
Aku hanya diam sembari menatapnya. Suara wanita disebelahku yang tak lain adalah Mika memutuskan tatapan kami. Aku memperhatikan perubahan wajahnya ketika melihat bayi dalam gendongan ku, sepertinya dia baru menyadari keberadaan bayi itu.
"Maaf... dia anak dan istriku" itu adalah kata yang terucap dari mulutku. Tapi hatiku berkata lain.
Sayang dia bukan istriku, dia istri sahabatku. Itulah yang ingin aku katakan tapi aku tidak bisa, maaf sayang kau harus menangis lagi.
"Apakah kita sudah berakhir?"
Tidak sayang, tidak ada kata berakhir, kita akan bersama selamanya.
Tapi hanya kata maaf yang keluar dari mulutku. Maafkan ketidakberdayaanku sayang. Makilah aku sayang, marahlah padaku, ayo pukul aku. Tapi dia hanya menangis. Hatiku sakit melihatnya. Ingin kupeluk tubuhnya dan bilang jangan menangis, tapi itu hanya sekedar keinginan. Aku tidak bisa melakukannya, karena itu bisa membahayakannya. Tanpa berkata lagi dia berbalik. Aku kecewa dia tidak marah padaku, bukankah seharusnya jika ketahuan selingkuh maka si wanita akan mengamuk dan memberikan banyak pertanyaan, Tapi dia tidak mengatakan apapun. Hatiku mulai takut, dia akan meninggalkanku.
Bugh
Dia terjatuh. Aku sudah tidak peduli lagi. aku mengangkatnya dalam gendonganku, dan membawanya menuju mobil. Sakit. Itu yang terucap dari mulut manisnya.
Maaf.. maaf.. sayang.. jangan menangis lagi. Ini semua tidak benar. Kaulah satu satunya wanitaku. Jangan pernah percaya bahkan jika itu keluar dari mulutku. Kau masih ingat itu kan.
Ingin sekali ku utarakan. tapi itu hanya terucap dalam hati.
Lihatlah. sekarang kau yang meninggalkanku.
Pov end
Evan terlelap di atas ranjang Bella.
Pagi hari. Beberapa orang sudah berdiri didepan pintu apartemen. Riki berkali kali menekan bel pintu, tapi tak kunjung ada pergerakan dari dalam. Ia akan menunggu setengah jam lagi. Setelah waktu yang dirasa cukup. Bel pintu ia tekan kembali. Pintu pun terbuka.
Evan muncul dengan penampilan yang sudah rapi dengan pakaian casual, rupanya ia sudah membersihkan dirinya. Tanpa menyuruh masuk Evan berbalik meninggalkan pintu yang masih terbuka, kemudian Riki mengikuti langkah bosnya itu. Evan duduk di sofa dengan Riki yang masih setia berdiri.
"Duduklah" Perintah Evan, yang mendapat annggukan dari Riki.
"Bos, kami tidak bisa menemukan apapun,, sepertinya kecelakaan ini sangat parah, tidak ada yang tertinggal. Dan dari semua penumpang nona Bella ada di pesawat itu"
__ADS_1
"Cari lagi, jangan berhenti" Evan memberi perintah dengan nada tajam.
Kau harus kembali sayang. Jangan pergi.
"Baik bos" dengan segera Riki beserta anak buahnya meninggalkan apartemen. Dia menyadari bagaiamana keadaan bosnya, ini pasti tidak mudah kehilangan orang yang kita cintai. Apalagi secara tidak langsung kita yang menyebabkan dia pergi.
Beberapa jam kemudian. Terdengar bel pintu berbunyi kembali. Evan yang masih berada diruang tamu segera beranjak untuk melihat siapa yang datang, ia masih mengharapkan ada keajaiban, Bella yang akan datang. Tapi setelah pintu terbuka, harapan hanya tinggal harapan. Bukan Bella yang datang tapi sepasang suami istri. Mereka terlihat bingung karena seorang laki laki yang membuka pintu.
"Maaf nak, kami sepertinya salah apartemen" Evan hanya mengangguk, ia berbalik kemudian menutup pintu, tapi sebelum pintu tertutup penuh, sayup sayup ia mendengar pasangan tadi menyebut nama Bella. Seketika Evan membuka lebar kembali pintu yang tadi hendak ia tutup.
"Anda mencari Bella" mereka masih berada di dekat sana.
"Ya nak, kami keluarganya"
"Masuklah, ini apartemen Bella" Evan mempersilahkan keluarga Bella masuk. kalau itu keluarga Bella berarti yang datang ini adalah paman dan bibinya. "Apakah anda paman dan bibi Bella?" mereka duduk di sofavruang tamu setelah Evan mempersilahkan duduk dengan menggunakan bahasa tubuh.
