
Bella berdiri di depan meja rias. Melihat penampilannya yang menurutnya terlihat cantik. Sebenarnya Bella gadis yang cantik, hanya saja ia cuek dengan penampilannya, ia gadis yang ceria, penuh semangat dan selalu berpikir positif. Kadang tingkah lakunya penuh dengan kejutan, meskipun begitu ia gadis penyayang, ia menyayangi keluarganya, sahabatnya yang pasti juga orang tuanya meskipun mereka berdua sudah meninggalkan Bella dari dunia ini, tapi ia tetap semangat dalam menjalani hidup.
Bella menghampiri Evan yang duduk di sofa.
"ayo" ajak Bella berdiri di sebelah Evan. Evan menatapnya sambil tersenyum kemudian berdiri sambil melingkarkan tangannya di pinggang Bella.
Hah, kalau sudah kaku dari orok susah ya buat dapat pujian,
"Kamu tidak mau mengatakan sesuatu" tanya Bella agak kesal,
"Ayo kita sarapan" Bella tambah kesal mendengarnya. padahal ia ingin penampilannya di puji.
"Cantik" bisik Evan di telinga Bella. Membuat yang mendengarnya seketika menoleh.
Dia memuji ku, wau ternyata pujian orang dingin beda ya, dia mengucapkannya tanpa ekspresi.
"Terima kasih, kau juga tampan meskipun kurang tersenyum"
"Kau memuji ku atau mengejekku" Bella tertawa sambil melingkarkan tangannya ke tangan Eva
Mereka memutuskan untuk sarapan di restoran apartemen. Setelah sarapan mereka berencana untuk jalan jalan. Evan mengendarai mobil mewahnya.
" Wah... nyaman sekali tempat duduknya, beda sama angkutan umum" Alhamdulillah bisa naik mobil mewah meskipun punya orang, ini rezeki darimu Ya Allah lanjutnya dalam hati.
Mobil pun melaju membelah jalanan. Di dalam mobil hanya Bella yang berceloteh kesana kemari, Evan hanya melihatnya kadang hanya hem hem.
"Sampai detik ini rasanya aku belum percaya kalau aku kekasihmu, kita pacaran. Kau tahu aku seperti Cinderella, atau jangan jangan aku masuk ke dunia novel setelah tertidur? " Bella memeluk tubuhnya.
"Auuuuuuwww... " Evan mencubit pipi Bella. "sakit"
"Kau di dunia nyata"
"Tapi ini bagaikan mimpi,, kalau mau kemana kemana tidak usah mikirin ongkos, kita sekarang mau kemana langsung dah berangkat, naik mobil mewah pula. Biasanya kalau aku mau jalan jalan, masih mikirin ongkos, makan, untuk bayar tiket tiket permainan, untuk oleh oleh, semua dipikirin, yach harus nabung dulu kalau mau jalan jalan. Kalau makan diluar pun nunggu gajian, atau ditraktir teman. Bukannya tidak punya uang hanya saja aku tidak ingin menggunakan uang kiriman paman seenaknya"
__ADS_1
"Aku hanya orang biasa, tapi bisa pacaran denganmu, bukankah itu luar biasa. Apalagi kalau nanti orang lain tahu kalau kita pacaran pasti akan banyak komentar negatif" lanjut Bella
"Komentar seperti apa? " Bella terlihat berpikir.
"Mungkin akan lebih banyak negatifnya ketimbang positifnya, itupun kalau ada positifnya" Bella tersenyum. " Mereka akan bilang aku menggodamu dengan tubuhku, aku matre, aku gila harta, aku hanya ingin uangmu, aku tak pantas untukmu, aku si miskin yang mendambakan laki laki kaya, aku... pokoknya begitu dah. Pasti mereka akan menjelekkanku dan menghinaku" jawab Bella.
"Lalu mereka bilang aku apa? " Bella menoleh menghadap Evan.
"Positif pastinya, bahkan tak akan ada negatifnya. Lagian mereka mau komentar negatif apa, kau nyaris sempurna, dambaan semua wanita, wanita sekampus bahkan ingin jadi pacarmu" Evan hanya melihatnya sekilas kemudian fokus menyetir lagi.
"Jika ada orang yang berkomentar negatif, kau jangan terlalu memikirkannya, biarlah mereka mau bicara apa" Lanjut Bella sambil tersenyum.
Bukankah seharusnya aku yang bilang seperti itu, bukankah tadi dia bilang komentar negatifnya tentang dirinya. Kenapa jadi dia yang menenangkanku.
