
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 39
Anak-anak bangun sebelum adzan Ashar berkumandang. Mereka langsung mandi dan bermain ke sebuah mall yang ada di ibu kota. Rinjani sengaja mengajak mereka ke sana karena di kampung tidak pernah pergi ke tempat seperti ini. Meski sebenarnya Kakek Atmaja tadi tidak setuju.
Aqilah, Azzam, dan Attar merasa sangat senang saat bermain di time zone. Mereka memainkan hampir semua permainan yang ada di sana. Rinjani hanya mengawasi selama anak-anaknya bermain. Mereka diberi waktu satu jam untuk menikmati permainan di tempat itu, karena Rinjani ingin membelikan keperluan mereka lainnya yang pastinya akan membutuhkan waktu yang sangat lama dalam mencari dan memilih.
Saat Rinjani sedang duduk di kursi stainless sambil melihat ke arah Attar yang sedang naik kereta-keretaan, tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk di sampingnya. Wanita itu pun langsung mengalihkan perhatiannya kepada orang yang kini duduk di sampingnya. Dia bisa mencium wangi parfum itu seperti milik orang yang dikenal. Ternyata dugaan dia benar, laki-laki yang tiba-tiba saja terlintas dalam otaknya kini sedang duduk sambil melambaikan tangan pada Attar.
"Om Bagas, dadah!" Attar tersenyum senang.
'Ini pasti perbuatan kakek?' (Rinjani)
Wanita itu diam tidak menyapa Bagaskara. Mereka baru saja berpisah dua jam yang lalu kini sudah bersama lagi. Rinjani tahu kalau kakeknya itu masih menginginkan dirinya menikah dengan Bagaskara meski tidak pernah mengucapkan hal itu secara langsung.
"Om Bagas," ucap Aqilah sambil mencium tangan laki-laki itu.
"Kenapa ada Om Bagas di sini?" tanya Azzam dengan penuh selidik.
"Karena hati kecil Om yang membawa sampai ke sini. Saat melihat ada seorang bidadari cantik sedang duduk sendirian, maka om hampiri saja. Takut ada yang ngulik. Nanti kalian akan bersedih jika ibu kalian hilang," jawab Bagaskara dan membuat ketiga anak itu langsung memeluk ibu mereka.
"Bagaskara, apa-apaan, sih, kamu!" Rinjani melotot ke arah laki-laki yang kini tersenyum lebar pada wanita itu.
"Ibu tenang saja. Abang pasti akan menjaga ibu dengan baik. Tidak akan Abang biarkan ada orang yang membawa itu pergi jauh dari kami.
"Adik juga akan menjaga Ibu," kata Attar ikut-ikutan kakaknya.
"Kakak juga akan melindungi Ibu. Pokoknya tidak akan kami biarkan ada yang membawa Ibu pergi," lanjut Aqilah.
__ADS_1
Ucapan ketiga anak kecil itu membuat hati Rinjani dan Bagaskara bergetar. Kedua orang dewasa itu tidak menyangka akan mendapatkan perhatian seperti ini dari mereka.
"Ibu juga akan jaga diri baik-baik agar jangan sampai ada orang yang mengambil ibu atau menjauhkan ibu dari kalian," kata Rinjani sambil membalas pelukan anak-anaknya dalam satu rangkulan.
"Kita menyayangi Ibu," lanjut Aqilah sambil mencium pipi Rinjani. Perbuatannya itu diikuti oleh kedua adiknya yang lain.
"Sampai kapan pun kami akan sayang sama Ibu," lanjut Azzam.
"Ibu menikah saja sama Om Bagas, agar ada yang bantu jagain Ibu," ujar Attar yang menirukan ucapan Kakek Atmaja.
Deg!
Jantung Bagaskara rasanya jatuh dari tempatnya ke perut dia. Ucapan Attar itu menyerukan isi hatinya. Dia berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Rinjani selama 24 jam full jika sudah menjadi suaminya.
"Jangan, Abang tidak mau punya ayah tiri," kata Azzam dengan lirih.
