Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 9. Leukemia Limfoblastik


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 9


Aqilah bingung harus menjawab apa saat ibunya bertanya. Sebab, dia juga hanya tahu namanya Bagaskara dan orangnya baik. 


"Om Bagas itu orang baik, Bu," ucap Azzam yang pernah beberapa kali bertemu dengannya.


Rinjani takut kalau orang itu sedang merencanakan sesuatu terhadap keluarganya. Dia tidak pernah bertemu dengan orang itu, hanya tahu namanya saja. Wanita cantik itu berpikir seperti itu karena tidak mungkin kalau dia berbuat baik terus menerus kepada orang yang baru saja dikenal.


"Meski begitu kalian harus hati-hati. Jangan mau di ajak melakukan apa pun atau mau diajak ke mana pun," kata Rinjani mengingatkan kedua anak yang sering berinteraksi dengan laki-laki itu.


Aqilah dan Azzam pun mengangguk tanda mengerti. Sebab, sekarang banyak sekali modus kejahatan yang direncanakan dengan baik-baik dan kadang kita tidak menyangka.


***


Malam harinya Rinjani kembali dikejutkan dengan keadaan Attar yang kembali demam. Wanita itu segera mengambil air hangat dan handuk kecil lalu mengompres ketiak dan selang_kangan Attar, berharap kalau panasnya segera reda.

__ADS_1


"Ya Allah, lindungilah putra hamba," lirih Rinjani sambil memeluk Attar. 


Cairan bening dari matanya yang sayu keluar tanpa dia bisa bendung. Hatinya ikut sakit saat melihat wajah pucat buah hatinya. Semalaman Rinjani tidak tidur, dia beberapa kali mengompres dan mengecek keadaan Attar. Bahkan bocah itu tidak lepas dari pangkuannya. Suaranya serak karena kurangnya istirahat dan hampir semalam dia mengaji membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang bisa memberikan ketenangan bagi dirinya dan juga Attar.


Rinjani salut pada putra bungsunya ini. Tidak sekalipun anak kecil itu menangis, paling memanggil nama ibunya, jika perempuan itu tidak terdengar suara mengaji atau saat ingin minum.


"Kak, jika sudah selesai sholat giliran sama ibu, jagain Adik." Rinjani tidak bisa meninggalkan anaknya itu.


"Adik, kenapa lagi, Bu?" tanya Aqilah.


"Demam lagi," balas Rinjani.


Rinjani yang hatinya merasa tidak tenang saat melihat darah keluar dari gusi Attar, langsung saja mendatangi rumah sakit. Meski masih pagi-pagi dia naik ojek dan mendatangi UGD. Dalam hatinya dia berharap bukan suatu penyakit serius. Bukan penyakit yang telah merenggut nyawa mamanya dahulu.


"Sebaiknya putra Anda terlebih dahulu di cek darahnya, untuk mengetahui penyebab kenapa dia sering mengalami demam bahkan mengeluarkan darah dari gusi," kata dokter ilmu kerja di dan Rinjani pun menyetujuinya.


Setelah beberapa jam menunggu hasil tes darah, dokter pun memanggil kembali Rinjani. Hasil tes laboratorium sudah keluar.


"Setelah kita melakukan pengecekan darah ternyata putra ibu mengalami Leukemia limfoblastik," ucap dokter sambil menunjukkan selembar kertas yang dia dapat dari ruang laboratorium.

__ADS_1


Bagai dihantam godam, Rinjani merasakan sakit disebut juga bahkan kakinya gemetar saat mendengar nama penyakit putra bungsunya. Hal yang dia takutkan tadi kini menjadi kenyataan. Air matanya pun langsung luruh dan mulutnya tidak bisa berkata apa-apa.


"Anda jangan terlalu khawatir, karena putra Anda masih bisa sembuh. Penyakit ini masih dalam gejala awal," lanjut dokter bernama Djatmiko.


Leukemia limfoblastik, terjadi ketika sumsum tulang memproduksi terlalu banyak sel darah putih limfosit abnormal yang belum dewasa (matang) atau disebut limfoblas. Jenis ini adalah yang sering terjadi pada anak-anak.


Inilah penyakit yang sedang diderita oleh Attar saat ini. Dokter Djatmiko juga menyeramkan agar Rinjani mengobati penyakit Attar dengan kemoterapi. Ini merupakan pengobatan utama untuk leukemia anak. Attar juga akan menerima obat antikanker untuk diminum atau disuntik ke dalam vena, otot, atau kanal tulang belakang.


Meski ada juga cara pengobatan lainnya. Seperti radioterapi atau terapi radiasi. Terapi ini menggunakan radiasi berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel kanker.


Terapi target. Pengobatan ini menggunakan obat yang dapat menyerang sel kanker secara spesifik tanpa merusak sel yang sehat.


Atau pengobatan transplantasi sumsum tulang. Pengobatan ini dilakukan dengan mengganti sel punca yang rusak akibat penggunaan kemoterapi dosis tinggi dengan sel punca yang sehat.


Dunia Rinjani serasa runtuh, bahkan ucapan dokter pun tidak ada yang dia pahami. Seakan masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Padahal nama penyakit ini bukanlah yang asing baginya. Dahulu neneknya juga meninggal akibat penyakit hal yang sama dengan yang diderita oleh ibunya. Dengan begini saja ada tiga generasi dari keluarga Rinjani yang menderita penyakit leukimia, yaitu sang nenek, mamanya yang meninggalkan dirinya ketika masih dalam ayunan dan juga putranya.


'Ya Allah, aku mohon jangan Engkau ambil Attar dari sisi kami.' (Rinjani)


***

__ADS_1


Cobaan apalagi yang akan diterima oleh Rinjani? Apakah Attar mampu bertahan dan bisa sehat kembali? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2