Setengah jam kemudian mobil pun berhenti, suara ombak mulai terdengar, harumnya air laut menyeruak di indra penciuman.
"Turunlah" Bella pun mengangguk.
"Kemarilah" Bella mengulurkan tangannya ke depan berharap laki laki di depannya menerima uluran tangannya. Tangannya pun bersambut, mereka pun melangkah mengelilingi tepi pantai sambil bergandengan tangan, sesekali melempar senyum dan saling memandang.
"Kau menyukaiku? " tanya Evan.
"Tidak" jawab Bella membuat Evan menghentikan langkahnya dan menatap Bella. "Tapi aku mencintaimu" lanjut Bella sambil tersenyum manis.
"Kenapa? "
"Karena kau kaya"
"Bagaimana kalau aku miskin apa kau akan tetap mencintaiku? "
"Tentu saja, aku akan tetap mencintaimu"
"Berarti kau mencintaiku bukan karena aku kaya? " tanya Evan lagi.
__ADS_1
"ehmmm...karena kau tampan"
"Bagaimana kalau aku berubah jelek? "
"Aku tetap mencintaimu"
"Lalu apa alasanmu mencintaiku? "Bella berhenti melangkah kemudian memegang kedua tangan Evan. sekarang posisi mereka saling berhadapan, pandangan mata mereka saling mengunci.
" Aku tidak punya alasan kusus untuk mencintaimu, aku menyukaimu begitu saja, jantungku berdebar saat pertama kali bertemu bahkan berdekatan denganmu. Kau tahu saat pertama kali aku melihatmu diruangan dekan, kau terlihat bercahaya, seakan akan kau dikelilingi oleh cahaya, waktu itu aku belum melihat wajahmu dengan jelas tapi aku sudah terpesona, entah kenapa aku merasa kau jodohku. Tapi setelah pertemuan kedua, aku terkejut ternyata kau begitu tampan, kenapa kau sangat tampan hem?" sambil membelai wajah tampan Evan. Dan Evan bersemu merah dengan ucapan Bella.
"Kau malu, wajahmu merah, iya wajahmu merah hayoo... " Bella menoel pipi Evan. Bella pun tertawa.
"Tapi saat aku tahu kalau kau termasuk dalam deretan cowok kaya raya. Aku minder, aku ingin berhenti untuk menyukaimu, tapi pesonamu sungguh memikat membuatku tak bisa berpaling. Dan setelah beberapa tahun, tepatnya sekarang aku bisa dekat denganmu. Ini sungguh takdir yang indah. Dan aku berharap ini akan berlangsung lama, apapun nantinya akhir dari hubungan kita, aku berharap hubungan kita tetap baik meskipun kita tidak bersama lagi. "
Tak sedikitpun Evan mengalihkan tatapannya, ia menatap Bella penuh kasih. mempererat genggaman tangannya, menariknya keatas kemudian mengecupnya mesra.
"Kau tahu, kau sedikit menarik perhatianku, aku sering melihatmu marah marah pada sepeda bututmu itu, bahkan kau pernah menghina mobil mewahku, sungguh mobil yang malang" ucap Evan.
"Kau mendengarnya? " pekik Bella. Evan mengangguk.
"Bahkan kau bilang akan berselingkuh dengan mobilku jika sepeda bututmu itu mogok lagi" jawab Evan mengingat kelakuan ajaib Bella. lucu sekali batinnya. Sejak kejadian itu Evan sering memperhatikan Bella sehingga ia tahu kalau Bella menaruh hati padanya.
"Ah... memalukan" menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Evan tertawa melihat tingkah kekasihnya. Evan menarik salah satu tangan Bella kemudian menariknya sambil berlari. Mereka berlari mengelilingi tepi pantai dengan tertawa lepas. Serasa dunia milik berdua.
"Apakah lebih baik, apa kau tak merasa malu lagi" tanya Evan.
"Ya... tapi... " tersenyum licik. "Aku belum puas.. " Bella mencubit pinggang Evan bertubi tubi.
"Ah.. kau kasar sekali" sambil menahan kedua tangan Bella. ia menggenggam tangan Bella erat agar tak mencubit nya lagi... tatapan mereka bertemu...
" Sepertinya aku sudah jatuh hati padamu. mungkin ini terlalu cepat, aku juga tidak percaya bagaimana bisa secepat ini, tapi.... aku mencintaimu Aisyah Bella" Bella bahagia mendengarnya dan mereka berpelukan.
Mohon jempolnya untuk tekan LIKE and komen ya guys...
__ADS_1