Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 35. Kedatangan Bagaskara


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 35


"Pak RT punya burung yang besar? Burung apa itu?" tanya Kakek Atmaja penasaran.


"Burung beo," jawab Attar.


Kakek Atmaja tertawa terkekeh mendengar jawaban dari cucu buyutnya. Dia tadi sudah berpikir yang tidak-tidak.


Mereka bermain-main di taman sambil menunggu waktu sarapan. Tadi mereka minta dibuatkan sarapan nasi goreng kepada sang ibu.


"Adik kita main kucing-kucingan, yuk!" ajak Azzam.


"Ayo," balas Attar sambil melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kakek Atmaja.


"Kakek, duduk di kursi dulu, ya." Aqilah pun menuntun laki-laki tua renta itu menuju kursi yang ada di teras.


***


Rasa rindu Bagaskara tidak bisa dia bendung lagi. Setelah berolah raga pagi, dia segera mempersiapkan diri untuk menemui Rinjani dan anak-anaknya. Bahkan dia sengaja melewatkan waktu sarapan. Laki-laki itu mengendarai mobil dengan perasaan riang. Mulutnya tidak berhenti mendendangkan setiap lagu yang dia putar. 


Hari Minggu ini suasana jalanan ibu kota ramai oleh orang-orang yang menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang terkasih. Sekarang para warga lebih suka melakukan olah raga dan kegiatan bersama. Ini lebih baik bagi mereka dari pada berdiam di rumah. Ada kawasan yang tidak boleh dilalui oleh kendaraan selama ada kegiatan car free day. 

__ADS_1


Hal ini membuat Bagaskara harus mengambil jalan memutar untuk sampai ke rumah Kakek Atmaja. Namun, tidak masalah baginya. Sejauh apa pun jalan itu pasti akan dia tempuh agar bisa bertemu dengan sang pujaan hati. Laki-laki ini sedang mengalami masa puber. Kelakuannya tidak kalah dengan anak-anak remaja yang baru saja merasakan cinta pertama. Namun, cinta dia masih bertepuk sebelah tangan dan belum berbalas. Meski begitu tidak membuatnya patah arang untuk mendapatkan cinta sang janda.


Setelah lebih dari setengah jam dia melakukan perjalanan, akhirnya bisa sampai juga ke kediaman keluarga Atmaja. Perasaan bahagia langsung meluap-luap ketika melihat ketiga anak kecil yang sedang berlarian di taman. Bagaskara pun langsung berlari menghampiri mereka.


"Hap! Akhirnya, Adik ketangkap," ucap Bagaskara sambil menggendong tubuh Attar dari belakang. 


Tentu saja ini membuat bocah kecil itu menjerit, karena terkejut dan takut. Tiba-tiba saja ada yang menggendongnya. Namun, saat sadar kalau Bagaskara yang sedang menggendongnya, Attar pun berbalik memeluknya.


"Om Bagas!" teriak Aqilah dan Azzam yang melihat ke arahnya setelah mendengar suara teriakan adik mereka tadi.


"Assalamu'alaikum. Kakak, Abang, dan Adik." Bagaskara menciumi pipi Attar dengan gemas.


"Wa'alaikumsalam, Om Bagas." Kedua anak kecil itu pun berlari dan memeluk pinggang laki-laki itu karena perbedaan tinggi badan mereka.


Keempat orang itu terlihat tertawa bersama dan saling berbincang-bincang di taman. Kakek Atmaja yang duduk di kursi teras pun melihat ke mereka. Pemandangan yang membuatnya tersenyum lebar. Dia ingin kalau anak-anak Rinjani bisa menerima Bagaskara sebagai pengganti ayah mereka. Namun, dia tidak akan lagi memaksa Rinjani untuk menjalin hubungan dengan Bagaskara. 


'Entah kenapa aku selalu merasa kalau kebahagian Rinjani itu bersama Bagaskara.'


Dulu Kakek Atmaja sering melihat, jika Rinjani dan Bagaskara bersama akan selalu beradu mulut. Hal ini karena laki-laki itu suka sekali menggoda sang cucu yang manja dan cengeng. Namun, jika pemuda itu tidak ada, cucunya selalu bertanya tentangnya. Sampai-sampai Papa Bima sering menyebut mereka pasangan Tom and Jerry. 


Melihat adanya kecocokan antara sang cucu dan anak rekan bisnisnya ini, maka Kakek Atmaja dan Papa Bima akan menjodohkan mereka berdua. Bahkan Mama Adira juga setuju dengan perjodohan ini. Sayangnya, tanpa mereka ketahui kalau Rinjani sudah punya kekasih yang sangat dicintai olehnya.


"Om Bagas, kok, bisa sampai ke sini?" tanya Aqilah.


"Iya. Om Bagas, tahu dari mana kalau kita sedang berada di sini?" tanya Azzam lanjut.

__ADS_1


"Om Bagas itu akan tahu di mana pun ibu berada," kata Attar yang dulu pernah mendengar kalimat ini saat Rinjani dan Bagaskara berbicara.


Laki-laki itu sangat gemas pada Attar. Dia pun kembali menngunyel-ngunyel bocah berusia 3 tahun. Entah kenapa dia sudah merasa kalau dirinya adalah ayah dari bocah ini.


"Hati Om yang membawa sampai ke sini," balas Bagaskara untuk menjawab semua pertanyaan dari anak-anak Rinjani.


"Kakak merasa kalau Om suka sama ibu. Benarkan?" tanya Aqilah sambil tersenyum menggoda Bagaskara.


"Tapi, ibu bilang tidak akan menikah lagi. Karena ibu sangat cinta sama ayah," ucap Azzam dengan lirih.


Mendengar perkataan kedua anak kecil itu, membuat Bagaskara merasa semakin sulit untuk mendapatkan hati Rinjani. Padahal dia dan ibunya sudah membuat rencana agar sang pujaan hati bisa menjadi pendamping dan belahan jiwanya.


"Apa Om Bagas tidak bisa menjadi pengganti ayah kalian?" tanya Bagaskara dengan senyum jahil.


Ketiga anak Rinjani terdiam dan saling memandang. Mereka tidak tahu harus menjawab apa. Dalam hati mereka mengakui kalau Bagaskara itu laki-laki yang baik. Namun, mereka tidak mau punya ayah tiri.


"Om Bagas, ingin menjadi ayah?" tanya Attar.


"Iya. Boleh tidak Om Bagas menjadi ayah Attar?" tanya Bagaskara sambil menatap ke arah bocah yang masih berada dalam gendongannya.


***


Jawaban apa yang akan diberikan oleh Attar kepada Bagaskara? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton. Cus meluncur ke novelnya, jika kalian yang belum pernah baca.

__ADS_1



__ADS_2