Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 24. Penyelesaian Masalah (1)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 24


Bagaskara meminta anak-anak jangan keluar rumah. Dia pun menghampiri Rinjani yang sedang berdiri seorang diri di depan kerumunan warga. Laki-laki ini kagum akan keberanian wanita itu. Terlihat jelas sikap dewasa dan tatapan tajam, juga ekspresi wajah yang tenang. Dia melihat sosok Rinjani yang baru. Sebelumnya dia tidak pernah melihat sikap dan ekspresi wajah seperti itu dari si gadis manja.


'Percuma saja aku mengkhawatirkan dia akan menangis-nangis karena mendapat tekanan dari orang lain. Ternyata dia sudah mampu menghadapinya seorang diri.' (Bagaskara)


Permintaan para warga untuk mendatangkan Pak Handoko terus digaungkan. Mereka ingin tahu siapa yang jujur dan bohong. 


Pak RT dan Bu RT baru datang belakangan, karena mendapatkan laporan dari warga yang baru saja datang ke rumahnya. Mereka tidak habis pikir kenapa Ibu Delima datang ke rumah Rinjani dan membuat keributan di sini. 


"Ibu Delima, memangnya ada masalah apalagi?" tanya Bu RT dengan kesal terlihat jelas dari nada suara dan ekspresi wajahnya.


"Aku tidak terima kalau wanita ini bebas dari penjara!" jawab wanita itu sambil menunjuk Rinjani.

__ADS_1


Bagaskara rasanya ingin langsung saja menyuruh pengacaranya untuk melaporkan Ibu Delima atas tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. Setidaknya dengan dua pasal yang menjerat wanita itu, penjara bisa jadi tempat instrospeksi diri dalam waktu yang cukup lama.


"Ya, mungkin karena sudah terbukti tidak bersalah kalau begitu," balas salah seorang wanita tua berdasar motif bunga.


"Iya, makanya polisi membebaskan Rinjani," timpal yang lainnya.


"Hei, atau jangan-jangan pencurian itu hanya akal-akalan kamu saja agar membuat Rinjani di penjara?" Para warga pun menduga seperti ini.


Ibu Delima mendadak pucat wajahnya, karena takut ketahuan. Kemarin, dia cemburu karena melihat suaminya terus saja menggoda Rinjani. Rasa marah langsung menguasai hatinya.


Begitu Rinjani pulang, dia dan suaminya bertengkar hebat. Saat dia masuk ke kamar tidur, dilihatnya ada kotak perhiasan. Lalu, dia ambil salah satu perhiasan yang mempunyai harga yang sangat mahal. Wanita itupun pergi mengejar Rinjani dan pura-pura marah kepadanya sambil memasukan cincin itu ke saku baju si Janda. 


Mau tidak mau dia pun memberikan cincin miliknya untuk diselidiki oleh pihak polisi. Jika, terbukti Rinjani bersalah, maka akan kembali di masukan ke dalam penjara.


Datanglah Pak Handoko yang dijemput paksa oleh warga. Mereka dulu selalu segan kepada keluarga ini karena kaya raya. Namun, setelah kejadian kemarin dan melihat anak-anak Rinjani ke sana kemari mencari keadilan buat ibunya. Membuat warga desa itu hatinya terenyuh dan iba. Mereka yang masih punya hati dan belas kasihan, tidak tega melihatnya. Aqilah yang berlarian ke sana kemari sambil menggendong Attar yang masih sakit, siapa yang tidak kasihan padanya. Ketegaran dan perjuangan anak Rinjani yang masih kecil itu membuat mereka berpikir, mana mungkin ibunya mencuri barang mahal dengan resiko ketahuan oleh yang punya barang. Perbuatan yang justru akan merugikan diri dan keluarganya.


"Bapak-Bapak … Ibu-Ibu, ada apa, ya? Kenapa aku dipanggil ke sini?" tanya Pak Handoko pura-pura tidak tahu. Sudah jelas pasti masalah cincin berlian itu.

__ADS_1


"Apa Pak Handoko tahu kalau Ibu Delima menuduh Rinjani mencuri cincin berlian miliknya. Lalu, memenjarakannya, tetapi pagi ini sudah di bebaskan oleh polisi. Itu artinya kalau Rinjani tidak bersalah," jawab laki-laki tua yang sudah renta.


"Iya, Abah. Rinjani mencuci baju di bagian belakang rumah dan menyetrika juga di ruangan yang di dekat halaman belakang. Sedangkan, kamar tidur kami berada di lantai dua. Lagian, memangnya Rinjani tahu di mana letak kamar kami," jelas Pak Handoko dan membuat para warga semakin percaya kalau Rinjani sudah difitnah oleh Ibu Delima.


Mendengar pembelaan suaminya terhadap sang janda, tentu saja membuat Ibu Delima murka. Dia pun menonjok muka Pak Handoko sekuat tenaga dia.


"Kyaaaak!"


Orang-orang yang ada di sana berteriak seiring dengan erangan kesakitan yang dirasakan oleh Pak Handoko. Bagaskara tidak mau Rinjani ketakutan, jadi dia menarik kepala wanita itu dan menyembunyikan wajah cantik itu di dada bidang miliknya.


Seakan sedang memanfaatkan keadaan yang sedang terjadi di sana, Bagaskara memeluk kepala Rinjani dan tentu saja wanita itu menolaknya. Meski dia terkejut dengan perbuatan Ibu Delima terhadap suaminya tadi, tetapi dia bukan wanita lemah yang akan menyembunyikan wajah atau dirinya pada orang lain.


"Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan!" desis Rinjani sambil mendorong kuat tubuh laki-laki itu.


"Tidak, kok. Aku memanfaatkan kesempatan yang ada saja. Lagi ini bukan dalam situasi sempit," balas Bagaskara dengan senyum jahilnya.


***

__ADS_1


Bagaimana Rinjani terlepas dari masalah ini? Bagaimana hubungan Rinjani dan Bagaskara kedepannya? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2