
Perjalanan Bella menuju rumah keluarganya, membuatnya berdebar. Ia sampai berkeringat dingin, ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi keluarganya saat melihatnya berdiri didepan pintu seperti saat ini. Apaka dia akan dikira jadi hantu.
Tok Tok Tok
"Kakak" Pintu belum terbuka terdengar teriakan seorang gadis dari belakang. Belum sempat menoleh. Bella mendapat pelukan dari belakang. "Kakak, aku kira kakak beneran mati, ternyata kakak masih hidup huwwwaaaaaa." ucap Alexa sambil menangis.
Ha. Aku pikir akan dibilang hantu.
"Kenapa kakak tidak bilang kalau kakak masih hidup? Air mataku sampai kering karena menangisimu kak? Nenek sampai jatuh sakit? Ibu malas untuk memasak? Kakak tahu sebulan ini aku tersiksa karena harus menggantikan ibu memasak" keluh Alexa. "Eh... tapi ini beneran kakak kan, bukan hantu" seketika Alexa mencubit pipi chubby Bella.
"Auuuuuwwwww.... "
"Ini asli... Ayah.... Ibu.... "
"Ini ada apa sih ribu ribut" ucap Ibu dari dalam rumah yang kemudian membuka pintu dari dalam.. shock sudah pasti. Ibu hampir pingsan. untung dibelakang ibu ada Ayah. Ayah memegangi Ibu yang sudah tak bisa untuk berdiri tegak. Ibu menangis. Kemudian Bella berhamburan memeluk semua keluarganya, seperti Teletubbies ya. Mereka menangis bersama, ibu tak mampu mengucapkan satu patah kata pun. lidahnya kelu.
"Bella... Bella... kau masih hidup nak" tanya Ayah. Bella pun mengangguk. Serelah acara yang mengharu biru di depan pintu. Mereka masuk ke dalam, Bella menghampiri neneknya di dalam kamar.
"Nenek...." memeluk nenek. Nenek menangis, kesedihan dan kebahagiaan bercampur menjadi satu.
"Kau masih hidup, kau masih hidup, jangan pergi lagi, tinggallah disini, kita tinggal bersama, kau tak boleh pergi kemanapun"
"Ya nek, Bella akan tinggal disini" karena disinilah tempat Bella sebenarnya, tempatnya berpulang meskipun ia merantau kemana kemana. Hanya tempat ini yang akan menerimanya dengan tulus, rumah sederhana yang terletak di daerah perkampungan. Tapi disini keluarga Bella lumayan terpandang, Paman Bella memiliki beberapa petak sawah dan juga punya toko kelontong yang penghasilannya lumayan untuk hidup mereka.
Setelah itu mereka semua berkumpul diruang keluarga.
"Bella, bagaimana kau bisa selamat dari kecelakaan itu karena tak satupun yang selamat dari kecelakaan maut itu" Tanya Ayah.
Bella pun menceritakan semua kejadian yang telah ia lewati, sampai akhirnya ia berkunjung kerumah Risa.
"Kenapa kau tak langsung pulang setelah tahu kejadian itu?"
__ADS_1
"Aku.. aku ingin menenangkan diri sejenak, Bella juga ikut kegiatan sosial menjadi Relawan korban bencana alam"
"Ya Allah, Bella kau membahayakan dirimu sendiri, bagaimana kalau disana terjadi gempa lagi? " Bella hanya nyengir kuda.
"Sudahlah, yang penting Bella selamat dan sekarang dia bersama kita" Sela Bibi sambil menatap Bella. "Apa kau tahu Evan tak pernah berhenti mencarimu"
"Evan?"
"Ya setelah kami tahu ada namamu dalam kecelakaan pesawat itu, kami menghubungimu tapi selalu diluar jangkauan, jadi kami memutuskan untuk ke apartemen yang kau tinggali, dan kami bertemu Evan disana"
Bukankah seharusnya dia senang aku pergi. Mungkin dia hanya merasa bersalah sudah mencampakkan aku. Membuangku.
"Paman, bibi, hubungan kami sudah berakhir sebelum kecelakaan itu terjadi, dia mencariku mungkin hanya karena merasa kasian" Ucap Bella sendu.
"Apa maksudmu? Tapi kenapa?" tanya paman. Kemudian Bella menceritakn semuanya dari awal sampai akhir tanpa deraian air mata, mungkin air matanya sudah habis untuk menangisi Evan.
