
Di Restoran
Bella, Risa, Citra dan Andi memasuki restoran kemudian memilih meja dekat jendela, tanpa mereka sadari ada dua manusia yang juga mengikuti mereka, tanpa permisi mereka bergabung di meja Bella, Andre duduk disebelah Risa dan Tomi duduk di sebelah Andi. Kebetulan Meja itu isinya untuk enam orang.
"Kenapa kalian duduk disini?" tanya Citra karena ia merasa tak mengundang para sahabat Evan itu.
"Kami juga teman Bella, ya kan Bell" yang ditanya hanya mengedikkan bahunya.
"Kami juga ingin tahu bagaimana Bella bisa selamat" Andre ikut buka suara. Seketika Citra menatap Bella setelah ingat apa tujuannya mengajak Bella ke restoran ini.
"Hampir saja lupa gara - gara kalian. Apa kau sudah siap untuk mengatakannya" menatap Bella dengan tak sabar.
"Baiklah, aku mulai dari mana dulu ya" bergaya seperti sedang berpikir. " Waktu itu, aku duduk di ruang tunggu selama menunggu panggilan untuk keberangkatan, terus ada seorang wanita yang menghampiriku kemudian dia memperkenalkan dirinya, kami menjadi lebih akrab, dia wanita yang baik, tapi tanpa kusadari dia membawa tasku. Aku jadi tidak bisa berangkat, kalian bisa bayangkan bagaimana keadaanku waktu itu, sudah patah hati, mau naik pesawat tidak jadi" Bella mengucapkannya dengan mendramatisir. Citra dan Andi masih setia menunggu kelanjutan cerita Bella, sedangkan Tomi dan Andre malah menahan tawa. "Aku sedih, untungnya aku masih punya uang. Aku tidak punya tujuan lagi, Aku bingung harus kemana, kemudian aku teringat pada satu sahabatku, Risa. Berangkatlah aku kesana"
"Ceritamu sungguh lucu" ucap Tomi sambil tertawa, dia sudah tak mampu menahan tawa nya.
"Jadi kau tahu dari awal kalau Bella masih hidup?" Citra menatap Risa intens.
"Aku tidak tahu apa apa, jangan melotot padaku" jawab Risa acuh.
"Bagaimana kau tak tahu, dia saja ada dirumahmu" ucap Andre yang ingin ngobrol dengan mantan kekasihnya itu, membuat Risa menoleh padanya.
"Jangan sok akrab" jawab Risa membuat Andre terdiam.
"Kalian bekerja sama membohongiku, sungguh tega, apa aku bukan sahabat kalian lagi" ucap Citra marah.
"Bu.. bukan begitu,, maaf,, aku hanya butuh sendiri waktu itu, aku hanya ingin menyendiri, sungguh aku tidak bermaksud" Bella membela diri sambil memegang lengan Citra. ngambek tuh Citra.
"Cit,, waktu itu dia sedang patah hati, jadi aku menuruti semua keinginannya, dia bahkan tidak mau tinggal dirumahku, tapi aku dan orangtuaku memaksanya, aku takut dia bunuh diri" sambung Risa.
"Ihhh... aku tak akan bunuh diri hanya karena putus cinta"
" Kau dan Evan putus?"
"Dia dicampakkan" Risa yang menjawab pertanyaan Citra.
"Benarkah, kenapa kau tak pernah cerita, kenapa kau menanggungnya sendiri, kau pasti sangat sakit waktu itu, maaf aku tidak ada saat kau terluka" Citra memeluk Bella.
__ADS_1
"Aku sudah tidak apa - apa, bukannya aku tidak mau cerita tapi kejadiannya terjadi tiba tiba, aku tak sempat untuk berpikir apapun" ucap Bella
"Iya iya, aku mengerti, mari kita lupakan semuanya" Bella mengangguk.
"Sepertinya kau harus pulang, bukankah ini malam pertamamu"
Blush
"Kau benar Bell, aku senang kau kembali, aku do'akan semoga kau selalu bahagia, dan bertemu laki laki yang tepat" Ucap Kak Andi yang dari tadi hanya diam menyaksikan tiga sahabat yang sedang berbincang. Andre dan Tomi pun hanya diam.
"Makasih kak"
"Kalian berapa hari disini" menatap Bella dan Risa bergantian. "Jangan bilang kalau kalian akan pulang hari ini!"
"Tidak, kau tenang saja, aku tahu kau merindukanku, jadi demi dirimu aku akan menetap disini"
"Benarkah, aku senang akhirnya kita bisa bersama lagi seperti dulu, kalian menginaplah dirumahku, kita habiskan malam bersama, ayo kita tidur bertiga" ucap Citra santai, tanpa memikirkan perasaan seseorang yang baru saja menjadi suaminya. Semua orang menatap Citra.