Azzam tahu kalau Bagaskara itu baik orangnya. Namun, dia tidak mau mempunyai ayah tiri yang takutnya nanti malah membuat kehidupan keluarga mereka menjadi tidak bahagia.
"Kakak juga setuju. Ibu jangan menikah lagi dan melupakan ayah," lanjut Aqilah.
Bagaskara menatap sendu ke arah Rinjani dan anak-anaknya. Namun, Rinjani tidak balik melihat ke arahnya. Laki-laki itu pun hanya tersenyum tipis saat Attar menatapnya.
"Kita pergi membeli baju dan mukena untuk Abang dan Kakak," kata Rinjani mengajak anak-anaknya.
Bagaskara pun langsung menggandeng tangan Aqilah. Attar pun dia gendong karena takut hilang di kerumunan orang. Sementara Azzam menggandeng tangan Rinjani. Orang-orang melihat mereka seperti satu keluarga harmonis dan bahagia.
Pertumbuhan Azzam dan Aqilah setahun belakangan ini sangat cepat dan membuat pakaian mereka sudah banyak yang kekecilan. Rinjani pun membelikan beberapa potong baju.
Bagaskara bisa mengobati luka di hatinya, karena kehadiran dia di tengah-tengah keluarga Rinjani diterima dengan baik. Mereka menyayangi dirinya dan selalu melibatkan dirinya saat menjalani kegiatan keluarga itu.
"Besok sebelum kami pulang, Om datang ke rumah, ya. Kita makan siang bersama," kata Azzam dan disetujui oleh Bagaskara.
__ADS_1
"Om suka makan apa?" tanya Attar dengan gaya khas anak kecil yang masih cadel.
"Hm, Om suka makan bakar ayam sambal kemangi," jawab Bagaskara.
"Ibu, besok buatkan masakan kesukaan Om Bagas, ya!" pinta Aqilah.
"Insha Allah. Apa sudah tidak sekalian dengan perkedel kentangnya?" tanya Rinjani.
Bagaskara terkejut saat mendengar ucapan Rinjani barusan. Sebab, salah satu menu makanan favorit dia adalah perkedel kentang.
'Ternyata kamu masih mengingat makanan kesukaan aku itu. Padahal sudah lama, sejak kamu pergi aku tidak pernah memakan perkedel. Karena itu selalu mengingatkan diriku kepadamu.' (Bagaskara)
"Jika itu tidak merepotkan kamu untuk memasakkannya," balas Bagaskara.
Saat mereka berjalan ke parkiran untuk menuju mobil mereka. Tiba-tiba saja ada sebuah motor yang melaju kencang ke arah mereka. Bagaskara yang terlambat menyadari hal itu pun langsung mendorong Rinjani dan anak-anaknya.
***
Apakah Rinjani dan anak-anaknya akan baik-baik saja? Atau justru Bagaskara yang akan menjadi korban? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.
Irwansyah adalah suami dari Rela Ambarita, anak didik dari ayah Azizah. Dia seorang penyayang dan penyabar. Rumah tangganya yang harmonis jadi hancur, saat dia minta izin untuk menikahi Azizah atas permintaan gurunya. Azizah, seorang guru PAUD dan guru mengaji, harus kehilangan rahimnya karena menderita kanker rahim. Tunangannya meninggalkan dia, setelah tahu tidak akan bisa memberikan keturunan.
Mama Fatonah yang merupakan ibu kandung Irwansyah menolak keras permintaan putranya itu.
Kebaikan hati Rela, memberikan izin pada Irwansyah untuk menikahi Azizah setelah mengetahui kisah pilu hidup gadis sholeha itu.
Tekanan batin Rela dan Azizah rasakan saat mulai kedatangan Tante Rose di rumah mereka, yang suka mengadu domba dan menyebarkan gosip.
Akankah kehidupan rumah tangga mereka bahagia di tengah-tengah gunjingan para tetangga?
__ADS_1
Apakah Irwansyah akan mempertahankan keduanya atau melepas salah satunya?