Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 46


__ADS_3

Mati aku. Aku ketahuan masuk rumah orang tanpa permisi. Berbalik terus berlari kencang atau meminta maaf dengan wajah seimut mungkin. Bella


Mereka saling menatap. Evan berhenti tepat di depan Bella.


"Kau datang?" tanya Evan tanpa mengalihkan tatapannya.


"A... ak... ak.. aku " ucap Bella gugup.


"Duduklah" menarik tangan Bella untuk duduk di sofa, mereka duduk bersebelahan.


"Ma.. maaf, aku masuk tanpa ijin darimu"


"Aku selalu memberimu ijin, kalau kau mau tinggallah disini"


"Ehmmm.... Terima kasih, aku hanya ingin mengambil ijazah, aku lupa membawanya waktu pergi dari sini"


"Hemmm... kau akan melamar pekerjaan?"


"Iya"


"Dimana?"


"Belum tahu, tapi mungkin ditempat Risa"


"Kau bisa melamar pekerjaan di perusahaanku"


Mana mungkin aku bekerja di tempat yang sama denganmu. Aku ini ingin menghindarimu.


"Terima kasih tawarannya. Aku akan mengambil ijazah dulu" berjalan ke kamar kemudian mengambil ijazah.


Tidak ada yang berubah di kamar ini. barang-barangku masih memenuhi tempat ini.


Setelah mendapatkan ijazahnya, ia berjalan keluar menghampiri Evan yang masih duduk di sofa.


"A.. aku pergi" berjalan kearah pintu.


Sebelum Bella membuka pintu Evan membuka suaranya. "Bisakah kita kembali lagi, beri aku kesempatan, maafkan aku"


Bella berbalik sembari tersenyum lembut.


"Aku sudah memafkanmu, mungkin kita bisa berteman" jawab Bella.


"Kau belum bisa memaafkanku" Evan tersenyum. "Aku tidak mau kita berteman"


"Aku tidak punya hubungan lain untuk kutawarkan padamu, untuk kedepannya mari kita hidup dengan baik, lupakanlah masa lalu"

__ADS_1


Evan berdiri, berjalan menghampiri Bella kemudian berhenti di depannya.


"Maafkan aku" Bella mengangguk, karena dia tak ingin ada dendam kedepannya. " Dan maafkan aku untuk yang ini" Bella mengernyitkan keningnya. Apa maksud Evan pikirnya. Sedetik kemudian Evan mengangkatnya seperti karung beras.


"Ap... apa yang kau lakukan?"


"Aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya, aku tidak punya cara lain lagi" berjalan kearah kamar, membuka pintu kemudian menutupnya kembali setelah mereka masuk. Evan melemparkan Bella ke atas ranjang. "Aku tidak mau berpisah denganmu, hanya cara ini yang bisa membuatmu berada di sisiku" menatap tajam Bella.


"Ap... a.. apa maksudmu?" ucap Bella gugup. Ia benar benar ketakutan. Baru kali ini ia melihat sisi Evan yang begitu mengerikan di matanya.


"Bercinta" jawabnya tenang. Evan mulai membuka bajunya sampai bertelanjang dada. Ia naik ke atas kasur mendekati Bella.


"Jangan, jangan lakukan itu" Evan menarik tangan Bella sambil menarik kemeja yang ia kenakan, kancingnya berhamburan kemana mana, satu tarikan baju itu terlepas menyisakan dalaman yang begitu menggoda iman Evan. Evan mengikis jarak diantara mereka, ia mendekatkan bibirnya ke bibir Bella, Bella memalingkan wajahnya membuat Evan semakin ingin memilikinya.


"Kau menolakku, aku tidak peduli" Ia mengungkung Bella dibawah kendalinya, Bella berusaha memberontak Tapi ia kalah tenaga.


Bagaimana ini, aku tidak mau menyerahkannya kepada laki laki yang bukan suamiku, meskipun aku mencintainya. Apa yang harus aku lakukan, aku harus memohon ya memohon.


"Aku mohon, jangan lakukan itu" Evan semakin brutal, ia melepaskan celana yang dipakai Bella, dan ia juga melepaskan celananya yang hanya menyisakan boxer.


"Menurutlah" pinta Evan sendu, sepertinya ia terbawa suasana.


"Tidak, aku mohon jangan.... jangan.... "Bella menitikkan air mata. Sepertinya Evan tidak main main, dia benar benar akan melakukan itu. Evan mulai mencium leher jenjangnya, tubuhnya berdesir, pertahanannya lemah, ia lemas, tenaganya habis. " Aku mohon jangan lakukakan itu, aku... aku akan mebencimu selamanya " ancam Bella di tengah isakannya.


