Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 47. Kemarahan Kakek Atmaja


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 47


"Berani-beraninya kamu!" teriak Kakek Atmaja dengan ekspresi wajah yang sangat murka.


Bagaskara hanya diam tidak bergerak ketika Kakek Atmaja kembali memukulkan tongkatnya ke arah badannya. Dia menerima itu dengan pasrah.


"Apa selama ini kamu selalu diam-diam melakukan hal seperti itu kepada cucuku? Jawab!" bentak Kakek Atmaja dengan napas yang ngos-ngosan.


"Kalau Kakek ingin jawab jujur dari aku, maka jawabannya adalah ini pertama kalinya. Inginnya, sih, dari dulu," balas Bagaskara dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya karena pukulan yang bertubi-tubi tadi dilayangkan oleh laki-laki tua di hadapannya ini.


"Apa kamu bilang!" hardik kakeknya Rinjani dan kembali memukuli Bagaskara dengan tongkatnya.


Beberapa saat yang lalu ….


Bagaskara mencari keberadaan Rinjani. Dia menelusuri rumah milik Kakek Atmaja mulai dari lantai satu sampai lantai tiga. Dilantai ini tidak terlalu banyak ruang hanya ada perpustakaan, mini bioskop, gym olahraga, dan tempat laundry.


'Rinjani ke mana, ya?' 


Bagaskara membuka ruang perpustakaan. Dia melihat perempuan itu sedang duduk bersandar di sofa dekat kaca jendela. Laki-laki itu pun duduk di sampingnya sambil menatap wajah cantik sang pujaan hati.


'Ya Allah, kenapa kamu menciptakan Rinjani secantik ini? Makanya banyak perempuan yang iri pada kecantikan dirinya.' 


"Mas Dewa," lirih Rinjani.


Bagaskara yang mendengar itu pun merasa hatinya tersayat. Rasanya dia ingin sekali dirinya berubah menjadi Dewa, laki-laki yang dicintai oleh Rinjani. 


Melihat air mata yang keluar dari mata perempuan yang masih terpejam itu membuat hati dia lebih sakit lagi. Lalu, Bagaskara pun menarik kepala Rinjani agar bersandar pada dadanya.


"Ri—"


Cup


Rinjani mencium bibir Bagaskara. Tentu saja ini membuat laki-laki itu terkejut, tidak percaya, dan senang. Dia merasa banyak sekali kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Bahkan dia sedang merasa di dunia yang indah dan asing. Sengatan-sengatan listrik yang menjalar di sekujur tubuhnya membuat syaraf-syarat itu melemas. Bagaskara pun dengan ragu-ragu membalas ciuman dari sang pujaan hati. Namun, semakin lama ciuman itu semakin liar dan tidak terkendali. 

__ADS_1


"Rinjani tu—" 


Bagaskara mulai tersadar dengan apa yang sedang dia lakukan saat ini. Maka dia mencoba mendorong tubuh wanita yang kini memeluk lehernya dengan erat.


Cup


Bagaskara gagal menahan tubuh sang janda ini karena tenaga perempuan itu sangat besar. Akhirnya dia pun pasrah ketika tengkuknya ditarik kembali. Mereka kembali berciuman dengan lembut dan menggairahkan.


"Hei, sadar—"


Bagaskara melepaskan tautan bibir mereka dan berusaha menyadarkan Rinjani. Dia menepuk lengan wanita itu agar tersadar.


Cup


Lagi-lagi Rinjani mencium duluan, ketika bibir mereka terlepas. Bahkan kali ini lebih dalam dan bernapsu. Bagaskara sudah tidak bisa mengendalikan lagi dirinya. Seakan dia sudah terkena bisikan setan yang lupa akan dosa yang sedang mereka perbuat. Dia membalas ciuman Rinjani lebih rakus lagi, bahkan kini mereka berbaring di sofa sambil berciuman. Tangan Rinjani yang bergentayangan pada kepala, punggung, dan dadanya membuat laki-laki itu semakin bersemangat.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" teriak seseorang mengejutkan Bagaskara, sedangkan Rinjani masih berada di dunia mimpinya.


Tubuh Bagaskara menegang. Dia pun cepat-cepat berdiri meski Rinjani masih kadang menarik tubuhnya.


