, selamat menjadi jomblo sendirian"
"Mungkin dia tidak sadar ketika melamarmu"
"Kau... " Riki berlalu pergi tak menghiraukan sekertaris resek bosnya. Mereka memang tidak pernah akur, selalu saling mengejek, tapi kalau diluar bertemu dengan client mereka sangat profesional, bahkan mereka sering disebut pasangan sekertaris dan asisten yang kompak.
__ADS_1
Waktu berlalu, tak terasa ini sudah sore, waktunya pulang kerja, Evan melihat istrinya yang masih setia diatas ranjang.
"Apa kau selelah itu? " gumam Evan. Menyentuh wajah istrinya perlahan, ia tidak tega untuk membangunkan istrinya, tapi belaian tangannya membuat wanitanya perlahan mmbuka mata.
"Sudah jam berapa? "
"Ini sudah waktunya pulang kerja, dan aku terlambat pulang karena istriku belum bangun"
"Ehhmmm... sepertinya aku masih ingin tidur, aku ngantuk sekali"
"Lanjutkan di rumah, ayo bangun bersihkan tubuhmu dulu"
"Ah... rasanya malas sekali, aku mandi dirumah saja"
"Kalau begitu, pakailah bajumu"
"Rasanya aku malas untuk bergerak"
Evan mengambil pakaian istrinya satu persatu, kemudian memakaikannya dengan telaten, sampai akhirnya pakaian itu melekat sempurna ditubuh istrinya, ia merasa panas dingin melihat tubuh polos istrinya, apalagi saat ia memakaikan kaca mata pada gunung kembarnya, si kecil sudah tegak, saat memegang underwear, ia semakin tak tahan ingin memasukkan senjatanya ke dalam surga istrinya.
Tapi melihat istrinya yang sangat lelah ia berusaha untuk menahan hasratnya. Ia mengambil tas istrinya kemudian ia kalung kan ke lehernya, ia menggendong istrinya untuk keluar dari ruangan sampai ke parkiran.
"Terima kasih sayang, aku suka, kau lembut sekali"
"Kau tahu rasanya aku ingin memakanmu kembali"
"Kau menahannya? "
"Hemmmmm.... "
Semakin mengeratkan tangannya ke leher suaminya. "Aku mencintaimu sayang, malam ini aku milikmu, sentuhlah aku semaumu" Bisik Bella ditelinga suaminya yang membuat langkahnya terhenti.
Evan melihat wajah istrinya yang bersemu merah. "Kau yang memintanya sayang, jangan menyesali ucapanmu" Bella tersenyum malu malu, ia juga tidak tahu bagaimana kata - kata mesum itu meluncur begitu saja.
*
*
Malam harinya, Evan melakukan aksinya, ia tidak membuang banyak waktu, setelah selesai makan malam, ia langsung membawa istrinya ke dalam kamar. Dan langsung menyerang istrinya, ia tetap melakukannya dengan lembut karena wanitanya dalam keadaan hamil, ia tidak mau terjadi apa- apa dengan anaknya jika ia melakukannya dengan kasar.
"Terima kasih sayang" bisiknya ke telinga Bella yang ia balas dengan senyuman.
Mereka tertidur pulas setelah melewati malam panjang. Keesokan harinya mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen. Meskipun sempat dilarang oleh mama mertuanya, karena mereka senang putra dan menantunya tinggal bersama mereka. Setelah memberi penjelasan dan berjanji untuk sering berkunjung mereka akhirnya memberikan ijin untuk kembali ke apartemen.
"Sering seringlah kemari, temani mama, kalau papa kerja mama sering kesepian" ucap mama penuh harap, masih ada sedikit harapan agar putra dan menantunya mau tinggal bersama lagi.
"Ya ma Bella akan sering kesini" ucap Bella sambil memeluk mama mertuanya. ia juga memeluk papa. "Mama papa jaga kesehatan ya"
__ADS_1
"Kau juga jaga bayi dalam kandunganmu" ucap papa sambil mengelus lembut rambut Bella, mereka sudah menganggap Bella seperti anak mereka sendiri.