
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 6
Mendengar ucapan Dirga barusan membuat Rinjani terperangah. Terkejut dan tidak menyangka kalau laki-laki yang duduk di seberang akan mengatakan hal itu.
"Maafkan aku, Tuan. Rasa cinta untuk suamiku masih tertanam kuat dalam hatiku," balas Rinjani dengan nada tegas untuk menunjukan penolakan dirinya.
Laki-laki itu hanya mendelikkan matanya. Beberapa hari terakhir ini, dia terus saja memimpikan wanita cantik berjilbab instan yang kini sedang menundukkan kepala.
"Seharusnya kamu terima saja ajakan aku ini. Aku tahu kehidupan keluarga kamu sekarang ini serba kesulitan. Jika, kamu mau menjadi istriku semua fasilitas nomor satu akan kamu dapatkan, apapun itu," ucap Dirga dengan kepercayaan diri yang tinggi, seakan mampu mewujudkan semua impian wanita itu.
Rinjani mengangkat wajah dan terlihat tatapan matanya sangat tajam. Seolah akan memakan Dirga hidup-hidup.
"Aku tidak butuh uang kamu!" desis Rinjani.
Dirga merasakan jantungnya lebih berdebar kencang saat melihat ekspresi wajah perempuan ini. Apalagi suaranya yang terkesan dingin dan tegas, seolah berubah menjadi alunan melodi indah yang ingin terus didengar oleh dirinya.
"Sekarang kamu bisa bicara seperti ini. Mungkin saja besok atau lusa kamu akan merengek ingin duduk di pangkuanku," pungkas Dirga dengan senyum miringnya.
Kesal itulah yang dirasakan oleh Rinjani saat ini. Seandainya saja diperbolehkan untuk menghajar seseorang, tentu dia akan memukulkan tangan ke wajahnya yang sombong.
***
Waktu terus berlalu dan sudah dua minggu sejak kedatangan Bu Siti dan Dirga ke rumah Rinjani. Kehidupan keluarga perempuan itu baik-baik saja meski diisi dengan membuat keripik dan mengantarkan ke toko Bu Dewi. Jualan keripik saat ini sedang laku-lakunya. Apalagi Rinjani membuat varian rasa pada keripik itu. Pertama itu, dia kirim dua rasa original dan pedas. Lalu, mencoba dengan rasa balado, jagung bakar, jagung manis, keju, dan super pedas. Saat pertama dia membuat 5 kg keripik singkong. Siapa yang tahu kalau keripik-keripik itu langsung habis, bahkan sebelum Rinjani beranjak dari toko. Jadinya, Bu Dewi meminta pesanan dua kali lipat, yaitu 10 kilogram, dengan variasi ukuran 250 gram, 500 gram, dan 1000 gram.
__ADS_1
***
Setiap manusia pasti akan mendapat ujian untuk mengukur keimanannya. Jika, orang itu ridho dan ikhlas saat menjalani ujian yang menimpa dirinya, maka Allah akan menaikan derajat dirinya. Namun, bagaimana yang di uji adalah anak kita? Seperti yang sedang dirasakan oleh Rinjani saat ini. Lagi-lagi Attar jatuh sakit dan kini demamnya jauh lebih tinggi, dibandingkan dengan dengan sakit yang tempo hari.
"Adik, minum obatnya dulu, ya?" Rinjani membeli obat warung untuk menurunkan demam itu. Untungnya Attar bukan anak yang rewel dan menyusahkan. Bocah kecil itu meminum obat rasa jeruk itu dan langsung di suruh tidur.
"Apa sebaiknya Adik kita bawa ke dokter, Bu?" tanya Aqilah berbisik takut membangunkan sang adik.
"Kalau besok demamnya tidak sampai turun, baru ibu akan membawanya ke dokter," balas Rinjani sambil mengompres kening dan menyeka tubuh Attar dengan air hangat.