"Bella ikhlaskanlah, mungkin dia bukan jodohmu" ucap bibi sambil mengelus kepala Bella.
"Menikahlah dengan orang sini saja, Biar kau tak usah pergi lagi"
" Kau ini, sok dewasa" cibir Ayah. Alexander mengerucutkan bibirnya.
"Ayo kita makan dulu" setelah itu mereka makan siang bersama, sambil bercanda, kebahagiaan sudah kembali lagi.
Akhirnya aku bebas dari memasak.
Setahun kemudian.
Di Perusahaan ZY group. Semenjak diangkatnya Tuan Muda mereka menduduki kursi utama ZY group, perusahaan semakin berkembang pesat, meskipun hanya dalam jangka waktu satu tahun. Tapi perkembangan perusahaan maju dengan pesat ini semua karena pemimpin mereka yang gila kerja. Setiap hari pemimpin perusahaan mereka yang tak lain adalah Evan Sanjaya tidak pernah pulang tepat waktu. Tiada hari tanpa lembur bahkan di hari weekendpun, ia tetap bekerja tanpa lelah. Hari harinya dia isi hanya dengan bekerja jika sudah malam ia akan pulang ke apartemen, begitulah kesehariannya. Dia semakin dingin dan tak tersentuh, setelah kepergian Bella tidak ada wanita lain yang dekat dengannya.
Karina berusaha untuk mendekati Evan. Evan tak pernah memperdulikannya. Sampai akhirnya dia menyerah, tidak ada lagi kesempatan untuknya, hatinya telah mati bersama dengan kepergian Bella.
__ADS_1
Tok tok tok.
Pintu ruangan terbuka dari luar. Asisten Riki masuk ke ruangan bosnya.
"Bos, anda mendapatkan kartu undangan dari sahabat nona Bella untuk menghadiri acara pernikahannya" Evan menatap Riki seolah bertanya, sahabat yang mana dan kapan, meskipun tanpa suara Riki mengerti akan tatapan bosnya itu.
"Nona Citra, dan acara pernikahannya dua hari lagi bos. Apakah anda akan datang?"
"Tidak.. siapkan hadiah dan antarkan kesana"
"Baik bos" kapan anda akan hidup normal kembali bos, saya sudah tak sanggup bekerja tanpa henti bos, saya juga belum punya pacar bos, kalau kerja terus mana ada yang mau sama saya bos, keluh Riki dalam hati. Dia tentu saja tidak berani mengutarakannya secara langsung.
"Apakah malam ini anda akan lembur lagi bos?"
"Pulanglah, aku masih harus menyelesaikan dokumen ini"
"Kalau begitu saya akan menemani anda bos" berbalik terus melangkah meninggalkan ruangan Evan. Evan menatap kepergian Riki. Sesungguhnya dia juga merasa lelah, tapi tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk mengisi harinya selain bekerja. Jika dia diam, selalu Bella yang ada dalam pikirannya. Dia tak bisa melupakan Bella bahkan untuk sejenak. Dia sudah tidak bisa membuka hatinya untuk wanita lain.
Bahkan orangtuanya sudah mengatur perjodohan untuknya. Mereka tak mampu melihat Evan seperti ini, menyiksa diri dengan bekerja tanpa henti. Tapi Evan tidak peduli dengan perjodohan itu. Baginya itu semua tidak penting lagi.
Di sisi yang lain.
"Hallo, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Ya Ris" sapa Bella membalas salam Risa yang sedang menghubunginya.
"Citra akan menikah, apa kau akan datang" Bella terdiam mendengar pertanyaan Risa. "Sampai kapan kau akan bersembunyi, ayo hadapi kenyataan"
"Aku akan datang" jawab Bella mantap
"Bagus,, aku akan mengirimkan undangannya. Kita ketemu disana saja"
__ADS_1
"Baiklah" sambungan pun terhenti.
Apakah ini waktu yang tepat untuk kembali? Apa aku siap bertemu denganmu lagi? Apa aku bisa menganggap semuanya hanya kenangan? Apa dihatiku sudah tak ada namamu? Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku. Aku pasti bisa, aku pasti bisa. Itu hanya perasan saja, hanya sakit hati sebentar, lupakan, lupakan, dan melangkahlah maju. semangat. Pasti bisa.