Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 10. Perjuangan Rinjani


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 10


Mengetahui kalau putra bungsunya menderita penyakit leukemia, Rinjani mencoba tegar. Pemahaman dia akan penyakit ini sudah banyak dia ketahui, sehingga tahu apa yang harus dilakukan untuk mengobati Attar. Untungnya penyakit yang menimpa si bungsu telah terdeteksi sejak dini, jadi masih bisa disembuhkan.


Perempuan itu memeluk putranya yang terbaru lemah di atas brankar. Meski mencoba bertahan tetap saja cairan bening itu keluar dari netranya. Dibelai lembut pipi Attar yang kini mulai tirus tidak chubby seperti biasanya.


'Ya Allah, aku tahu Engkau tidak akan pernah memberikan suatu cobaan melebihi kemampuan aku. Lapangkan dan ikhlaskanlah hatiku dalam menjalani semua ini.' (Rinjani)


"Nak, ibu akan melakukan apapun agar kamu cepat sembuh kembali," gumam Rinjani, lalu mencium kening dan kedua pipi putranya.


***


Terlihat dua orang anak sedang sibuk di dapur. Mereka mengolah singkong menjadi keripik. Tangan-tangan kecil mereka sangat terampil dan cekatan saat memotong singkong itu menjadi tipis-tipis menggunakan suatu alat. Setelah dua wadah besar singkong selesai diiris tipis. Aqilah pun menyalakan kompor gas dengan wajan yang berukuran sangat besar sudah siap diletakkan di atasnya.


"Kak, sebenarnya Adik itu sakit apa?" tanya Azzam sambil membersihkan sampah bekas kulit singkong.


"Kakak juga tidak tahu. Mudah-mudahan saja bukan suatu penyakit yang serius dan Adik bisa cepat sembuh," jawab Aqilah dengan kedua tangannya sibuk mengurai singkong itu agar tidak menyatu.


Aqilah saat ini sudah bisa menggoreng singkong dan memberi bumbu yang pas sesuai dengan resep yang diberikan oleh ibunya. Gadis kecil itu menggoreng semua singkong tadi setelah itu langsung diberi bumbu agar meresap, setelah dingin baru dibungkus ke dalam plastik. Meski hanya sedikit yang bisa mereka buat, setidaknya setiap hari mereka masih bisa menjual dagangannya. 


"Kak, pesanan Bu Dewi biar besok sama abang saja yang mengirimkan ke sana sebelum pergi ke sekolah," kata Azzam sambil memasukan pesanan toko Bu Dewi.


"Terima kasih, ya, Bang. Nanti sarapan dan bekalnya biar kakak yang bawakan. kita sarapan di sekolah saja, ya?" Aqilah membereskan bekas menggoreng singkong, karena banyak minyak yang terciprat di sekitaran kompor gas, jadi harus di pel.

__ADS_1


Malam itu mereka hanya berdua saja di rumah karena ibunya harus menemani adik mereka yang sedang dirawat di rumah sakit. Mereka juga makan hanya dengan mie instan yang sebungkus dibagi berdua.


***


Rinjani mencari tahu persyaratan agar mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk pengobatan Azzam. Setelah itu dia pun pulang ke rumah untuk melengkapi berkas yang diperlukan. 


Saat dia mau minta persetujuan surat keterangan tidak mampu dari Pak RT, keluarga mereka merasa turut prihatin atas apa yang sudah menimpa bocah kecil itu. Lalu, Bu RT berinisiatif menggalang dana dari para warga untuk membantu biaya pengobatan Azzam.


Hal yang menjadi masalah bagi Rinjani adalah saat meminta tanda tangan kepala desa untuk surat keterangan itu. Ada orang yang menyindirnya secara terang-terangan, bahkan mengatakan kalau kau Pak Djoko sedang tidak berada di tempat. Dia adalah salah seorang perempuan yang dulu datang ke rumah Rinjani bersama dengan istrinya Pak Djoko. Hati Rinjani merasa sakit saat menerima penolakan itu. Dia pun mencoba bertanya kepada pegawai desa lainnya.


