
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 13
Rinjani dan Azzam sedang berdiri di terminal dekat rumah sakit umum. Sementara Attar tidur dalam gendongan ibunya. Kendaraan menuju terminal kecamatan Suka Asih, masih lama karena mereka tertinggal sekitar 15 menit saat angkot sebelumnya datang ke sana. Mereka harus menunggu sekitar 45 menit lagi, biasanya jadwal kendaraan itu satu jam sekali. Padahal untuk sampai ke rumahnya, mereka harus naik 2 kali kendaraan umum. Rinjani tidak ingin kalau pulang ke sorean hanya karena terlalu lama menunggu kendaraan.
Suhu udara yang panas, polusi dari debu yang terbawa hembusan angin. Membuat Attar sering batuk-batuk jika ada angin yang cukup kencang berhembus padanya. Jadinya, Rinjani harus menutupi wajah si bungsu saat ada angin yang bertiup ke arahnya.
Azzam sendiri senang melihat pemandangan yang baru pertama kali ini dia lihat. Bangunan-bangunan perintah kota yang dapat terlihat berjajar di pusat kota itu. Lalu, diseberang ada berderet sekolah negeri paling favorit nomor 1 di kotanya, mulai dari SD, SMP, dan SMA. Azzam tidak tahu kalau lurus terus ke arah kanan di sana ada masih ada komplek sekolahan elite swasta yang hanya diisi oleh orang berduit tebal.
'Ya Allah, semoga nanti aku dan Kak Aqilah bisa sekolah di sana.' Azzam melihat ke arah dinding tembok yang bertuliskan SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 SUKA CITA.
Saat mereka sedang melamun dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba saja ada sebuah mobil mewah berhenti di depan Rinjani dan anak-anaknya. Tentu saja wanita itu tahu siapa pemilik kendaraan berwana merah menyala ini, karena sering mendatangi rumahnya.
"Rinjani! Sedang apa kamu di sana?" tanya Dirga setelah dia menurunkan kaca jendela mobil.
Melihat senyum menyebalkan milik laki-laki yang belakangan ini sering menggodanya, membuat Rinjani malas berurusan dengan dia. Lalu, dia pun jawab, "Sedang menunggu seseorang."
'Seorang sopir yang membawa angkot menuju ke terminal Suka Asih.' Rinjani melanjutkan ucapannya dalam hati.
"Oh, aku kira kamu mau pulang ke rumah. Tadinya, aku mau sekalian ajak kamu naik mobil," balas Dirga.
Rinjani mengira kalau Dirga akan pergi, tetapi laki-laki itu malah mematikan mesin mobil dan keluar dari sana. Tentu saja Rinjani merasa heran dengan perbuatannya ini. Namun, dia memilih mengabaikan keberadaan laki-laki itu. Dalam hati dia tidak henti berdoa untuk keselamatan dirinya dan juga anak-anak.
Dirga berdiri tidak jauh dari ibu tiga anak itu. Dia secara terang-terangan memperhatikan dan mengagumi wajah cantik milik Rinjani. Sudah beberapa kali dia selalu mengajak menjalin hubungan serius pada wanita ini, tetapi selalu ditolak olehnya.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa yang sedang kamu tunggu?" tanya Dirga setelah 30 menit berlalu.
Belum juga Rinjani menjawab angkot menuju ke kecamatan Suka Asih sudah datang. Dia pun menggandeng tangan Azzam dan berpamitan kepada Dirga.
"Hei, bukanya kamu sedang menunggu seseorang!" Dirga berjalan cepat menyusul Rinjani yang hendak naik angkot.
Dengan tubuhnya yang tinggi dan atletis, laki-laki itu menghalangi pintu angkot. Hal ini membuat Rinjani tidak bisa langsung naik.
"Om, minggir! Jangan menghalangi kami." Azzam mendorong tubuh Dirga sekuat tenaga dia, meski hanya gerakan kecil yang membuat laki-laki dewasa menggeser selangkah.