Kakek Atmaja memukulkan tongkatnya pada lengan bagian atas Bagaskara.


"Tunggu, Kek. Kakek boleh memarahi aku nanti sepuasnya. Tetapi, izinkan aku mengantarkan dulu Rinjani ke kamarnya. Dia sedang menangis dalam mimpinya. Kasihan dia, Kek." Bagaskara mencoba merayu laki-laki tua itu.


Kakek Atmaja melihat air mata Rinjani masih meleleh di sudut matanya. Hati dia ikut sakit melihat sang cucu seperti itu.


"Baiklah, bawa dia ke kamarnya dan aku akan ikut mengawasi kamu. Jika terjadi sesuatu pada Rinjani, maka aku tidak akan tinggal diam," ujar Kakek Atmaja dengan nada mengancam.


Bagaskara pun menggendong Rinjani dan membawa dia ke kamar tidur miliknya. Begitu dia meletakkan sang pujaan hati di atas ranjang dan hendak menyelimutinya, Kakek Atmaja melarang itu. Dia sendiri yang melakukan hal itu.


'Dasar kakek-kakek posesif.' (Bagaskara)


***


Rinjani terdiam di depan cermin sambil merapihkan jilbabnya. Dia menatap bibirnya yang sedikit agak berbeda. 


'Bibir aku bengkak. Apa karena tadi aku menangis dalam tidurku, ya?'

__ADS_1


Pipi Rinjani merona karena dia merasa sangat malu begitu agresif kepada suaminya meski dalam mimpi sekali pun. Walau memang kenyataannya dia juga suka agresif kepada Dewa sejak dulu.


'Aduh, sebagai perempuan aku terlalu agresif kayaknya. Tapi, tidak apa-apa kalau seorang istri agresif seperti itu kepada suaminya. Bukannya Dewa sendiri yang bilang suka aku yang seperti itu.' 


'Tapi, ciuman tadi kenapa rasanya berbeda dengan biasanya? Apa karena itu di dunia mimpi?'


Rinjani melihat ke arah jam di dinding sudah waktunya anak-anak mandi. Dia tidak menemukan keberadaan Attar di kamarnya. Lalu, dia pun beranjak mencari keberadaan anak bungsunya itu.


Tempat pertama yang dia datangi adalah kamar Azzam. Begitu masuk ke kamar itu terlihat kalau kedua putranya baru selesai mandi.


"Jagoan-jagoannya ibu sudah selesai mandi ternyata," ucap Rinjani sambil menghampiri mereka.


Kamar Azzam yang di dominan warna hijau muda dengan beberapa furniture yang melengkapi ruangan luas itu membuat siapa saja betah dan nyaman di sana. Lemari buku yang masih kosong belum terisi buku-buku pelajaran atau buku bacaan lainnya berada di dekat meja belajar dekat jendela.


Azzam berbeda dengan anak-anak kota ada umumnya yang suka menghiasi kamar mereka dengan berbagai mainan dan koleksi kesukaan mereka. Putra Rinjani ini lebih suka kamar dengan dinding yang polos dan bersih tidak bercorak. Tidak begitu suka dengan figur mainan atau gambar.


"Ibu, adik mandi sendiri dan bisa keramas sendiri sekarang," kata Attar dengan penuh kebanggaan.


"Wah, hebat sekali anak ibu. Lalu, mana baju bersihnya?" tanya Rinjani karena tidak melihat baju untuk ganti.


Attar baru sadar kalau ini bukan kamarnya dan tidak ada baju miliknya. "Lupa, Bu," jawab Attar sambil tersenyum.


"Yuk, kita ganti baju di kamar!" Rinjani menuntun putra bungsunya.


Begitu dia keluar kamar Azzam tanpa sengaja dirinya bertabrakan dengan Bagaskara. Keadaan laki-laki itu sangat kacau. Ada sedikit darah di ujung bibirnya. 


Bagaskara pun tersentak saat bertemu dengan Rinjani. Cepat-cepat dia menundukkan kepalanya.


"Kamu kenapa?" tanya Rinjani dengan tatapan nanar melihat kondisi Bagaskara yang tiba-tiba saja seperti orang yang habis berkelahi.


***


Apakah Bagaskara akan jujur pada Rinjani atas apa yang sudah terjadi kepadanya? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.


__ADS_1


__ADS_2