Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 62


__ADS_3

"Mual??" mama terkejut mendengar ucapan menantunya. "Kamu hamil? mama akan punya cucu?" mama terlihat girang.


"Hamil?" Ucap Evan dan Bella bersamaan.


"Ya, itu tanda tanda kehamilan, bukankah kamu mual jika berdekatan dengan Evan, sepertinya cucu mama tidak menyukai ayahnya" melirik ke arah Evan.


"Cucu?? Apakah menantu kita hamil?" tanya papa yang tiba tiba datang, kemudian berdiri disebelah mama.


"Ya pa, kita akan punya cucu" kata mama sambil memeluk papa.


"Sayang,, disini ada buah hati kita" Evan menghampiri Bella duduk disebelahnya sembari mengelus perut Bella yang masih datar.


"Hoek.... hoek.... hoek... " Bella menutup mulutnya, ia merasa bersalah pada suaminya, tapi sungguh dia tidak ada maksud untuk seperti itu. " Maaf"


"Tidak usah meminta maaf, itu artinya bayinya dendam sama ayahnya karena pernah menyakiti hati ibunya" ucap mama sambil melihat ke arah Evan. kemudian menariknya agar menjauh dari Bella. " Besok mama akan mengantarnya ke dokter"


"Tapi Evan juga ingin mengantarnya ma, ini calon anak Evan"


"Dia cucu mama"


"Ck... " Evan berdecak, tidak akan menang dia melawan wanita yang telah melahirkannya.


"Lagian apa kamu tidak kasian pada istrimu, yang selalu mual jika berdekatan denganmu" Evan terdiam, ia tidak memikirkan keadaan istrinya, dan dia juga sempat marah karena kelakuan Bella.


"Sayang, maaf, aku tidak tahu kalau benihku sudah mulai tumbuh" menatap Bella sendu, meminta maaf dengan tulus. "Baiklah, untuk sementara daddy tidak akan mengganggumu boy"


"Boy... boy... jenis kelaminnya belum ketemu" ucap mama ketus. Evan nyengir kuda mendengar ucapan mamanya.


Mama sangat antusias sekali dengan kehamilan Bella, meskipun belum ke dokter kandungan, tapi mama yakin kalau Bella sedang hamil. Setelah selesai makan mereka pindah ke ruang keluarga sambil menikmati desert yang sudah dibuat mama.


"Sudahlah, jangan sedih seperti orang tidak punya uang saja" ucap papa menggoda Evan, karena Evan terlihat sedih di saat ada kabar gembira seperti ini, ia bahagia akan segera menjadi ayah tapi dia juga sedih tidak bisa berdekatan dengan istri dan calon bayi dalam kandungan istrinya.


"Apa dulu sewaktu mama hamil, papa juga.... "


"Tentu, tapi bukan tidak mau berdekatan tapi mamamu tidak bisa jauh dari papa, nempel terus, bahkan ke kamar mandi mamamu ikut" ucap papa sembari tersenyum mengingat kelakuan aneh istrinya sewaktu hamil Evan, tapi ada yang papa tidak ceritakan kalau mamanya pernah menyuruh papa memakai ****** ********, mengingat itu papa jadi merinding. Bisa jatuh harga dirinya kalau Evan tahu.


Huft. Menghela nafas panjang. Bagaimana kalau merindukanmu, bagaimana kalau aku ingin itu pikir Evan.


*


*

__ADS_1


Keesokan harinya.


Hari ini mama yang akan mengantar Bella ke rumah sakit untuk mengunjungi dokter kandungan,semoga semua nya baik baik saja. Setelah sarapan pagi mereka berangkat kerumah sakit diantar sopir.


Papa dan suaminya sudah berangkat ke kantor, meskipun tadi sempat berdebat karena Evan yang bersikukuh untuk ikut dan akhirnya ia mengalah dengan syarat ia mendapat kiriman video saat pemeriksaan nantinya.


"Ma, bagaimana kalau Bella belum hamil, mama pasti akan kecewa"


"Percayalah pada mama, mama yakin kamu hamil, meskipun nantinya hasilnya negatif itu artinya Allah punya rencana lain, berpikirlah yang positif" ucap mama memberi semangat pada Bella.


Setelah mengantri di depan poli kandungan, akhirnya tiba giliran Bella. Namanya dipanggil oleh seorang perawat yang bertugas, dengan langkah pasti ia dan mama mertuanya melangkah masuk ke dalam ruangan dokter.


