Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 22. Janganlah Bersedih


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


Bab 22


Rinjani merasa melihat sosok Dewa yang sedang berdiri di depannya menjadi imam sholat seperti biasa mereka lakukan. Suara yang membacakan ayat-ayat suci itu mengalun dengan merdu. Cairan bening yang tanpa dia sadari tumpah begitu saja. Rasa rindu yang membuncah dalam dirinya kepada sang belahan jiwa, membuatnya lupa kalau laki-laki itu telah tiada. 


Setelah selesai sholat, biasanya Dewa mengaji dan Rinjani akan diam mendengarkan sambil bersandar pada lengannya. Begitu selesai, sang suami akan mendoakan dirinya.


"Ya Allah, aku memohon pada-Mu, jagalah istriku dari fitnah lahir dan batin. Karuniai ia rizki halal."


"Aamiin."


Dewa pun mencium ubun-ubun, kening, kelopak mata, pipi, dan hidung milik Rinjani. Akan tetapi, wanita itu tidak mau kalau bibirnya dilewatkan. Jadi, dia yang sering mencium suaminya duluan. 


Selanjutnya, mereka pun akan melanjutkan ibadah lainnya yang membuat rasa cinta dan sayang kedua sejoli ini semakin bertambah. Namun, kali ini tidak. Dewa menyandarkan kepala Rinjani dan membelainya dengan lembut. Hal yang biasanya sering mengantarkan wanita itu pada mimpi indahnya.


"Mas, aku senang bisa seperti ini lagi. Melihatmu, mendengar suara kamu, dan bisa memelukmu. Belakangan ini aku merasa sangat rapuh, tidak ada teman yang selalu memberikan dukungan dan semangat. Hanya anak-anak kita yang membuat aku terus berjuang dan bertahan," kata Rinjani dengan suara sendu.


"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menjaga buah hati kita dengan baik. Aku yakin, istriku ini adalah seorang wanita yang hebat dan bisa melakukan hal yang terbaik untuk keluarga kita," ucap Dewa terjeda, "Sayangku ini juga wanita tangguh dan baik hati. Aku percaya semua takdir yang Allah berikan untuk dirimu adalah bukti rasa sayang-Nya kepadamu. Agar istriku ini menjadi seorang hamba yang mulia di hadapan makhluk ciptaannya. Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."


Mendengar ucapan suaminya ini membuat Rinjani menangis. Saat di penjara kemarin dia sempat berpikir kalau kehidupan dia menjadi sangat menyedihkan karena Dewa sudah meninggal dan membuatnya harus berjuang seorang diri. Dia juga bertanya-tanya kenapa Allah begitu banyak sekali memberikan cobaan dan kesulitan kepada keluarganya. Ya, itu karena Allah ingin melihat hamba-hamba-Nya semakin mendekatkan dirinya kepada-Nya. Namun, kebanyakan orang malah lupa kalau itu salah satu bentuk kasih sayang Allah dan malah menyalahkan Allah.


"Mas, terima kasih sudah pernah menghiasi hidupku. Kamu adalah takdir terindah yang Allah berikan kepadaku," pungkas Rinjani.


"Sayang, titip anak-anak, ya. Aku percaya kalau kamu bisa memberikan yang terbaik untuk mereka. Karena kamu adalah wanita terbaik dan terhebat yang pernah aku kenal. Terima kasih sudah menghiasi hari-hari dalam hidupku dan membuat aku bisa merasakan kebahagian dan kesempurnaan sebuah keluarga. Aku selalu mencintaimu dan juga anak-anak." 

__ADS_1


Dewa menatap Rinjani dengan senyum tampan yang sering membuat jantung wanita itu berdebar-debar. Lalu, memeluk dan mencium keningnya seperti biasa laki-laki itu lakukan saat akan pergi bekerja.


***


Aqilah merasa ada seseorang yang memeluknya dari arah belakang. Tentu saja dia merasa terkejut sekaligus takut, karena tadi tidak ada siapa siapa yang tidur di samping kirinya. Gadis kecil itu pun membuka mata dengan cara perlahan, dilihat kedua adiknya masih ada di tempat mereka semalam.