"Aku tidak peduli, bencilah aku semaumu" Jawab Evan sembari melepaskan penghalang di depannya. Saat ini Bella semakin ketakutan.


Aku tidak punya pilihan lain, aku tidak mau melakukan dosa terkutuk ini, meskipun aku dipaksa, bukankah ini yang dia inginkan.


"Nikahi aku!! "


Akhirnya keluar juga, kalau saja terlambat mungkin aku ahhhh.


"Kau mau menipuku, dan kabur dari sini"


"Tidak, ayo kita menikah"


Aku harus mengambil hatinya, agar dia berhenti melakukan ini, setelah itu akun akan pikirkan nanti bagaimana menggagalkan pernikahan ini.


"Kau janji"


"Ya, aku berjanji"


"Baiklah, aku mempercayaimu, ayo kita menikah sekarang juga" Evan menyelimuti tubuh Bella.


"Sekarang? Apa? Aku harus memberitahu keluargaku dulu"

__ADS_1


"Dan kau akan kabur"


Bagaimana dia bisa membaca pikiranku.


"Tidak, bukankah aku sudah berjanji"


"Maka, tepati janjimu! "


"Pakailah ini dulu, di kamarku tidak ada bajumu, dan keluarlah"


Setelah 30 menit, Bella keluar dari kamar Evan dengan memakai celananya sendiri dan kemeja putih Milik Evan yang terlihat kebesaran.


Deg


Apa ini???


Bella terkejut, didepannya ada keluarganya dan keluarga Evan, dan sepertinya juga ada penghulu.


"Apa - apaan ini, kalian menipuku? kalian bekerja sama? Aku seperti orang bodoh" matanya berkaca kaca, sekali berkedip mungkin air mata itu akan jatuh lagi. Evan menatapnya sendu, ada rasa bersalah dimatanya tapi ia terpaksa tidak ada cara lain. Bibi menghampiri Bella kemudian memeluknya.


"Bibi sudah tahu semuanya, terimalah kenyataan, berdamailah dengan keadaan, mungkin dia takdirmu, bukankah kau sudah berjanji untuk menikah dengannya, jangan ingkari janjimu, aku yakin kau akan bahagia" ucap bibi menenangkan Bella, ia dapat melihat kekecewaan di mata Bella.


"Tapi bi.... "


"Bibi yakin dia yang terbaik untukmu atas ridho Allah, menikahlah dengannya sayang" Bella menatap Evan, kemudian menatap bibi,, ia menganggukkan kepalanya.


Pernikahan dadakan pun terjadi.


"Tunggu pengantin wanitanya harus dirias dulu" tahan mama Bella karena ijab qobul akan segera dilaksanakan.


"Tidak usah ma, sebelum Bella berubah pikiran, nanti malah gagal nikah ma"


"Ihh... kau itu" pernikahanpun berlanjut.


SAH


Kata yang membuat hati lega, bahagia, semua rasa bercampur jadi satu. Evan terlihat sangat bahagia akhirnya wanita pujaan hatinya saat ini sudah menjadi istrinya. Bella mencium tangan Evan setelah mendapat instruksi dari bibi kemudian Evan mencium keningnya dan memeluknya erat.


"Terima kasih sayang" bisiknya ditelinga Bella.


"Sudah, jangan main peluk peluk" paman melepaskan pelukan mereka. "Tahan dulu masih ada pak penghulu" mereka semua tertawa melihat kelakuan Evan. Acara pun selesai, penghulu sudah kembali, sekarang hanya tinggal keluarga inti dan juga asisten Riki.


"Sayang, bagi paman kau adalah putri paman, semoga kau selalu bahagia" ucapnya pada Bella.


"Bella akan bahagia" ucap Bella yang sesungguhnya masih bingung dengan apa yang terjadi, tapi ia tidak mungkin mengatakan kegundahan hatinya kepada paman. Dia ingin membahagiakan laki laki paruh baya didepannya hanya dengan kata-kata sederhana.

__ADS_1


"Jaga putri paman, jaga dia baik baik, jangan pernah mengecewakannya lagi, bahagiakan dia, cintai dia sepenuh hatimu, jika suatu saat kau merasa bosan jangan sakiti dia, kembalikan Bella pada paman, tapi paman tetap berharap itu tidak akan pernah terjadi"


"Terima kasih sudah mengijinkan saya menikahi putri paman, saya akan pastikan Bella akan selalu bahagia"


__ADS_2