Sampai diruangan Bella disuruh suster untuk naik ke atas ranjang pemeriksaan, karena akan segera dilakukan USG.


"Maaf ya mbak, saya periksa dulu" ucap dokter sebelum meletakkan alat usg ke perut Bella. Sambil memperhatikan layar, dan tangan dokter itu bergerak lincah di atas perut Bella


"Apa saya hamil dok?"


"Apa anda belum tahu keberadaan janin di perut anda?" Bella menggeleng setelah mendengar pertanyaan dokter yang memeriksanya. "Usia kandungan anda sudah sekitar lima minggu, kandungannya sehat, saya akan meresepkan vitamin, apa ada keluhan mbak, mungkin ada yang terasa sakit"


"Tidak ada dok" kemudian Bella turun dari ranjang melangkah ke meja dokter bersama mama yang dari tadi memegang ponselnya melakukan video call.


"Biasanya untuk awal awal kehamilan, ibu akan sering mual, muntah pusing, tapi tidak semua ibu hamil seperti itu"


"Ya itu juga sering terjadi"


"Sampai kapan dok kira kira akan seperti itu" tanya mama yang dari tadi diam karena sibuk memegang ponsel, dan akhirnya mematikannya, putranya terlalu banyak permintaan. Ia kasian juga melihat putranya.


"Biasanya hanya beberapa minggu bu, tidak akan lama" jawab dokter.


"Syukurlah,, Terima kasih dok" kemudian mereka keluar dari ruangan dokter, karena yang mengantri masih banyak. Sebenarnya tadi mama ingin mengajak ke rumah sakit yang lebih besar, tapi Bella menolak, dia tidak ingin terlalu menghamburkan uang, meskipun suaminya sangat kaya raya, ia tahu bahkan membeli rumah sakit saja suaminya mampu, atau mungkin memang sudah punya, Bella hanya ingin hidup sederhana tanpa perbedaan kasta.


"Kali ini mama mengalah tapi kalau terjadi apa - apa kamu harus menuruti perintah mama" ucap mama tadi sebelum berangkat ke rumah sakit.


Bella masih tidak percaya sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu, dia sangat bahagia. mama juga tidak kalah bahagia, ia langsung mengabari suaminya berita bahagia ini.


Di perusahaan


Evan sedang menerima panggilan video dari mamanya, sesuai syarat yang telah ia berikan, ia ingin tahu keadaan istrinya.


Wanitanya naik ke atas ranjang sebelum dokter memeriksanya, ia terharu melihat janin yang ditunjuk oleh dokter, meskipun masih berbentuk bulat, hatinya berdebar sebentar lagi akan menjadi orang tua, berkali - kali ia mengucapkan syukur.

__ADS_1


Ia segera menghubungi asistennya agar segera ke ruangannya.


"Masuk" setelah pintu diketuk dari luar, Riki asistennya pun memasuki ruangan.


"Apa yang harus saya lakukan bos?"


"Kirim banyak makanan ke panti asuhan dan juga ke pondok pesantren, aku ingin berbagi kebahagiaan karena kehamilan istriku, aku ingin banyak yang mendoakan istri dan calon anakku"


"Nyonya hamil bos"


"Ya istriku hamil, semoga kau juga akan segera merasakan kebahagiaan sepertiku"


"Hah?? "


Saya belum menikah bos, jangan sampai saya menghamili anak orang dosa bos, saya tolak do'anya bos.


"Pergilah"


"Baik bos" Riki segera keluar dari ruangan setelah mendapatkan perintah dari bosnya, ia segera memesan banyak makanan untuk dikirim ke panti asuhan dan juga ke pondok pesantren, dia memesan dari restoran yang berbeda agar lebih cepat. Asisten yang selalu bisa diandalkan.


Tut tut tut.


"Assalamualaikum sayang"


"Waalaikumsalam, aku mencintaimu"


"Aku juga mencintaimu, sangat"


"Terima kasih sudah memberiku hadiah yang tak ternilai"


"Kita membuatnya bersama sayang" ucap Bella yang membuat Evan terkekeh di seberang sana.


"Haruskah kita membuatnya lagi sekarang"


"Ah.... mesum... "


"Istriku tertular mesum" hahahahah mereka tertawa bersama.


"Sayang, maaf ya aku belum bisa berdekatan denganmu, itu mau bayinya bukan mauku, sungguh"


"Tidak perlu minta maaf, aku yang salah, aku akan sabar menunggunya, aku merindukanmu istriku"

__ADS_1


"Aku juga merindukanmu suamiku"


__ADS_2