Inikah Takdir Kita

Inikah Takdir Kita
Bab 33


__ADS_3

Tepat jam 12 malam. Pintu apartemen perlahan terbuka. Evan melangkah perlahan, sepi, itu yang ia rasakan. Berjalan menuju sebuah kamar wanita pemilik hatinya. krek. pintu terbuka.


Berjalan kembali menghampiri wanita yang terlelap diatas ranjang. Evan duduk di tepi ranjang, memandangi wajah Bella yang pucat dan sembab.


Kau bahkan belum mengganti pakaianmu, apa kau juga belum makan, jangan seperti ini, jangan menyiksa dirimu. Tunggulah sebentar lagi, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Aku tidak pernah menghianatimu. Aku mencintaimu.


Setelah dirasa cukup memandangi wajah wanita pujaan hatinya, Evan pergi dari apartemen. Ia tidak mau Bella melihatnya, ia akan menemuinya nanti setelah semuanya selesai.


Pagi pun datang, cahaya matahari mulai mengintip ke sela sela tirai. Pagi yang sangat cerah tapi hati wanita yang masih berada di atas ranjang tak secerah pagi ini. Perlahan ia membuka matanya, melihat sekeliling seperti sedang mencari sesuatu, ya jauh dilubuk hatinya ia mengharapkan Evan datang menemuinya. Tanpa diminta, air mata itu jatuh. Bella menangis, suara tangisannya menyayat hati. Hari ini ia lalui hanya dengan menangis dan termenung.


Sore hari, ketika perut mulai terasa lapar ia tersadar kalau dari kemarin malam belum ada makanan yang masuk ke mulutnya, ia mengambil HP untuk memesan makanan.


Dia tidak menghubungiku. Aku tidak percaya hubungan kami yang sudah bertahun tahun harus kandas bahkan setelah mendapat restu dari orang tua. Dan akhirnya dia membuangku. Miris sekali.


Tiga hari pun berlalu. Keadaan Bella masih sama ia tak pernah keluar dari apartemen.


"Bos, nona Bella sudah tiga hari ini belum keluar dari apartemen" Riki memberikan laporan tentang keadaan kekasih bosnya itu.


"Apa dia sudah makan?"


"Sudah bos, nona Bella memesan banyak makanan yang lezat setiap hari?" Entahlah bagaimana nona Bella menghabiskan makanan sebanyak itu pikir Riki.


"Bagaimana dengan Richard" tanya Evan dengan tatapan yang tajam.


"Kita sudah mengirim bantuan yang diperlukan oleh Tuan Richard, dan sepertinya Tuan Richard sudah menemukan titik terang dengan apa yang terjadi, dan itu semua mengarah pada orang terdekatnya"


Menghela nafas kasar, "Pastikan keselamatan Mika beserta bayinya, untuk sementara tarik orang yang mengikuti Bella tempatkan dia disekitar Mika, dan jangan biarkan mata mata itu lolos sampai kedatangan Richard, aku merasa ini tidak sesederhana itu"


"Baik bos" Kemudian Riki meninggalkan ruangan Evan.


Keesokan harinya. Seorang wanita berpakaian casual menarik sebuah koper yang berukuran sedang menuju bandara. Wanita itu berjalan dengan anggun. Waktu penerbangan masih kurang 2 jam, ia merasa gugup karena ini adalah pertama kalinya ia melakukan perjalanan keluar negeri dengan pesawat. Ia duduk di kursi yang sudah tersedia untuk para penumpang yang menunggu waktu pemberangkatan.


"Permisi nona, bolehkah saya duduk di sini" tanya seorang wanita yang berwajah blasteran.


"Ya, silahkan"


"Perkenalkan, aku Anita"


"Bella. Apakah ini penerbangan pertamamu?"

__ADS_1


"Ini penerbangan ke dua ku, tapi ini perjalanan pertamaku ke Jepang, kau mau kemana Bella?"


"Aku mau ke London, ini penerbangan pertamaku, akun ingin berlibur keluar negeri"


"Kenapa kau ingin ke London? Kau sendirian, apa kau tidak takut? "


"Karena aku bisa sedikit bahasa Inggris, jadi aku memilih negara yang menggunakan bahasa Inggris, hahaha" Bella tertawa diikuti Anita.


"Kau sangat lucu dan manis, tapi sepertinya... , aku pergi dulu ya, sepertinya sudah ada panggilan untuk persiapan keberangkatan" ucap Anita sambil berjalan tergesa seperti akan ketinggalan pesawat.


"Baiklah, senang berkenalan denganmu, sampai jumpa Anita" Bella melambaikan tangannya yang juga dibalas oleh Anita.


"Sampai jumpa" sedikit beeteriak.


