Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 45


__ADS_3

Di sebuah pusat perbelanjaan, yang tak pernah sepi pengunjung. Padahal ini tanggal tua, tapi pengunjung sangat ramai, entah berapa banyak uang yang mereka miliki sepertinya tak akan pernah habis. Seorang wanita tengah berjalan memasuki mall, ia melihat ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan sahabatnya Risa. Dimana dia pikirnya. Tak lama kemudian terlihat wanita baru saja keluar dari restoran.


"Risa,, " teriak Bella sembari melambaikan tangannya. Risa pun melangkah menghampiri Bella.


"Kau sudah datang?" Bella pun mengangguk. "Ayo kita tunggu mereka di sana saja. Kemudian mereka berjalan menuju bioskop tempat mereka janjian dengan dua pemuda di taman. Ternyata mereka sudah menunggu disana. Tapi langkah mereka terhenti.


Evan. Apa yang dia lakukan disini.


" Hi kak,, " Sapa dua pemuda itu yang tak lain, Jimmy dan Steve.


"Hi Jim, Steve" sapa Bella.


"Kenapa kalian disini?" menatap Evan Andre dan Tomi.


"Tentu saja mau nonton" jawab Tomi.


"Kalian tidak menguntit kami kan?"


"Apa kami terlihat seperti pengangguran yang punya banyak waktu untuk mengikuti kalian, omong kosong" jawab Tomi lagi sedang Evan dan Andre hanya diam memperhatikan. Evan terus saja menatap Bella yang dari tadi mengobrol dengan Jimmy dan Steve. Bella cuek padanya. Beberapa menit kemudian Bella pamit pergi ke toilet. Dia terus berjalan melewati toilet, keluar dari mall dan menaiki taksi. Ia menghubungi Risa setelah taksi yang ia tumpangi pergi dari mall.


"Ini gara gara kalian" ucap Risa marah. Gagal kencan deh lanjutnya dalam hati. Ia berbalik menatap Jimmy dan Steve.


"Maaf, sepertinya kita gak jadi nonton sekarang, tiba tiba Bella merasa tidak enak badan, aku harus menemaninya, maaf ya.. " ucapnya lirih.


"It's ok kak, bisa lain waktu"


"Ok, bye" berjalan sembari menatap tajam pada Evan.


Di apartemen


Bella merebahkan tubuhnya diranjang. menerawang mengingat pertemuannya dengan Evan hari ini. Dua kali secara kebetulan, ia berpikir benarkah ini hanya kebetulan atau memeng direncanakan. Apapun itu Bella tak mau ambil pusing. Mereka sudah berakhir.


Aku tidak mau jatuh ke lubang yang sama. Ribet berhubungan dengan orang kaya. Selamanya ini akan menjadi jarak antara kita, meskipun kau tak mempermasalahkannya. Tapi aku yang tidak bisa, karena aku merasa itu penghalang bagiku untuk memperjuangkanmu. Maaf kita sudahi saja.


Bella mengambil ponselnya kemudian menekan tombol untuk menghubungi seseorang.


"Assalamualaikum bibi" sapa Bella.


"Waalaikum salam sayang, kau baik baik saja"


"Ya bi, Bella baik. Maaf Bella belum pulang bi,tapi besok Bella akan kembali"

__ADS_1


"Ya bibi mengerti, kamu pasti masih merindukan teman temanmu, ya kan?"


" Ya, terima kasih bi"


"Bersenang-senanglah sayang, lama disana juga tidak apa- apa, bibi paman Alexa dan nenek mau kerumah keluarga bibi dulu selama seminggu ini, tinggalah disana dulu"


"Kemana bi?"


"Kerumah saudara bibi dikampung sebelah, anaknya saudara bibi menikah. O ya sayang, kami sudah memutuskan untuk membiarkanmu bekerja disana jika kau masih menginginkannya, kami tidak akan menghalangimu untuk mengejar impianmu, tapi ada syaratnya kau harus selalu pulang meskipun hanya sebulan sekali"


"Benarkah bi, bibi serius, apa paman dan nenek juga setuju?"


"Iya sayang,, carilah pekerjaan disana, ingat jangan terlalu lelah, selalu jaga kesehatan"


"Bibi yang terbaik, makasih bi, kalau begitu Bella akan mencari pekerjaan mulai besok, Bella sayang bibi" ucap Bella semangat. Sambungan telpon pun terputus.