"Iya nak, kami paman dan bibinya, kami mau mencari Bella, apa Bella ada? dan kamu siapanya Bella? kenapa bisa ada di apartemen Bella" tanya Ayah yang sebenarnya ia sudah bisa menebak siapa laki laki di depannya, tapi rasanya kurang puas kalau tidak mendengar dari orangnya langsung.
"Saya calon suami Bella. Maaf belum mengunjungi kalian" jawab Evan.
Apa yang harus aku katakan.
"Bella.. dia... " jawab Evan terbata
"Kami sangat khawatir, kami mendengar ada pesawat jatuh dan dari salah satu penumpang ada yang namanya Aisyah Bella, kami sudah berusaha menghubunginya, tapi selalu diluar jangkauan. Kami senang jika Bella ada bersamamu" potong Paman yang sudah tak sabar. Bibi dari tadi hanya terdiam sembari memperhatikan perubahan wajah Evan, dia tidak bisa menghilangkan rasa khawatirnya.
"Bella pergi" Menjedda kalimatnya. "Ya, dia ada dalam pesawat itu, kami masih melakukan pencarian" lanjut Evan.
"Jadi berita itu benar ? Bellaaaa...." jerit bibi histeris. Bibi jatuh pingsan.
"Ibu... bangun bu, Bella kita pasti baik baik saja" menepuk nepuk pipi ibu.
"Paman lebih baik bawalah ke kamar" paman mengangkat ke kamar yang ditempati Bella. Paman menggosok-gosok tangan bibi, dan memberinya minyak kayu putih, beberapa menit kemudian bibi tersadar.
__ADS_1
"Ayah... Bella yah... " Ibu menangis pilu.
"Tenanglah bu, semuanya akan baik baik saja, Bella akan kembali pada kita, bukankah dia berjanji kalau dia akan pulang dan membawa calon suaminya, kita harus menunggunya" Ayah berusaha menenangkan ibu meskipun hatinya tak kalah takut dengan apa yang tadi dikatakan calon suami keponakannya itu. Evan melihat semua kejadian itu, karena dia masih berdiri di sana.
"Nak, bawa Bella kembali, kami menunggunya pulang, dia bilang akan datang bersamamu" ucap bibi sambil terisak.
"Baiklah bi.. kalian istirahatlah dulu" Evan meninggalkan kamar Bella.
Evan menghubungi bawahannya agar dibawakan makanan untuk tiga orang, dan juga menyuruh bawahannya menyiapkan mobil beserta sopir untuk mengantarkan keluarga Bella pulang. Karena tidak mungkin Evan menyuruh mereka untuk menginap.
Setelah makan bersama, Evan mengutarakan niatnya untuk mengantar paman dan bibi pulang. Yang ditanggapi dengan respon yang positif. Paman dan bibi bersedia pulang, karena memang tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menunggu, dan lebih baik mereka menunggu dirumah, mereka meminta Evan untuk menghubunginya.
Di tempat yang lain.
"Bella" teriak Risa dari ruang keluarga yang sedang menonton TV, sedangkan Bella berada di dapur sedang mengambil minuman.
"Ada kecelakaan pesawat menuju London, semoga ini bukan pesawatmu, tapi sepertinya.... ada namamu di daftar penumpang" ucap Risa terkejut.
"Apa maksudmu?" tanya Bella yang berjalan dari arah dapur.
"Bella, mungkin ini perlindungan dari Allah, barangmu dicuri agar kau selamat dari kecelakaan maut" Bella masih bingung, karena tadi dia tidak mendengar dengan jelas perkataan Risa. " Pesawat yang akan membawamu ke London mengalami kecelakaan, pesawatmu jatuh ke laut yang dalam, dan mungkin jika kau ada dalam pesawat itu kau sudah mati" jelas Risa detail.
"Pesawat jatuh? Apa semua orang dinyatakan mati?" tanya Bella dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan
"Sepertinya akan begitu, karena belum ditemukan apapun, dan mungkin pencarian akan dihentikan"
"Lalu bagaimana denganku, apa aku juga dianggap mati. Apa paman dan bibiku tahu tentang kecelakaan ini, mereka pasti sedih"
"Aku tidak tahu Bella, aku tak kepikiran itu, aku terlalu senang kau tidak ada dalam pesawat itu"
"Aku harus bagaimana sekarang" Bella terlihat sedih.
Apa kau juga tahu pesawatku jatuh. Apa kau juga berpikir aku tiada. Apa kau sedih? Apa kau menangisiku?
__ADS_1
"Hei... apa yang kau pikirkan, kau memikirkan identitasmu, kita pikirkan nanti saja" padahal Bella sedihnya tentang yang lain, malah ia tak memikirkan identitas.
"Identitas! "