
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 32
"Mama bertemu dengan Rinjani bersama dengan ketiga anaknya," kata Mama Adira.
"Apa? Di mana Mama bertemu dengan mereka?" tanya Bagaskara. Dia ingin tahu bagaimana mereka bisa bertemu. Lalu, wanita paruh baya itu menceritakan pertemuan dirinya dengan perempuan yang gagal jadi calon menantunya, dulu. Awalnya dia ragu-ragu saat pertama kali melihatnya. Ini dikarenakan Rinjani sekarang memakai jilbab, sedangkan dahulu tidak.
"Apa kamu tahu anak-anaknya Rinjani itu mirip dengan Dewa. Terutama yang laki-laki dia foto copy-an dengan bapaknya. Walau yang perempuan mirip Rinjani meski ada bedanya. Anak yang masih kecil itu lucu sekali, mama rasanya ingin menggendong itu bocah," ucap Mama Adira bercerita dengan menggebu-gebu.
Bagaskara masih menatap ke arah mamanya. Dia tadi sempat menyangka kalau sang mama akan mencak-mencak marah dan mengomel. Namun, reaksi yang dia perlihatkan saat ini berbeda.
"Ma—"
"Sekarang Rinjani sudah jadi janda beranak tiga. Apa kamu masih mengharapkan dirinya?" tanya Mama Adira.
Ditanya seperti ini tentu saja Bagaskara akan bilang, kalau dirinya saat ini sedang mencoba mendekati dan merebut posisi Dewa di dalam hatinya. Namun, dia harus menahan diri untuk melihat situasi keadaan keluarganya.
"Kalau aku bilang masih mengharapkan dia. Apa Mama dan papa mau memberikan restu kepada kami nanti?" tanya Bagaskara.
__ADS_1
Ditanya seperti ini oleh putra sulungnya membuat Mama Adira merasa tercubit hatinya. Rasa cinta Bagaskara kepada Rinjani sudah membuat dia menutup hatinya pada orang lain. Jika dia dan sang suami mencoba mengenalkan pada seorang perempuan, putranya akan kesal dan marah.
"Iya, tentu saja kami akan memberikan restu kepada kamu. Kami ingin kamu bisa hidup bahagia bersama dengan orang yang kamu cintai,Bagas," jawab Mama Adira sambil berderai air mata.
Betapa bahagianya Bagaskara saat mendengar ucapan ibunya ini. Dia pun langsung memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih, Ma. Dengan mendapatkan restu dan doa dari Mama dan papa, semoga kali ini aku bisa bersatu," kata Bagaskara dengan mata yang berkaca-kaca. Laki-laki ini merasa sangat senang saat keinginannya didukung oleh orang-orang terdekat. Hal ini bisa menjadi penyemangat dia untuk meluluhkan hati Rinjani.
***
Kakek Atmaja memeluk satu persatu anak Rinjani. Selain itu, dia juga mencium kening dan menatapnya dengan mata yang berbinar. Dia tidak menyangka kalau cucunya yang manja dan cengeng itu kini sudah mempunyai anak.
Saat Kakek Atmaja melihat Aqilah, dia merasa melihat Rinjani saat masih kecil. Apalagi mereka sama-sama mempunyai lesung pipi. Saat laki-laki tua itu melihat ke arah Azzam, dia pun seakan melihat laki-laki yang sudah mencuri cucu kesayangannya. Tatapan dan sorot mata yang begitu mirip. Bahkan ada tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Terakhir, bocah yang paling kecil, perpaduan antara Rinjani dan Dewa. Meski masih banyakan mirip bapaknya.
"Iya, kakek tahu. Ini Aqilah, ini Azzam, dan yang bungsu adalah Attar," balas Kakek Atmaja sambil tersenyum tipis.
Rinjani selama ini belum memperlihatkan mereka kepada kakeknya. Dulu dia bilang hanya mengatakan sudah punya tiga orang anak hasil pernikahannya dengan Dewa.
"Kakek tahu dari mana?" tanya Rinjani. Dia yakin kalau kakeknya itu diam-diam sudah memata-matai keluarganya. Tentu saja dia kurang suka dengan tindakannya ini.
"Bagaskara yang memberi tahu kakek. Dia juga banyak mengirim foto kalian. Makanya kakek sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kalian," jawab laki-laki tua itu sambil menatap sayu pada Rinjani.
__ADS_1
"Kakek merasa senang. Akhirnya sebelum menutup mata ini, masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan kamu dan anak-anak," lanjut Kakek Atmaja.
Saat ini mereka masih berada di depan teras rumah. Lalu, mereka semua pun masuk ke dalam rumah.
Desain interior yang dulu di buat oleh Rinjani masih tetap seperti ini. Tidak ada yang berubah apa pun, kecuali kalender duduk yang ada di meja kecil.
Begitu juga saat mereka masuk ke ruang keluarga, ruang makan, atau dapur. Semua masih tetap sama seperti saat dia meninggalkan rumah ini dahulu.
"Semua masih tetap seperti dulu, 'kan? Tidak ada yang berani merubah posisi atau menggantikannya dengan yang baru," pungkas Kakek Atmaja sambil berjalan dituntun oleh Rinjani.
Mereka pun duduk di ruangan samping halaman kanan rumah itu. Terlihat taman bunga yang indah dari balik jendela besar itu. Seorang pelayan di rumah itu pun menghidangkan air minum dan beberapa cemilan kesukaan ketiga anak itu. Tentunya mereka meminta izin kepada sang Kakek Buyut untuk mencicipi makanan yang disuguhkan.
"Kakek sengaja menyediakan ini semua untuk kalian. Makanlah, jika masih mau, banyak makanan di dapur. Minta saja kepada Mbok Mar," kata Kakek Atmaja.
"Terima kasih Kakek Buyut yang baik hati," balas ketiga anak kecil itu.
Mendapat panggilan seperti ini membuat Kakek Atmaja merasa terharu akan ketulusan ucapan ketiga Buyutnya. Dia merasakan kebahagian yang baru dia rasakan kembali setelah sekian lama.
"Kalian tinggallah di sini selamanya bersama Kakek, mau, 'kan?" tanya Kakek Atmaja.
***
__ADS_1
Jawaban apa yang akan diberikan oleh ketiga anak Rinjani? Apakah Bagaskara akan mudah mendapatkan hati Rinjani kali ini? Tunggu kelanjutannya, ya!