Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 21. Rinjani dan Dewa


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 21


Hati Rinjani terasa pilu saat melihat ketiga anaknya tidur saling berpelukan. Dia berjalan dengan pelan agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan mereka. Diciumnya kening anak-anak itu satu persatu. Cairan bening yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya, kini jatuh tanpa bisa dia bendung lagi. Sepeninggalan sang suami tercinta, dia merasa begitu banyak air mata yang keluar dari netranya. Senyum yang dulu selalu terukir dari raut wajah dia pun seakan terasa langka saat ini. Canda tawa di rumah ini juga seakan ikut pergi bersama dengan Dewa. 


"Mas, aku rindu sama kamu," lirih Rinjani sambil melihat buku nikah mereka berdua.

__ADS_1


Sosok Dewa dalam hatinya belum tergantikan oleh siapapun. Meski banyak orang yang datang untuk melamar dirinya. Laki-laki itu hanya seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan dan merangkap pesantren yang ada di sebuah kota kecil. 


Dia pergi merantau ke ibu kota setelah lulus STM. Melakoni pekerjaan serabut untuk biaya kuliahnya. Meski dia seorang pemuda miskin tanpa adanya keluarga, tetapi keinginan mencari ilmu sangat kuat. Pemuda itu juga pantang menyerah. 


Setelah lulus dari sebuah universitas ternama di ibu kota dengan mengandalkan beasiswa, Dewa pun diterima bekerja di perusahaan PT.ATMAJA milik kakeknya Rinjani.


Rinjani pertama kali bertemu dengan Dewa ketika berlari di jalan raya hendak melintas dan tanpa melihat kanan kiri, ada sebuah motor yang sedang melaju cepat dari arah kanan. Untungnya ada Dewa yang baru kembali dari masjid yang tidak jauh dari kantor perusahaan itu. Pemuda itu menarik tubuhnya, sehingga kecelakaan itu pun terhindari. Rinjani yang masih menggunakan seragam putih abu-abu, langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada sosok yang sudah menolong dirinya.


Rinjani tersenyum manis mengenang saat pertama kali melihat Dewa. Setelah itu dia selalu rajin datang ke kantor perusahaan kakeknya hanya untuk bisa melihat Dewa. 

__ADS_1


"Aku masih mencintaimu, Mas. Rasanya cintaku untuk lawan jenis sudah habis untukmu sejak pertama kali kita bertemu."


Rinjani rasanya ingin kembali ke waktu saat dia mengejar-ngejar cinta Dewa, sampai akhirnya laki-laki itu pun menyerah dan mau menerima cintanya. Kado terindah saat ulang tahun ke-20 adalah cintanya diterima oleh sang pujaan hati. Kisah cinta beda kasta pun sejak itu dimulai dengan sembunyi-sembunyi.


Rinjani pun membaringkan tubuhnya di samping Aqilah, dia membelai kepala putrinya. Tadi, Pak RT dan Bu RT sempat datang sebentar ke rumah untuk mengecek anak-anak. Mereka menceritakan usaha anak-anaknya untuk mengeluarkan dirinya dari penjara. Saat bercerita Pak RT dan Bu RT sambil menangis, mereka ikut sedih saat melihat ketiga anak kecil berjalan ke sana-kemari mencari bantuan agar ibunya bisa dibebaskan dari penjara.


"Maafkan ibu, Sayang. Tidak bisa menjadi sosok yang pantas untuk dijadikan panutan oleh kalian. Terlalu banyak kekurangan dalam diri ibu. Semoga saja nanti kalian menjadi orang-orang yang lebih baik dari kedua orang tua kalian ini." Rinjani pun memejamkan matanya, masih ada waktu sekitar 2 jam lagi sampai waktu berkumandang adalah subuh.


***

__ADS_1


Bagaimana reaksi ketiga anak-anak itu saat bangun tidur dan melihat ada ibu mereka sudah ada di sana? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2