Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 32


__ADS_3

Melangkah gontai kearah pintu setelah mengambil tasnya. Bella berniat untuk mendatangi alamat rumah dari nomer asing tadi. ia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, yang ia inginkan hanyalah bukti, kebenaran dari foto itu. Ada ketakutan besar dihatinya, bagaimana kalau difoto itu benar adanya. Apa yang harus ia lakukan, apakah ia akan bertahan dan melangkah maju atau ia harus berhenti dan melupakan semuanya. Tapi apakah ia bisa?


Selama perjalanan Bella hanya diam termenung, setelah melakukan perjalanan sekitar 3 jam. Akhirnya ia sampai di perumahan elit, setelah ia menemukan nomer rumah sesuai alamat yang dikirimkan nomer asing tadi, mobil pun berhenti. Bella sengaja membawa sopir karena ia sudah tidak mampu untuk menyetir, sopir itu pun orang kepercayaan Evan yang memang ditugaskan untuk mengantar Bella, meskipun kadang Bella lebih suka mengemudikan mobilnya sendiri.


Aku berusaha untuk menguatkan hatiku. Apakah aku yakin akan masuk? Apa aku mampu untuk menerima kenyataan, jika itu benar. Apa sebaiknya aku tidak perlu membuktikan apapun? Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku. Aku harus kuat, aku bisa, aku pasti bisa.


Tak lama Aku pun turun dari mobil, aku berjalan ke depan gerbang, tanpa bertanya penjaga pos langsung menyuruhku masuk, apa mungkin ada tamu yang sedang ditunggu, kenapa tidak bertanya dulu, dasar penjaga ceroboh, pikirku.


Aku berjalan menuju pintu utama, rumah yang lumayan besar dengan dua lantai, halaman juga lumayan luas, rumah yang nyaman untuk ditempati bersama keluarga kecil. Aku memberanikan diri untuk memencet Bel. Aku menekannya Dua kali.


Seorang wanita yang sangat cantik muncul dari balik pintu, kami saling menatap cukup lama, aku tidak tahu harus bicara apa, tidak mungkin kan aku langsung menuduhnya, kami terdiam cukup lama, dia pun sepertinya bingung mau bicara apa. Sampai sebuah suara muncul dari arah belakang wanita di depanku. Suara yang sangat aku kenal, bahkan aku sudah hafal, tapi hatiku menolak untuk percaya. Ini tidak mungkin. Ini hanya mimpi. Iya ini hanya mimpi.


"Sayang, siapa yang datang? " sambil berjalan kearah pintu utama menghampiri kami.


Deg


Aku bisa melihatnya dengan jelas. Wajahnya tubuhnya, tatapannya aku sangat mengenalinya. Aku tidak kuat. Tes. Jatuhlah air mataku. Dia hanya diam mematung dengan pandangan masih melihatku.


"Sayang..kau mengenalnya?" tanya wanita tadi. pria didepanku mengangguk. "Baiklah, sini sama mommy dulu, daddy ada tamu" aku belum sadar kalau dari tadi pria di hadapanku menggendong bayi yang lucu dan menggemaskan, aku mengalihkan tatapan ku pada bayi itu. Dan aku mengaku kalah sebelum bertarung, tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Tidak ada harapan lagi untukku. Aku sudah game over.


Tinggallah kami berdua. Dia pun tidak menyuruhku masuk meskipun aku tak mengharapkannya. Dia masih menatapku, entah apa yang ia pikirkan, apa dia berpikir sudah ketahuan setelah menyembunyikan ini semua. Kami masih saling diam. Setelah beberapa menit.


"A.. aku harap yang aku pikirkan salah, a.. aku harap ini tidak benar" ucapku terbata yang terdengar menyedihkan. Mataku mulai berkaca kaca lagi setelah tadi sempat mengering.


"Maaf... dia anak dan istriku. " kalimat yang terucap dari seorang laki laki yang berdiri dihadapanku. Lakiaki laki yang aku cintai

__ADS_1


"Apakah kita sudah berakhir?" pertanyaan bodoh yang keluar dari mulutku.


Inilah kenyataannya, tidak ada cinderella dalam kisah nyata. Dari awal aku suda tahu, akhirnya akan seperti ini, kita tidak akan pernah bisa bersama. Tapi aku terlanjur mencintaimu, aku terbiasa dengan keberadaanmu,, aku.....


