
Pov Evan
Bau. Jangan mendekat. Aku mundur beberapa langkah. Menatap wanita yang aku cintai. Apa yang salah, kenapa dia berkata seperti itu, Apa karena aku memaksanya untuk selalu memakai lingeria. Tanpa mengucapkan sepatah kata Aku keluar dari kamar, aku tidak ingin membuat keadaan semakin tidak nyaman, tapi di saat terakhir hendak membuka pintu aku masih berharap, dia menghentikanku untuk keluar dari kamar, karena aku tidak ingin pisah kamar, tapi dia hanya diam, akhirnya aku keluar dengan perasaan dongkol.
Keesokan harinya, aku sudah rapi dengan pakaian kantorku. Aku melihatnya di atas ranjang, ia juga menatapku, ia Menghampiriku, mungkin ingin minta maaf, aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah, kau harus dihukum karena telah membuatku tidur dikamar lain tadi malam.
Pov End
Pov Bella
Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, tiba - tiba aku mual dengan aroma suamiku, aku menyuruhnya mandi lagi tapi tetap saja, aroma tubuhnya sungguh membuatku tidak nyaman, aku ingin muntah tapi tidak ada yang keluar dari mulutku. Aku melihatnya keluar dari kamar dengan menahan amarah, aku ingin menghentikannya tapi aku tidak bisa melakukannya, rasanya aku tidak mau berdekatan dengan suamiku.
Pagi ini, aku melihatnya sudah rapi dengan pakaian kantornya, suamiku sangat tampan, tubuh tegapnya membuatku traveling kemana mana, ah apa yang aku pikirkan, mesum sekali. Aku menghampirinya, aku ingin minta maaf, aku tahu dia marah. Tapi belum mengucapkan kata maaf, aroma tubuhnya tercium oleh hidungku, seketika aku langsung mual, apa yang membuat
indra penciuman ku ini sangat tajam.
Pov End
"Hoek.... hoek.... maaf... hoek... aku tidak bermaksud,, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, hoek.... "
"Apa kau sakit?"
"Tidak, aku hanya.... hanya tidak suka mencium aroma tubuhmu"
Duarrr...
Lagi lagi tubuhku bau
"Kau menyakiti hatiku" ucapnya sedikit kesal, berlalu pergi dari hadapan istrinya, harga dirinya jatuh di bilang bau terus, apalagi oleh wanita yang sangat ia puja.
"Hah!!! kenapa dia jadi sensi" gumam Bella sembari melihat kepergian suaminya.
*
*
Di perusahaan.
Pekerjaan yang harusnya selesai hari ini, malah tertunda karena menghadapi mood bosnya yang uring uringan, sedari pagi Evan marah marah tidak jelas, ada saja yang membuat amarahnya naik. Dan yang pasti orang terdekatnya yang menjadi sasaran, asisten setianya Riki.
"Bos hari ini setelah makan siang kita ada rapat dengan para pemilik saham" ucap Riki asistennya, meskipun tidak yakin untuk mengatakannya, ia tetap mengatakannya karena hasilnya sama saja, ia selalu salah.
"Batalkan" jawabnya singkat padat dan jelas.
"Tapi bos... " ucapannya terhenti saat melihat tatapan bosnya padanya. "Baiklah bos" Ia segera undur diri, jika terlalu lama diruangan bosnya akan mempengaruhi kesehatannya.
Dasar bos. pagi pagi sudah bad mood.
__ADS_1
*
*
Dikediaman keluarga Sanjaya
"Sayang, mama senang kamu mau mengunjungi mama" Bella tersenyum mendengar ucapan mama mertuanya. Ingin sekali dia memeluk mamanya.
"Emm... bolehkah Bella memeluk mama" menatap Bella, ada apa dengan menantunya ini batinnya.
"Tentu saja" mama memeluk Bella yang juga disambut Bella, rasanya hangat. Sudah lama ia tidak mendapatkan pelukan ini.
"Terima kasih ma, apakah Bella boleh menginap disini" mengelus rambut Belka lembut.
"Tentu saja boleh, ini juga rumahmu, mau tinggal di sini selamanya juga mama senang. Apakah suamimu tahu kamu kesini" Bella menggelengkan kepalanya. "Yasudah nanti mama yang akan mengabarinya" Bella mengangguk.
