
Mentari pagi siap untuk menyapa seluruh makhluk di bumi. Sebagai tanda akan dimulai kembali semua aktifitas. Tapi di dalam sebuah kamar, tidak ada pergerakan sedikit pun, mereka masih bergumul di dalam selimut. Jangan ditanya bagaimana keadaan mereka, mereka masih sama sama polos dibawah selimut.
Setelah sampai di kamar, tiba tiba Evan menyerang Bella tanpa memberi kesempatan Bella untuk berbicara. Janji hanyalah tinggal janji, nyatanya malam itu Bella tidaklah bebas. Mereka memadu kasih, berkali kali Evan menyerangnya, setelah puas ia merebahkan tubuhnya disebelah Bella, mengecup keningnya sejenak, hingga terlelap dengan saling berpelukan.
Sinar mentari yang masuk ke sela - sela jendela tidak mampu untuk membangunkan mereka, hampir tengah hari baru mereka terbangun.
Bella menggerakkan tubuhnya, pertama kali
membuka mata wajah tampan sang suami menghiasi pandangannya. Ia tersenyum lembut, ia hampir tak percaya suami dinginnya bisa seliar itu di ranjang. Bella merasa malu sendiri dengan apa yang ia lakukan, mengingat semalam bukan hanya suaminya yang liar, ia juga ikutan liar di atas ranjang.
Perlahan Evan membuka matanya.
"Sayang, kau sudah bangun?"
"Ehmm.. aku lapar"
"Mandilah dulu, aku akan siapkan sarapan untuk kita"
"Bukan pagi lagi, ini sudah jam sebelas siang"
"Ehmm... sepertinya kita terlalu lama tidur" mengerlingkan satu matanya ke arah Bella, Evan berdiri dari atas ranjang, dengan polos berjalan kearah kamar mandi. Bella menutup kedua matanya. Suaminya itu benar benar sudah tidak punya rasa malu.
"Kenapa harus malu, buka saja. bukankah kau sudah melihat semuanya"
"Kau menyebalkan, cepatlah bersihkan dirimu dulu"
"Baiklah sayang... "
Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian dengan baju santai, Evan menuju dapur untuk membuat sarapan plus makan siang untuk mereka. Bella membersihkan diri setelah Evan. Setengah jam kemudian makanan sudah tersaji diatas meja, Bella yang sudah berada di meja makan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut, ia sudah tak sabar, perutnya sudah keoncongan dari tadi, ia harus makan banyak karena tenaganya sudah terkuras habis.
"Sayang kau ingin jalan jalan setelah ini?" tanya Evan setelah menghabiskan makan siangnya.
"Tidak, aku lelah, aku ingin istirahat suamiku, nanti sore saja jalan - jalannya"
"Baiklah, sesuai keinginanmu"
Mereka menghabiskan waktu di bali selama empat hari, rencananya seminggu disana tapi karena ada pekerjaan yang mendesak, akhirnya mereka harus kembali. Hari dimana mereka kembali, Evan langsung ke kantor, karena tidak mau sendirian di apartemen Bella juga mengikuti Evan ke kantor, ia ingin bertemu Risa. Selama menikah Bella belum mengunjungi Risa dikantor suaminya. Sekalian ingin memberikan oleh -oleh.Dan disinilah mereka berada. Diruangan Evan.
Risa memasuki ruangan Evan setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan untuk masuk.
"Ada apa tuan memanggil saya?" tanya Risa yang belum menyadari keberadaan Bella yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
"Istriku ingin menemuimu" Risa mengalihkan tatapannya pada wanita yang baru saja cekikikan.
"Kau menggunakan kekuasaan suamimu?" ucap Risa menatap Bella
"Tidak, aku hanya tidak ingin membuatmu tidak nyaman jika aku mengunjungi ruanganmu"
"Ada yang bisa aku bantu nyonya?"
"Kau sangat menggelikan, kemarilah duduk bersamaku" Risa berjalan menghampiri Bella.
"Baiklah nyonya?"
"Apa kau ingin kubunuh. Jangan memanggilku nyonya"
"Baiklah bu bos"
"Ah... kau ini. panggil aku seperti biasanya saja, jangan membuatku marah"
"Lalu aku harus memanggilmu apa? aku tidak mau dipecat karena tidak menghormatimu?"
"Tidak akan ada yang memecatmu" melirik ke arah Evan yang juga melihatnya.
"Suamimu sangat dingin" bisik Risa yang masih mampu di dengar oleh Evan.
"Kau sudah bucin akut. Cepat mana oleh olehku, aku harus bekerja"
"Kau tahu aku ke Bali?"