"Ehem... " Andi berdehem. Citra bingung sebelum ia menyadari sesuatu.
"Oh iya,, aku lupa kalau sudah punya suami" ucapnya sambil terkekeh."Kak bolehkah mereka tinggal dirumahku dan tidur di kamarku, aku tidak bisa membiarkan mereka tinggal dihotel, malam ini saja" Andi tersenyum kecut karena sesuai dugaannya, untungnya dia sudah bisa membaca situasi.
"I.. ya kak" jawab mereka terbata secara bersamaan.
"Bagus, ini kuncinya" meletakkan kunci diatas meja. "Nanti aku chat alamatnya. Sebaiknya kita pulang sekarang sayang" ajaknya pada Citra.
"Dapat makan gratis juga gak kak?" tanya Risa pada Andi yang sudah tak sabar ingin mengajak istri barunya pulang.
"Sepuasnya, kalian boleh makan apapun yang kalian mau, gratis tis tis"
"Sharangheee kak Andi" Risa dan Bella menunjukkan tangan bentuk love ala Korea ke depan Andi.
"Cihhhh.. " Semua orang berdecih melihat kelakuan mereka.
"Tapi bener kan, kalian akan menetap disini"
"Aku sih iya, aku udah sewa apartemen, aku mau cari kerjaan disini" menatap Bella. " Tapi gak tahu Bella"
__ADS_1
"Aku.... " belum selesai bicara Andi memotong ucapannya.
"Sudahlah kalian masih punya banyak waktu untuk bertemu, sekarang ayo kita pulang" Menarik tangan Citra agar ikut berdiri.
"Yeeee, yang sudah gak sabar" goda Bella. Andi dan Citra akhirnya pergi meninggalkan restoran sekarang tinggalah mereka berempat.
Setelah puas memandangi wanitanya, ia memutuskan untuk keluar dari mobil. Memasuki restoran langsung menuju ke meja Bella.
"Kau disini juga" tanya Tomi pura pura tidak tahu. Bella dan yang lain mengikuti arah pandang Tomi, secara reflek ingin tahu siapa gerangan yang disapanya.
Deg
Evan
"Hemmm.. " langsung duduk di depan Bella. Menatap Bella dengan penuh kerinduan, hatinya berdebar, ingin rasanya ia memeluk wanita dihadapannya.
Sayang aku merindukanmu. Kau selalu cantik, pipimu menggemaskan. Tataplah aku sayang. Evan.
Aku jadi gugup, jangan menatapku seperti itu. Ternyata aku merindukannya.huft.. dia bukan untukku. Bella.
"Eheem... sepertinya aku mau ke cafe dulu" mengambil kunci yang masih berada di atas meja. "Aku akan kirimkan alamatnya nanti" ucap Risa memecah keheningan.
"Kita pergi bersama saja" memegang tangan Risa. "Kita pergi dulu ya, kalian yang bayar kan" menatap Andre dan Tomi, merekapun mengangguk. Dari tadi mereka hanya menyimak, tidak ada yang membuka suara.
Setelah berpamitan Bella dan Risa berdiri hendak meninggalkan meja. Tapi langkahnya terhenti.
"Apa kabar? bisakah kita bicara" ucap Evan kemudian.
"Duduklah dulu Bell" ucap Tomi yang berdiri berjalan kearah Bella, memegang pundak Bella dan mendudukkannya. "Kalian bicaralah, aku yang akan mengantar Risa, tenang saja dia akan selamat sampai tujuan"
Saat ini tinggallah mereka berdua, duduk berhadapan, Evan tak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Bella, Bella sedikit salah tingkah ditatap seperti itu.
"Kamu, apa kabar?" ucap Bella memulai pembicaraan, karena ia tahu bagaimana Evan. Manusia kaku dingin dan berwajah datar. Dia pasti bingung mau bicara apa.
"Tidak terlalu baik sejak kau pergi" hening sejenak. "Kau selamat? Aku senang bisa melihatmu kembali"
" Aku tidak ada dalam pesawat itu, aku gagal naik pesawat padahal itu pertama kali untukku, aku sedikit kecewa"
__ADS_1
"Pergilah bersamaku, kalau kau masih ingin, aku akan mengantarmu kamana pun yang kau mau" Bella tersenyum.
Seandainya kau masih sendiri, aku pasti akan bilang iya, ayo kita pergi bersama. Kata katamu membuatku sedih.