"Bu, mau naik, enggak?" tanya si sopir.
"Mau, Pak. Ini pintunya terhalangi," jawab Rinjani.
Si sopir itu pun lantar menghardik Dirga, "Woi, jangan menghalangi penumpang mau naik!"
"Bang, aku hanya mau membawa istri dan anak-anak pulang naik ke mobil di depan sana. Tapi, dia kekeh ingin naik angkot," balas Dirga menahan dirinya agar tidak terjadi keributan di daerah orang lain. Laki-laki itu juga menunjuk mobil yang terparkir di depan.
Sopir itu pun mengira kalau Rinjani dengan Dirga itu pasangan suami istri yang sedang bertengkar. Begitu juga dengan penumpang lain di dalam angkot.
"Kalian berdua sebaiknya selesaikan masalah rumah tangga di tempat lain. Jangan menghalangi usaha orang mencari rezeki," ucap si sopir angkot.
"Maafkan kami, Bang. Jalan saja, biar aku urus istriku ini," balas Dirga dan mobil angkot itu pun pergi.
Wajah Rinjani terlihat masam. Rasanya dia ingin mendamprat laki-laki yang kini tersenyum kepadanya. Namun, dia harus menahan diri di depan kedua anaknya. Sebab, kata-kata makian tidak patut di contoh.
Hari sudah lewat tengah hari, mana mungkin dia harus bersabar menunggu lagi angkot berikutnya. Mana Attar juga harus minum obat dan beristirahat. Maka, wanita itu memutuskan ikut naik mobil Dirga.
__ADS_1
Senyum menawan terukir dari laki-laki yang sedang mengemudikan mobil. Meski Rinjani menolak duduk di sampingnya, tetapi dia masih bisa dengan jelas melihat wajah cantik wanita itu.
"Anak kamu sakit apa?" tanya Dirga sambil melihat ke arah kaca spion tengah.
"Leukemia limfoblastik," jawab Rinjani yang sedang mengusap-usap kepala Attar.
"Apa? Lalu, apa sudah mendapatkan penanganan dari dokter." Dirga saat itu juga melakukan rem mendadak. Untungnya Rinjani dan Azzam memakai sabuk pengaman, sehingga tubuhnya tertahan tidak membentur jok depan.
"Astaghfirullahal'adzim," ucap Rinjani dan Azzam bersamaan, serta jantung mereka berdetak kencang seakan mau lepas dari tempatnya.
"Tidak bisakah kamu mengemudikan mobil dengan benar?" bentak Rinjani dengan mata melotot dan raut wajah yang berubah merah karena suasana hatinya saat ini sedang marah sekali.
Azzam sendiri sejak tadi menatap tajam pada laki-laki yang sudah memaksa mereka untuk naik ke mobilnya. Sungguh dia tidak suka dengan kelakuan arogan dari orang kaya ini.
Dirga juga sudah menyadari tatapan tidak suka dari Azzam. Tatapan bocah laki-laki berusia 6 tahun lebih ini, sejak dulu selalu menatapnya dengan tajam tanpa ada senyum yang tersungging meski hanya seulas.
"Maaf. Apa sudah dapat perawatan yang tepat?" tanya Dirga sambil membalikan badannya agar bisa melihat Rinjani dan Attar.
"Bagaimana kalau aku ajak kamu dan Attar ke Singapore untuk berobat?" tanya laki-laki bernama lengkap Dirgantara.
Rinjani merasa sangat kesal saat mendengar ucapan Dirga. Laki-laki ini menurut perempuan itu, orang yang paling menyebalkan di dunia.
"Tenang, aku yang akan membiayai pengobatan itu," lanjut Dirga.
***
Jawaban apa yang akan diberikan oleh Rinjani? Apakah demi kesembuhan Attar, perempuan itu bersedia menerima uluran tangan dari Dirga? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1