Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 29


__ADS_3

Weekend adalah waktu untuk bersantai bersama keluarga, pacar, sahabat bahkan tetangga. Waktu yang ditunggu tunggu setelah seminggu bekerja keras, hanya untuk melepas penat. Tapi itu hanya untuk sebagian orang yang memiliki hari libur di hari Minggu. Sebagiannya lagi mereka harus bekerja karena mereka memiliki libur di hari aktif, bagi mereka malah hari minggu menjadi ladang keuntungan, karena banyak pelanggan yang menghabiskan weekend mereka. Salah satunya di cafe ini.


Dua manusia yang berbeda genre sedang berdebat lebih tepatnya memuji di sebuah ruangan kantor.


"Kenapa kau masih tampan dengan seragam pelayan ini" Bella mengerucutkan bibirnya.


"Aku memang tampan sayang" mencolek dagu Bella.


"Kamu juga semakin genit, awas saja kalau menggoda wanita diluaran sana, kau akan aku kebiri" Evan tertawa mendengar ancaman kekasih hatinya ini.


"Kau menakutkan sayang" menatap Bella. "Apa aku harus bekerja sekarang bos, dari tadi kau menahanku?" Goda Evan karena dari tadi mereka masih diruangan.


"Habisnya kau terlalu tampan, aku takut akan ada yang menculikmu, apa kau tak usah bekerja saja ya"


"Bukankah aku dihukum? "


"Oh.. iya ya.. Ayo aku akan mengajarimu terlebih dulu. Jika ada pelanggan masuk, setelah mereka duduk di meja, serahkan buku menu ini kepada pelanggan dengan ramah dan tersenyum, dan yang paling penting, pelanggan adalah raja jadi kau harus melakukan apa yang mereka inginkan, memenuhi keinginan mereka, kepuasan pelanggan adalah motto kita, oke. Apa kau paham? "


"Tidak terlalu sulit"


"Ingat jangan lupa tersenyum, jangan memperlihatkan wajah kakumu itu"


"Ok bos"


"Keluarlah dulu, aku masih mau menyelesaikan pekerjaanku, tidak akan lama, aku akan menyusulmu"


"Jangan terlalu lama"


" Iya sayang... sini aku kasih semangat dulu" Bella mengecup pipi Evan. "Kerja yang rajin ya, cari duit yang banyak untuk calon istrimu ini" Bella tersenyum.


Calon istri, aku senang mendengarnya dari mulutmu sayang. Haruskah aku mempercepat untuk menikahimu. Evan.


Dengan gerakan cepat Evan menempelkan bibirnya diatas bibir Bella dan ******* nya sedikit.

__ADS_1


"Ini akan membuatku lebih semangat" ujar Evan yang membuat Bella tersipu malu.


"Lihat ini, lipstikku pindah tempat" menghapus llipstik yang menempel di bibir Evan.


"Aku kerja dulu ya, calon suamimu ini akan mencari uang yang banyak, dan banyak" mereka malah tertawa terbahak, gurauan kecil yang membuat mereka bahagia.


Setelah kepergian Evan dari ruangannya, Bella dengan segera mengerjakan pekerjaannya. Ia tidak mau Evan terlalu lama menunggunya di luar. Sekitar satu jam pekerjaannya pun selesai, sebenarnya masih ada tapi masih bisa dikerjakan nanti, ia ingin segera menyusul pujaan hatinya. Dengan tergesa-gesa ia merapikan dokumen yang ada di atas mejanya, dan segera berjalan keluar menghampiri kekasihnya itu.


Deg


Apa ini?


Pemandangan di depannya membuatnya terkejut. Dia masih berdiri mematung di tempatnya, bahkan tak mampu untuk berkata - kata. Sampai sebuah suara membuyarkan pandangannya.


"Bu, apa ibu membutuhkan sesuatu" Bella menoleh kearah asal suara karyawannya.


"Ada apa ini? Kenapa cafe ini seperti pasar? " Tanya Bella yang masih belum melihat kekasihnya. Entah dimana Evan berada, apa dia kabur karena tidak mau jadi pelayan.


"Itu bu. Hari ini pelanggan sangat ramai, bahkan banyak yang belum mendapat meja, tapi mereka bersedia untuk menunggu dan mengantri"


"Sudah bu, tapi setelah waktu mereka habis, sebagian dari mereka mengantri kembali" karyawan tadi masih menjelaskan. Meskipun Bella melarang karyawannya untuk memanggil ibu, dan menyuruh mereka untuk memanggil mbak atau Bella saja, mereka tetap saja memanggil ibu, karena mereka merasa sungkan dan tidak enak dengan kebaikan Bella. Bella adalah Bos yang sangat baik hati meskipun mereka belum lama saling mengenal. Karyawan yang dulu menjadi teman Bella banyak yang sudah berhenti dengan berbagai alasan, kebanyakan dari mereka adalah karyawan baru.