"Loh, kamu wanita yang dulu membawa anak kecil dan mencari pekerjaan itu ya?" tanya seorang wanita bertubuh gempal. 


Saat Rinjani berjalan di halaman Kantor Desa Suka Jaya, dia bertemu dengan seorang perempuan yang mengenali dirinya. Rinjani mengingat perempuan itu yang dulu pernah menggunakan jasa tenaganya untuk mencuci gorden dan mencabut rumput di halaman. Lalu, dia pun berbincang-bincang sejenak dengan wanita itu. Bahkan memberi tujuan dia datang ke kantor Kepala Desa.


"Mana kertasnya? Sini biar aku suruh keponakanku untuk meminta tanda tangan Pak kepala desa. Sungguh keterlaluan! Orang lain sedang ditimpa musibah ini malah dipersulit." Wanita yang sering dipanggil Bu Ningsih itu pun menghubungi seseorang.


"Alhamdulillah, semua persyaratan sudah terpenuhi hingga ke dinas kesehatan." 


Seharian itu Rinjani berkeliling kota mendatangi kantor-kantor instansi pemerintah agar dia bisa mendapatkan pengobatan gratis untuk putranya. Setelah itu dia memberikan semua berkas ke pihak administrasi rumah sakit. 


Senyum Rinjani terukir saat masuk ke ruang rawat Attar, ternyata di sana sudah ada Aqilah dan Azzam. Dia memeluk erat kedua anak itu, karena merasa sudah mengelantarkan mereka.


"Maafkan Ibu, ya, Nak! Karena tidak bisa mengurus keperluan kalian sehari-hari," lirih Rinjani dengan hati dan dada yang terasa sakit.


"Tidak apa-apa, kok, Bu. Kita 'kan, sudah besar jadi sudah bisa mengurus diri sendiri. Ibu hanya perlu fokus untuk pengobatan Adik saja," balas Aqilah sambil mengusap air mata ibunya.


"Iya, Bu. Biar Adik bisa cepat sembuh kembali," lanjut Azzam yang mengusap-usap punggung Rinjani. Seperti yang sering dilakukan ibunya.

__ADS_1


Keberadaan dua anaknya di sana menjadi pelipur lara bagi Rinjani. Celotehan keduanya membuat dia dan Attar tertawa. Meski banyak hal buruk yang menimpa keluarga kecil itu, tetapi mereka menjalani semua itu dengan hati yang ikhlas dan kesabaran.


La Tahzan Innallaha ma'ana, itu yang selalu di gumumkan dalam hati mereka. Sebuah kalimat yang membuat keluarga Rinjani menjadi diri yang kuat dan tidak larut dalam kesedihan.


***


Saat sore harinya Aqilah dan Azzam dikejutkan dengan kedatangan Bagaskara ke rumah. Laki-laki itu membawa banyak makanan dan beberapa buku bacaan untuk Aqilah dan Azzam, sedangkan untuk Atar dia membawakan mainan. 


Kedua bocah itu pun senang saat melihat ada ayam bakar kesukaan mereka dan juga beberapa snack sebanyak satu kantong plastik besar. Setelah kemarin hanya makan mie instan saja, hari ini terbayar dengan makanan yang begitu mewah bagi kedua bocah itu.


"Sebenarnya adik Attar sakit apa?" tanya Bagaskara setelah Aqilah dan Azzam menyelesaikan makannya.


"Tadi Dokter bilang kalau adik sakit leukemia," jawab Aqilah.


"Apa? Leukemia." Bagaskara sangat terkejut mendengar penyakit yang sedang diderita oleh anak kecil berusia 3 tahunan itu.


"Apa itu penyakit berbahaya?" tanya Aqilah dan Azzam bersamaan karena mereka melihat adanya perubahan dari ekspresi wajah Bagaskara.


Ditanya seperti itu oleh kedua bocah kecil, membuat Bagaskara kebingungan. Mana mungkin dia mengatakan kalau penyakit itu sangat mematikan.


***


Apa yang akan dilakukan oleh Aqilah dan Azzam saat tahu penyakit itu sangat berbahaya bahkan bisa membuat penderitanya meninggal? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.


__ADS_1


__ADS_2