Semalaman Rinjani tidak tidur dia terus mengompres tubuh putranya. Juga sesekali memberinya minum air putih.
Keesokan harinya ternyata suhu tubuh Attar masih demam tinggi. Rinjani pun membawa putra bungsunya ke Puskesmas. Dokter memberikan obat menurun panas dan meminta wanita itu agar jangan sampai telat memberikan air minum agar tidak terjadi dehidrasi.
Selagi Rinjani sibuk mengurus Attar, maka Aqilah dan Azzam yang membuat keripik untuk dagangan, meski tidak banyak yang mereka hasilkan. Namun, setidaknya ada barang buat jualan.
"Apa aliran airnya kecil? Kalau aliran air deras jangan, nanti ibu marah," tanya Aqilah.
"Tidak. Alirannya justru sedang kecil, makanya aku mau cari ikan di sungai bareng Andi dan Budi, nanti sepulang sekolah agama," balas Azzam.
"Kalau aliran air di rasa mulai naik kalian harus cepat-cepat beranjak dari sungai. Kakak tidak bisa ikut karena mau mengantarkan pesanan ini ke Bu Dewi," ujar anak gadisnya Rinjani.
Azzam bisa menangkap beberapa ekor ikan yang berukuran sedang. Betapa bahagianya dia karena dengan ini sang adik yang sedang sakit bisa makan daging ikan yang memiliki banyak gizi. ikan ikan itu pun diolah-oleh Rinjani dibuat sup agar Attar mudah memakannya.
"Alhamdulillah, Adik bisa makan banyak," ucap Rinjani senang begitu juga dengan bocah berusia tiga tahunan itu makan dengan sangat lahap.
"Adik harus segera sembuh, ya? Jika, ingin daging ikan lagi nanti Abang akan cari kembali di sungai," kata Azzam dan Attar pun mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Selama ini keluarga Rinjani hanya makan dari hasil kebun yang ada di pekarangan rumahnya. Daun singkong, labu siam, daun pepaya, kulit singkong, buah pepaya muda, atau kangkung yang tumbuh di pinggiran sungai. Kadang sesekali Azzam menangkap ikan bersama teman-temannya di sungai. Makan telur itu juga harus di kocok agar bisa dibagi-bagi.
***
Ketika Rinjani sedang memetik daun singkong untuk menu makan mereka. Tiba-tiba saja datang Kepala Desa, Pak Djoko. Tentu saja hal ini membuat ibu tiga anak itu terkejut.
"Pak Djoko ada apa?" tanya Rinjani yang masih membawa bakul berisi daun singkong.
"Kedatangan saya ke sini sebenarnya ingin meminta maaf kepada Dek Rinjani. Dulu istri saya bersama teman-temannya katanya datang ke sini, ya?"
Rinjani yang masih ketakutan terjadinya fitnah di antara mereka, tidak menyuruh Pak Djoko untuk duduk di kursi yang ada di teras, jadinya mereka masih berdiri di depan pintu pagar.
"Itu terjadi karena kesalahpahaman saja Saya juga tidak tahu kenapa bu Siti sampai melakukan hal seperti itu."
Dalam hati Rinjani berharap kalau Pak Djoko saudara pergi dari rumahnya. Dia tidak mau terjadi keributan atau labrak lagi oleh istri kepala desa itu.
Suasana kampung yang sedang sepi, karena para warganya masih pergi bekerja, malah membuat Rinjani menjadi was-was. Dia berharap kalau anak-anaknya segera pulang.
"Wah, jadi benar, ya! Kalau kalian ini diam-diam menjalin hubungan."
Datang tetangga Rinjani yang bernama Mpok Atun yang sering disebut biang gosip di desa mereka. Wanita itu menatap sinis ke arah Rinjani.
'Astaghfirullahaladzim, Ya Allah bagaimana in? Pasti akan jadi bahan gunjingan para tetangga.' (Rinjani)
***
Apa yang akan menimpa Rinjani setelah kepergok oleh si biang gosip? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1