"Apa? Apa hari ini banyak yang kelaparan? Apa tidak ada tempat lain sampai harus mengantri kembali? Apa menu hari ini berbeda sehingga membuat pelanggan ketagihan"


"Untuk menu seperti biasanya bu. Ta..tapi I.. Itu bu.. ehmmm... ke kekasih ibu... anu.. "


"Kenapa dengan Evan? Dimana dia" Bella merasa cemas, ia takut terjadi sesuatu dengan Evan, karena semua ini karena dirinya, membuat seorang ceo menjadi pelayan cafe. Oh tidak, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya. Dengan cepat Bella berjalan menerobos ramainya pengunjung untuk mencari kekasihnya. Tanpa peduli lagi dengan ucapan karyawannya.


Deg


Dan ternyata kekasihnya itu sedang dikerubuni banyak wanita, dan mereka sedang berfoto, dengan wajah polosnya Evan memamerkan senyumnya.


Apa dia bodoh? atau Apa aku salah mengajarinya.

__ADS_1


Aku menerobos kerumunan, dan tanpa basa basi aku menarik tangannya. aku tidak memperdulikan lagi apa yang terjadi di sekitarku, banyak dari wanita itu yang tidak terima pujaan hati mereka aku bawa pergi. Biar saja, berani beraninya mereka mengganggu kekasihku, dan apa yang ku dengar ini, membuatku semakin marah.


"Bos, kenapa kau menarik tanganku, apa aku melakukan kesalahan" apa? pertanyaan apa itu, awas saja kau, kau malah membuatku darah tinggi ucapku dalam hati. Aku terus menariknya sampai keruangan ku. Kemudian aku menghempaskan tangannya, lalu menatapnya dengan kedua tanganku letaakkan di pinggang. Bisa dibayangin kan, aku sudah seperti emak emak yang menghakimi anaknya.


"Apa yang kau lakukan? "


"Apa" Evan kebingungan, ada apa dengan kekasihnya ini. " Apa aku melakukan kesalahan?"


"Kau masih bertanya kenapa? kau bukannya bekerja malah bermesraan dengan banyak wanita" aku meluapkan amarahku.


"Bermesraan? Dari sudut mana aku terlihat bermesraan sayang. Aku tidak melakukan itu"


"Senyum senyum, foto foto, dikelilingi banyak wanita, apa itu namanya, kalau bukan bermesraan? "


"Bukannya tadi kau bilang aku harus tersenyum" Evan masih membela dirinya, tapi di dalam hatinya ia sangat senang kekasihnya cemburu, apalagi tadi tangannya ditarik seperti itu, bukannya marah atau merasa dipermalukan ditempat umum ia justru bahagia, kekasihnya menyelamatkan dirinya dari banyak wanita.


"I.. ya tapi jangan terlalu banyak, kau terlalu pamer" masih menatap Evan. "Kenapa harus foto foto? " Bella masih belum Terima dengan apa yang terjadi tadi.


"Katamu pelanggan adalah raja, dan aku harus memenuhi keinginan mereka, karena kepuasan pelanggan adalah motto... "


"Kau menyebalkan.. " potong Bella, lalu berjalan ke arah sofa, dengan kesal ia mendudukkan bokongnya ke atas sofa. Tidak ada lagi senyum diwajahnya, Evan membuatnya kesal. Dia memalingkan wajahnya melihat ke arah lain, ia malas melihat tampang Evan yang tanpa rasa bersalah.


Sedangkan Evan hanya senyum senyum sendiri. Sebenarnya ia hanya ingin menuruti perintah kekasihnya dengan selalu tersenyum ramah, tapi ia juga tidak tahu akan seperti itu akibatnya. Untuk foto ia juga enggan untuk berfoto tapi mau gimana lagi, ia hanya ingin profesional, demi kepuasan pelanggan. Ternyata malah membuat para wanita terpesona, ya bisa dibilang kalo dari pandangan kekasihnya dia yang salah.


"Sayang,, jangan marah lagi ya" Mendekati Bella dan duduk di sampingnya.


"Kau bodoh"


"Ya aku bodoh"


"Aku kesal"


"Iya aku tahu, aku tak akan mengulanginya lagi"

__ADS_1


"Aku masih kesal, kesal, kesal"


"Aku minta maaf" Cup. Evan membuatnya tak berkutik. Luluh sudah hatinya.


__ADS_2