Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 60. Rinjani Dalam Sekapan Dirga


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 60


Dirga membuka mata dan yang pertama kali dilihat adalah wajah cantik Rinjani. Kedua netra mereka saling bersirobok dan terjerat dalam ke terdiaman.


Perlahan tangan Dirga menyentuh wajah Rinjani. Wanita itu pun memalingkan wajahnya.


"Kembalikan jilbabku!" ucap Rinjani ketus.


"Kamu cantik sekali," balas Dirga tidak menghiraukan permintaan Rinjani.


Rinjani berusaha bangun, tetapi Dirga menariknya, sehingga jatuh ke atas badan laki-laki itu. Kini jarak mereka hanya beberapa centimeter saja. Tidak sampai sepuluh centimeter.


"Lepaskan aku berengsek!" 


Rinjani menahan tubuh dan kepalanya saat Dirga berusaha menarik tengkuknya. Laki-laki itu ingin mencium bibir merah ranum milik sang pujaan hati.


"Kau pikir aku mau dicium oleh kamu," desis Rinjani sambil menutup bibir Dirga.


Adik dari Bagaskara bukanlah orang bodoh. Dia mencium dan menjilat telapak tangan Rinjani yang digunakan untuk menutup mulut Dirga.


Rinjani terbelalak dan tersentak, langsung saja dia menarik dan memukul mulut Dirga. Dia benar-benar marah akan kelakuan calon adik iparnya.


"Seharusnya kamu tahu kenapa aku tidak mau menerima kamu, dulu!" pekik Rinjani.


"Apa karena aku meminta kamu mengganti mobil aku yang rusak? Atau karena kamu merasa bersalah sudah kabur dari perjodohan dahulu?" tanya Dirga sambil memeluk erat tubuh Rinjani.


"Tidak dengan keduanya. Alasan aku menolak kamu adalah sifat kamu yang berengsek. Tipe laki-laki yang paling aku benci," jawab ibu tiga anak.

__ADS_1


Dirga tersenyum lebar lalu berbisik, "Jika kamu tidak ingin terjadi sesuatu kepada anak-anakmu yang baik dan lucu, maka turuti semua omongan aku."


Rinjani menatap Dirga dengan penuh kebencian. Wanita itu paling benci jika ada orang yang berbuat jahat kepada ketiga anaknya.


"Putuskan pertunangan kamu dengan Kak Bagas. Lalu, menikahlah denganku," bisik Dirga dengan suara sensual.


"Dasar pengecut! Bisanya mengancam seorang wanita dengan menggunakan anak kecil sebagai alat," tukas wanita berusia 30 tahun-an.


"Mana yang kamu pilih? Menikah dengan aku dan anak-anakmu selamat. Atau menikah dengan Kak Bagas dan mengorbankan anak-anakmu?" Dirga kini mengungkung tubuh si janda kembang.


***


Bagaskara mencari keberadaan hotel tempat Rinjani di sekap oleh Dirga. Dia seperti orang gila lari kesana-kemari mencari keberadaan sang kekasih.


"Maaf, mau tanya kamar yang dipesan atas nama Dirga?" tanya Bagaskara kepada resepsionis.


"Anda, siapa?" tanya pegawai resepsionis.


"Maaf, kami tidak bisa memberikan nomor kamar tempat Pak Dirga menginap karena urusan privasi," lanjut wanita berdandan full make up.


"Adik aku dalam bahaya!" bentak Bagaskara terjeda, "panggilkan manager kalian dan bawa aku ke kamarnya. Cepat!" 


Resepsionis itu pun menghubungi manager hotel dan tidak lama orang itu datang. Bagaskara bersama laki-laki seumurannya langsung pergi ke lantai paling atas.


Begitu kamar dibuka oleh manager hotel, Bagaskara langsung masuk dan berlari ke arah ruangan yang diduga kamar tempat Rinjani berada. Sebab, di ruangan utama tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan orang.


Betapa terkejutnya Bagaskara saat melihat Dirga berada di atas tubuh Rinjani meski masih memakai baju. Dia melihat Rinjani tanpa jilbab, amarah dalam dirinya langsung berkobar.


"Pak manager, jangan masuk!" titah Bagaskara sebelum masuk.


Laki-laki itu langsung menarik kerah baju Dirga dan memberikan pukulan pada wajahnya. Rinjani yang tangannya terhubung dengan tangan Dirga oleh borgol, ikut tertarik dan meringis karena tangannya merasa perih.

__ADS_1


"Mana kunci borgolnya?" tanya Bagaskara kepada Dirga sambil mencengkram kerah baju.


Sang adik hanya tertawa terkekeh. Dia menendang perut Bagaskara dengan kuat sampai terjungkal dari tempat tidur. Dirga pun menarik tubuh Rinjani dan memeluknya dari belakang dengan erat. 


"Lepaskan aku, Dirga! Kamu jangan berbuat hal yang gila," teriak Rinjani.


"Kamu sudah membuat aku gila, Rinjani." Dirga berbisik dan mencium leher wanita itu sampai meninggalkan bekas.


Air mata Rinjani meluncur membasahi pipi, dia merasa ternodai oleh laki-laki berengsek yang sudah beberapa kali membuat hidupnya kesusahan.


"Bagas," panggil Rinjani berharap laki-laki itu mampu menolongnya.


"Dirga, kamu jangan gila! Masih banyak wanita diluaran sana yang menyukai kamu. Rinjani sudah menjadi calon istriku," ucap Bagaskara.


Tiba-tiba saja pintu terbuka lebar. Ada Papa Bima, Mama Adira, dan Kakek Atmaja berdiri di sana, kemudian disusul oleh Paman Agung. Mereka semua terkejut melihat keadaan Rinjani dan Dirga.


Mereka buru-buru datang ke sini setelah mendengar dari Bagaskara, kalau Dirga sudah pulang ke Indonesia dan kini sedang berada di hotel. Berbekal nama hotel dan nomor kamar, keempat orang itu bisa cepat datang ke sana.


"Nak, lepaskan Rinjani. Kami minta maaf sudah berbuat tidak adil kepadamu," kata Mama Adira dengan derai air mata.


"Kalau Mama ingin aku maafkan, maka izinkan aku menikahi Rinjani," ujar Dirga.


"Tidak boleh!" Kakek Atmaja, Bagaskara, dan Paman Agung berteriak bersamaan.


"Baiklah, jika itu pilihan kalian. Aku juga sudah punya pilihan untuk Rinjani," ucap Dirga dengan senyum miringnya.


***


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.


__ADS_1


__ADS_2