'Lalu, siapa orang yang sudah memeluk tubuh aku ini?' 


Akhirnya Aqilah pun melihat ke arah tangan orang yang sedang memeluknya. Betapa terkejut sekaligus gembira, saat dia melihat tangan yang selama ini selalu membelai, memeluk, menyentuh, dan menyuapinya saat masih kecil itulah yang sedang memeluknya. Gadis kecil ini pun lalu memberikan tubuhnya dan terlihat sang ibu yang tadi tidur di belakang dia.


"Ibu!" Aqilah memeluk sambil menangis tubuh ibunya.


Bukan hanya Rinjani saja yang terbangun karena suara panggilan dan tangisan Aqilah, kedua saudara laki-lakinya yang lain pun juga ikut terbangun. Azzam dan Attar yang melihat ibu mereka pun langsung bangun dan memeluk tubuh wanita cantik itu.


Rinjani merasa sangat bahagia melihat keadaan ketiga anaknya dalam keadaan baik-baik saja. Tangis haru bahagia tidak bisa dia tahan. Diciumnya kening anak itu satu persatu.


"Ibu semalam pulang saat kalian sudah tidur," jawab Rinjani.


Pagi hari itu keluarga Rinjani menjalani aktivitas seperti hari biasa, tetapi dengan perusahaan bahagia. Attar yang takut ditinggal kembali oleh ibunya tidak mau lepas dari gendongan. Bocah berusia 3 tahun itu terus saja menempel pada ibunya dan tidak mau diajak bermain oleh Aqilah atau Azzam.


Saat mereka memulai aktivitas membuat keripik untuk diantarkan ke toko Bu Dewi, Bagaskara sudah datang ke rumah dengan membawa banyak sekali makanan dan Mainan untuk Attar. Kedatangan laki-laki itu disambut baik oleh ketiga anak Rinjani.


"Om Bagas, belum pernah bertemu dengan ibu, 'kan?" tanya Aqilah dengan senyum manisnya.


Bagaskara hanya tersenyum sambil mengusap kepala gadis kecil itu. Dia tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Rinjani di masa lalu, kepada anak-anak.

__ADS_1


"Ibu, kenalkan ini Om Bagas yang sering membantu kakak," kata Aqilah sambil menuntun laki-laki berbaju kasual ke arah dapur.


Rinjani yang sedang berada di dapur pun mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara. Terlihat Bagaskara meletakkan telunjuknya di mulut menandakan untuk diam, pura-pura tidak saling mengenal.


"Om Bagas ini Ibu," ucap Aqilah sambil merangkul Rinjani.


"Cantik," kata Bagaskara dengan senyum menawan.


Rinjani sedikit kesal karena Bagaskara bukannya memberi salam malah bilang cantik. Menurutnya itu tidak memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya.


"Assalamualaikum, Om Bagas. Kenalkan saya ibunya anak-anaknya. Terima kasih sudah sering membantu keluarga kami," ucap Rinjani sesopan mungkin.


Bagaskara menyadari kesalahannya dan tersenyum tersipu malu. Lalu, dia pun membalas ucapan salam tersebut. Selanjutnya, dia meminta Aqilah dan Azzam membagikan makanan yang tadi dia bawa.


Ketika ketiga bocah kecil itu asik membagi makanan yang dibawa oleh Bagaskara, laki-laki itu mendekati Rinjani. Kini keduanya duduk tidak berjauhan.


"Aku senang melihat anak-anak sudah ceria kembali," kata Bagaskara dengan perhatiannya masih mengarah pada tiga orang bocah yang kini sedang tertawa bahagia.


"Terima kasih, sudah mau membantu kamu," balas janda kembang dengan suaranya yang pelan.


"Aku sudah menghubungi Kakek Atmaja. Apa kamu akan ikut aku ke ibu kota untuk menemuinya?" tanya Bagaskara.


***


Apakah Rinjani akan ikut Bagaskara ke ibu kota untuk menemui kakeknya? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2