"Maaf.. " hanya kata maaf yang terucap dari mulutnya. aku tak bisa lagi menahan tangisanku, aku menutup mulutku agar suara tangisku tak terdengar, rasanya kakiku mati rasa, berdiri pun hampir tak sanggup. Aku mencoba untuk membalikkan badan, aku ingin pergi. Tapi...


Brugh..


Aku terjatuh, bagaimana ini aku tak mampu untuk berdiri, aku menangis, rasanya sakit sangat sakit. Evan mendekatiku dan mengangkat ku dalam gendongannya, aku membiarkan apa yang ia lakukan karena aku tak punya tenaga untuk menolak, untuk berdiri pun aku tak mampu apalagi berjalan.


"Sakit,, kakiku sakit" tapi hatiku lebih sakit lanjut ku dalam hati.


"Maaf.. jangan menangis"


"Aku tidak mau menangis tapi air mataku keluar sendiri"


Mobil melaju kembali ke jalanan kota ini. hatiku sakit, aku tak mau orang lain melihat kerapuhan ku.


"Pak, kita langsung kembali, tidak perlu menginap di hotel" ucapku pada pak sopir.


"Tapi tadi Tuan mengatakan kalau. .. "


"Tolonglah! aku ingin pulang" mungkin karena iba pak sopir pun langsung terdiam, biasanya kami akan berdebat dulu, jika perintah Evan dan keinginanku berbeda.


Aku memilih tidur selama diperjalanan. Beberapa jam kemudian aku sampai di apartemen. Aku enggan untuk masuk, apa ini masih tempatku. Mungkin aku harus masuk untuk mengenang tempat ini. Aku masuk setelah pintu kubuka. Tadinya aku ingin menangis di apartemen, tapi setelah disini air mataku terasa kering. Aku memilih untuk merebahkan tubuhku diranjang, lelah, tak lama aku pun terlelap.

__ADS_1


Ditempat lain.


Tanpa bersuara Evan mengangkat HPnya.


"Akhirnya anda mengangkatnya, orang yang mengikuti nona Bella melaporkan bahwa dia pergi ke daerah.... " ucap asisten Riki tergesa-gesa dengan suara yang terdengar cemas.


"Dia sudah tahu, dan kami bertemu" potong Evan sendu. Dia tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini, yang pasti satu yang ia takuti, ia takut Bella pergi. "Tetap ikuti dia" perintah Evan.


"Baik bos" sambungan telpon berakhir.


"Apakah dia kekasihmu?" langkahnya terhenti setelah mendengar pertanyaan dari wanita yang tadi ia akui sebagai istri didepan Bella. Sebenarnya bisa saja ia berkata jujur pada Bella, tapi ia tidak berani mengambil resiko, ia tidak ingin melibatkan Bella dalam hal ini, ia tidak mau Bella dalam bahaya. Apalagi ia mendapat informasi kalau di rumah itu ada mata-mata, yang saat ini masih diselidiki. Evan menganggukkan kepalanya tanpa semangat, terpancar kesedihan dari tatapan matanya. "Maafkan kami, kau harus terlibat dalam masalah kami"


"Ehmm.. maaf aku tidak bisa melanjutkannya lagi, kau harus bisa menjaga diri dan jaga bayimu. aku yakin kau bisa, Mika" Evan melanjutkan langkah kakinya menuju kamar yang ia tempati jika berkunjung.


Ternyata aku hanya pembawa masalah bagi semua orang. Mika.


Setelah di dalam kamar ia menghubungi seseorang yang punya andil besar dalam hal ini.


"Hallo"


"Maaf, aku tidak bisa menjaganya lagi, dia sudah tahu" ujar Evan sendu.


"Maafkan aku, aku lamban menyelesaikannya, seminggu lagi aku akan membawa mereka, semoga kau bisa bersamanya" ucap laki laki dalam sambungan telpon.


"Semoga doamu bisa menjadi kenyataan" percakapanpun terhenti setelah sambungan dimatikan. Evan bersiap untuk kembali, karena tadi anak buahnya mengatakan kalau Bella tidak menginap di hotel, ia memilih untuk kembali.

__ADS_1


Jam 11 malam Evan sampai di apartemen. Tapi ia tak kunjung membuka pintu apartemen. Ia bersandar pada pintu.


Sayang aku telah menyakitimu, maaf. Di saat seperti ini aku berharap kau masih mengingat perkataanku dulu. Jangan percaya dengan apa yang kau lihat dan juga sekali pun itu keluar dari mulutku. Aku mencintaimu.


__ADS_2