Aku harus memberitahu Risa, apa aku melamar saja ditempat yang sama dengan Risa. Tapi ijazah ku. Huft masih ada di apartemen Evan.


Risa memasuki kamar apartemen.


"Kenapa pulang dulu, kau belum sanggup menghadapinya?"


"Entahlah"


Menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya. "Aku akan menetap disini, keluargaku mengijinkan aku bekerja disini"


"Benarkah?" Bella mengangguk, Risa memeluk Bella. "Aku sangat senang akhirnya kita bisa bersama seperti dulu, Melamar lah di perusahaan tempatku bekerja, karena besok aku dipanggil interview" Bella menggeleng.


"Aku tidak punya ijazah, ijazah kuliahku tertinggal di apartemen Evan"


"Kalau begitu ambillah, mudah kan"


"Tapi... "


"Sudah jangan terlalu banyak dipikirkan, ambil saja"


"Aku... ehmmm bagaimana ya...?"


"Besok pagi saja dia kan ke kantor, kau bisa ke apartemen" bujuk Risa.


"Apa tak perlu ijin untuk masuk ke apartemennya, meskipun dulu aku pernah tinggal disana"

__ADS_1


"Sudahlah jangan berlagak sok polos" ucap Risa yang membuat Bella tertawa. Semenjak patah hati dia seperti kehilangan arah, kurang semangat dalam melakukan sesuatu, lebih pendiam, suka melamun.


"Baiklah,, Terima kasih idenya"


Maaf Bell, aku yakin ini yang terbaik untukmu.


Setelah Bella keluar dari kamar, Risa segera mengirim pesan pada seseorang.


Keesokan harinya.


Pagi menyambut dengan ceria. Seperti hati seseorang yang sedang berbunga bunga. Mood pagi menentukan rezeky ya. Seorang pria berdiri di depan cermin memperhatikan penampilannya. Sudah Ok belum, bertanya pada cermin. Cerminnya bingung mau jawab apa, karena dari tadi tampannya tak berkurang sedikitpun, mau bagaimanapun tetap tampan.


Setelah selesai besiap ia segera mengendarai mobil mewahnya menuju apartemen, jangan sampai ia keduluan wanita pujaan hatinya. Hari ini akan menjadi hari yang bersejarah baginya, Dia akan menaklukkan Bella. Setelah menerima pesan dari Risa ia segera menyusun rencana selanjutnya.


Tunggu sayang. Kau harus jadi milikku. Kali ini tidak boleh gagal.


Sampai di loby apartemen, ia segera berlari menuju apartemennya, karena Bella sudah sampai di apartemen.


Bella berdiri di depan pintu apartemen. Masuk gak ya, masuk gak ya, itu yang dari tadi ia pikirkan. Setelah Sepuluh menit keraguan menyelimuti pikirannya, akhirnya ia memutuskan untuk masuk.


Ini demi masa depanku, jangan pikirkan yang lain.


Bella menekan tombol yang telah dia hafal.


Krek


"Passwordnya belum berubah, ceroboh sekali bagaimana kalau aku memanfaatkannya" gumam Bella pelan sambil menutup pintu kembali. Melihat isi apartemen mengingatkannya kembali dengan kenangannya dulu bersama Evan. Ia duduk di sofa, berusaha menetralkan hatinya.


Untung saja aku sampai duluan. Evan berdiri di dekat dapur saat Bella masuk ke dalam apartemen. Ia mendengar dengan jelas gumaman Bella.


Aku suka jika kau memanfaatkanku sayang.


Ia tersenyum lembut melihat wanitanya tengah duduk di sofa, terlihat sendu. Bella belum menyadari keberadaannya. Evan mengambil minuman yang akan ia berikan pada Bella.


Bella memutuskan untuk langsung mengambil ijazahnya kemudian segera pergi dari sana, ketika ia berjalan menuju kamar, langkahnya terhenti melihat ada pergerakan di sebelahnya, ia menoleh ke arah itu. Seketika jantungnya seperti berhenti berdetak.


Deg


Evan.


Evan berjalan menghampirinya, semakin dekat. Bella merasa gugup, jantungnya berdebar, tangannya pun bergetar, sudah seperti maling yang terciduk.

__ADS_1


Kenapa kau terlihat seperti orang ketakutan sayang. Dasar pencuri, pencuri hatiku.


__ADS_2