"Tentu saja bahkan kau menjadi trending topik, mematahkan hati semua wanita. Mereka kecewa mengetahui bos mereka bulan madu ke Bali. kau bisa membayangkan bagaimana wajahmereka hahahah" ucap Risa sambil tertawa.
"Apa aku sehebat itu?"
"Sangat" mengacungkan kedua jempolnya.
"Ayo kita kerumah Citra, aku kangen"
"Kau ingin aku dipecat, ini masih jam kerja"
"Aku yang akan meminta ijin, bolehkah sayang" Bella bertanya pada Evan, ia ingin meminjam Risa sebentar. Belum Evan menjawab, Risa menjawab ucapan Bella
"Aku tidak mau, pekerjaanku banyak, meskipun suamimu mengijinkan tapi itu tidak mengurangi beban pekerjaanku, kecuali kalau kau mau menggantikanku?" sengaja menggoda Bella.
__ADS_1
"Aku akan merayu suamiku agar kau dapat bonus dan naik jabatan, gimana?" bisik Bella dan tentu saja masih bisa di dengar oleh Evan, karena bisikannya keras.
"Deal" Risa langsung setuju. Wah bakal cepat kaya nih lanjutnya dalam hati.
"Kau semangat sekali?"
"Ya dong, lumayan buat modal nikah ntar, Aku bukan nyonya bos, so aku harus cari uang yang banyak, buat modal nikah"
"Matre... "
"Biarin, punya sahabat kaya akan sangat rugi jika tidak dimanfaatkan" mereka terbahak bersama.
Bella menghubungi Citra, berulang kali dihubungi tak kunjung terangkat.
"Belum terhubung, sepertinya dia sibuk, maklum masih pengantin baru?"
"Lain kali saja kita kumpulnya kalau begitu" akhirnya mereka memutuskan untuk mengobrol disana saja.
"Kau tak ingin menikah?" tanya Bella yang belum tahu bagaimana kelanjutan hubungannya dengan kekasihnya.
"Ini nih mentang - mentang udah nikah, pertanyaannya kapan nikah? Tentu saja aku akan menikah, tapi menikah dengan siapa, kisah percintaanku tidak pernah mulus" ucap Risa sendu, bersamaan dengan itu, muncul dua laki - laki dari arah pintu, tanpa mengetuk pintu mereka nyelonong aja masuk. Mereka masih bisa mendengar ucapan Risa.
"Wah sepertinya kami datang tepat waktu, kau tidak lupa kan membelikan kami oleh - oleh?" tanya Tomi pada Evan. Ya yang masuk tanpa permisi tadi adalah Tomi dan Andre. Evan mengedikkan bahunya kemudian melanjutkan pekerjaannya. Mereka ikut bergabung duduk di sofa bersama Bella dan Risa.
"Ini untuk kalian, tentu kami tidak akan melupakan kalian, yang hampir bujang lapuk"
"Kau mengejek kami, wah istrimu benar - benar ingin diculik" ucap Tomi sambil menatap Evan. Dia pun terenyum mendengar sindiran istrinya. meskipun sedang bekerja tapi dia juga menyimak obrolan istrinya. Sedangkan Andre hanya diam saja dengan pikiran yang entah apa. Tomi dan Andre duduk didepan Bella, mereka berhadapan. Andre melirik Risa, tapi Risa bersikap biasa saja, malah Andre yang terlihat gelisah.
"Ini untuk kalian, kami tidak akan melupakan kalian,, semoga kalian juga cepat menikah, aku bosan melihat kalian kemana - mana selalu berdua" ucap Bella menyindir kembali.
"Bell, kau sombong sekali, gini nih hasil dari bulan madu, mulutmu tak terkontrol"
"Bukan begitu, aku hanya ingin kalian merasakan kebahagiaan seperti yang kami rasakan, ternyata menikah itu enak, ya kan sayang" melihat ke arah Evan.
"Hemmm"
"Apa enaknya?" tanya Tomi.
"Makanya cepat menikah agar tahu apa enaknya, karena jika dijelaskan kalian tak akan paham, dan itu pun tidak bisa dijelaskan dengan kata - kata"
"Aku kok jadi penasaran, apa iya aku harus menikah, tapi aku masih ingin bebas" ucap Tomi sambil menatap Andre yang dari tadi hanya diam saja.
__ADS_1
"Aku do'akan semoga kalian menemukan wanita yang hebat, dan membuat kalian bucin, sampai kalian lupa dengan arti kebebasan"
"Do'amu diterima" sambung Risa yang daritadi memperhatikan obrolan sahabatnya.