Dia terburu buru sekali. Untung aku datang lebih cepat ke bandara jadi bisa santai. Semoga ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan. Semoga liburan ini bisa menyembuhkan hatiku yang patah.


Satu jam kemudian. Terdengar panggilan untuk penumpang menuju London. Bella berdiri sambil menarik kopernya, kemudian berjalan, baru dua langkah ia berhenti. Sepertinya ada yang kurang, apa ya?


Oh Astaga... Tasku. Dimana tasku. Jangan bilang kalau tasku diambil orang. jangan jangan wanita tadi... oh shiiit...


"Aku harus bagaimana sekarang, semuanya ada di tas itu paspor, Visa, uang dan semua surat surat. Huftt.. Sudah di tinggal pacar, patah hati, sekarang barang-barangku hilang" gumam Bella berjalan sendirian. Merasa tidak tahu harus berbuat apa, mau laporan rasanya percuma, akhirnya ia berjalan gontai meninggalkan bandara.


Bella menghentikan taksi, ia memutuskan untuk mengunjungi Risa, di kota Y. Setelah melakukan perjalanan selama berjam jam sampailah Bella di terminal bus kota Y. Ya tadi Bella naik taksi menuju terminal setelah itu ia naik bis, ia ingin menikmati perjalanan dengan banyak orang, agar tidak merasa sepi.


Tadi ia sudah menghubungi Risa, dan Risa akan menjemputnya di terminal bus.


"Bella" panggil Risa berteriak, ia langsung berlari menuju Bella dan langsung berhambur memeluknya. "Aku senang kau datang, aku merindukanmu" Bella pun tak kalah histeris, ia pun membalas pelukan Risa.


"Aku juga merindukanmu, aku gak bisa nafas"


"Iya sama, aku juga" mereka saling melepaskan pelukan sambil terbawa terbahak.


"Ayo kerumahku, orangtuaku akan senang melihatmu" ucap Risa, dia sangat senang Bella mengunjunginya.


"Apa mereka sehat?"


"Sangat.. sangat sehat. Tapi tunggu, sepertinya ada yang aneh" memperhatikan penampilan Bella dari bawah sampai atas, kemudian berhenti di wajah. "Jangan bilang kalau kau sedang patah hati" Bella menolehkan wajahnya ke arah lain, matanya sudah tampak berkaca kaca. "Hey,, jangan bilang itu benar" Risa memperhatikan raut wajah Bella. "Jadi....? " Bella menganggukkan kepalanya.


"Iya,, aku.. aku dicampakkan" ucap Bella dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


"Ayo kita pulang dulu dan ceritakan semuanya padaku"


Setelah 45 menit, mereka sampai drumah sederhana yang tidak terlalu besar, bukan rumah tingkat, tapi dari luar tampak hijau, ibunya Risa sangat menyukai tanaman. Rumahnya tampak segar.


"Assalamualaikum.. " kami mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam" Jawab orangtua Risa.


"Ayah, ibu apa kabar?"


"Bella, Alhamdulillah kami sehat nak" jawab ibu Risa. Kami sudah biasa memangil orangtua Risa dengan panggilan Ayah dan Ibu sama seperti Risa dan mereka pun tidak keberatan.


"Apa Citra tidak ikut, biasanya kalian selalu bersama" tanya ibu Risa sambil mencari keberadaanmencar.


"Citra sibuk jadi juragan laundry bu, mungkin lain waktu kami akan datang bersama" jawab Bella.


"Nanti saja ngobrolnya, biarkan Bella istirahat dulu, dia pasti lelah" ucap ayah Risa.


"Oh iya, yasudah nanti saja kita ngobrolnya, sana istirahat nanti ibu bawakan cemilan"


"Ayo Bell,, kita ke kamar dulu" Kemudian mereka melangkah bersama menuju kamar Risa. Disana banyak foto kebersamaan mereka.


"Aku jadi rindu Citra, udah lama kita tidak pergi bersama"


"Bagaimana kalau nanti kita suruh dia kesini"


"Itu ide bagus"


Beberapa menit kemudian.


tok tok tok.


Pintu terbuka, Bella yang membuka pintu.


"Hii... kak Bella, ini Damar bawakan cemilan untuk kakak, semoga kakak suka" ucap Damar adik Risa yang masih di bangku SMA,


"Hii juga.. Damar gendut, kapan nih mau kurus?" jawab Bella.


"Astaga,, cantik tapi bermulut licin" Damar langsung membalikkan badan, ia sudah biasa dengan bullyan sahabat sahabat kakaknya. Bella segera menutup pintu setelah Damar pergi, meletakkan cemilan di atas meja kemudian mencicipinya.

__ADS_1


__ADS_2