"Ehmmm... Bella lapar ma, bolehkah Bella makan masakan mama"
"Kamu ingin makan masakan mama?" tanya mama senang, sudah lama mama tidak masak untuk anaknya, Evan sudah jarang pulang.
"Apakah boleh?"
"Mama akan memasak untukmu, kamu mau makan apa? nanti mama akan memasaknya" tanya mama penuh semangat.
"Bella ingin makan udang crispy, otak otak bandeng, ayam goreng tepung, dan juga desert" ucap Bella tersenyum malu malu.
"Ya ma" berjalan menuju kamar yang biasanya ditempati suaminya. Merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tadi waktu di apartemen entah kenapa ia begitu merindukan pelukan seorang ibu, pulang kampung tidak mungkin untuk menemui bibinya, akhirnya ia memutuskan untuk menemui mama mertuanya. Sekalian ia juga ingin merasakan masakan mertua.
Di perusahaan
Mengambil ponselnya yang tengah berdering. tertulis nama mama disana. Tumben mama menghubungiku jam segini pikirnya.
"Assalamualaikum ma"
"Waalaikumsalam sayang, istrimu ada dirumah, apa terjadi sesuatu?"
"Bella kerumah mama?"
"Ya, kamu punya istri lain selain Bella? Dia akan menginap disini, mama mau memasak dulu" sambungan pun terputus, mama mematikannya secara sepihak.
"Bella dirumah mama, kenapa dia tidak mmberitahuku lebih dulu, ahh.. untuk apa dia kerumah mama, lebih baik aku kesana"
Seorang wanita menggerakkan tubuhnya, rasanya sangat nyaman, tidurnya sangat nyenyak. Membuka mata.
"Sudah jam berapa ya" melihat jam di ponselnya. "Ternyata aku tertidur cukup lama" beranjak dari atas kasur berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka agar terlihat lebih segar.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Nona Bella, nyonya menyuruh anda untuk turun" ucap salah satu pelayanan setelah Bella membuka pintu.
"Ya bi, Bella akan segera turun"
*
*
"Sayang kamu sudah bangun, duduklah " menganggukkan kepalanya sembari melihat makanan yang tersaji di meja makan, tidak hanya makanan yang ia minta tadi, tapi banyak berbagai macam makanan.
" Mama, banyak sekali makanannya?" melihat ke arah mamanya yang masih menata makanan dan minuman diatas meja, mamanya ingin melakukannya sendiri tanpa bantuan pelayan, karena ini pertama kalinya setelah sekian lama, entah kapan terakhir dia menyiapkan makanan sebanyak ini untuk keluarganya.
"Mama sedang ingin masak, sudah lama mama tidak masak sebanyak ini, ayo kita mulai makan, semoga Bella suka masakan mama" Bella mulai mengambil beberapa makanan dan meletakkan di piringnya.
"Ini enak sekali ma, ternyata mama jago masak"
"Siapa dulu dong, ayo ambil lagi, habisin juga boleh?"
"Ini terlalu banyak ma, Bella tidak bisa menghabiskannya" ucap Bella sambil mengunyah makanan di mulutnya
Tak
Tak
Tak
Terdengar suara langkah kaki dari arah pintu masuk, seketika Bella dan mama melihat ke arah pintu masuk, penasaran, suara sepatu Siapakah itu?
Evan
Dia tidak bekerja
"Sayang, kemarilah ayo kita makan siang bersama" sapa mama melihat kedatangan putranya. masih menatap istrinya Evan mendaratkan bokongnya dikursi dekat mamanya, ia tidak mau berdekatan dengan istrinya, ia tidak mau dipermalukan dihadapan mamanya. Sangat tidak lucu jika istrinya tiba - tiba bilang ia bau.
"Kamu tidak menyapa istrimu" mama menatap Evan yang juga menatapnya. "Jangan bilang kalian sedang bertengkar" mereka bertiga saling beetukar pandang. "Apa yang kau lakukan pada Bella?" tanyanya pada Evan dengan melotot.
"Evan tidak melakukan apa apa ma"
"Bella, apa dia menyakitimu lagi?"
"Tid ... tidak ma, hanya saja ... Bella.... merasa mual bila berdekatan dengan Evan ma" jawabnya ragu.
" Mual?"
__ADS_1