Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 34. Kakek Atmaja Bersama Ketiga Cucu Buyutnya


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 34


Malam itu Rinjani sengaja memasak makanan spesial untuk kakeknya. Ini untuk pertama kalinya dia memasak makanan untuk sang kakek tersayang. Sebab, dulu dia tidak pernah bisa memasak. Rinjani mulai belajar memasak ketika sudah menikah dengan Dewa. Suaminya itu dengan sabar mengajari semua hal tentang peralatan dapur dan bumbu masakan. 


Masakan pertama dia adalah menggoreng tahu dan tempe. Lalu, memasak telur mata sapi, dadar telur, dan merambah ke memasak tumis sayuran dan sayuran berkuah. Setiap hari dia rusak belajar memasak agar rasanya menjadi lebih enak dari hari ke hari.


Jangan ditanya bagaimana rasa masakannya. Tentu saja setiap kali dia memasak rasanya tidak karuan. Kadang keasinan karena kebanyakan garam atau hambar karena kurang garam. Kadang manis yang kelebihan banyak gula. Namun, semua masakan yang selalu dimakan oleh Dewa. Laki-laki itu menghargai jerih payahnya. Meski masakan itu sangat tidak layak untuk dimakan.


Berbeda dengan kali ini, Rinjani sudah mahir dalam berbagai macam masakan. Dia membuat pepes tahu dan ikan bandeng presto. Kakeknya sangat suka makan ikan seperti Azzam. Selain itu dia juga memasakkan cumi asam pedas kesukaan Aqilah dan dirinya.


Wangi bumbu yang dibuat oleh Rinjani langsung menyerang di seluruh ruangan dapur. Tentu saja ini membuat orang-orang yang mencium bau masakan itu ingin langsung mencicipi rasanya.


"Hmm, wangi sekali," ucap Kakek Atmaja sambil menelan air liurnya. Dia sungguh tidak sabar ingin merasakan masakan perdana buatan Rinjani untuk dirinya.


"Kakek, tahu tidak? Kalau masakan ibu itu paling enak sedunia!" kata Attar dengan sangat meyakinkan.


"Wah, benarkah? Kalau begitu kakek harus sering-sering makan masakan buatan ibu kamu," balas Kakek Atmaja.


Tidak lama kemudian, datang Rinjani bersama dua orang pelayan yang membawa seluruh hasil masakan dia dan menaruhnya di meja makan. Kakek Atmaja sudah tidak sabar ingin memakan pepes ikan bandeng yang tadi dibelikan mendadak oleh salah satu pegawainya. Rinjani pun melayani kakeknya dan juga Attar. Dia mengambilkan sedikit nasi dan pepes ikan yang dibungkus dengan daun pisang. 


Sementara itu, Aqilah dan Azzam mengambil makanan mereka masing-masing. Rinjani merasa senang saat melihat keluarganya menikmati makanan yang dia masak.


"Boleh tambah lagi, nggak?" tanya Kakek Atmaja dengan malu-malu. Baru kali ini dia merasakan nikmatnya makan setelah sekian lama. Ternyata makan bersama dengan keluarganya membuat napsu makan dia bertambah.

__ADS_1


"Boleh, tapi sedikit. Kakek jangan terlalu banyak makan nasi," ucap Rinjani sambil mengambilkan sedikit nasi ke piring kakeknya.


Ternyata ketiga anak Rinjani pun meminta tambah lagi. Mereka sangat senang bisa makan makanan enak. Malam ini pun mereka merasa sangat senang dan puas setelah makan malam bersama.


"Kakek ingin seperti ini terus selamanya," ucap Kakek Atmaja kepada Rinjani setelah selesai makan.


Wanita yang sedang menatap laki-laki tua itu hanya tersenyum sambil mengangguk. Dia juga merasakan hal yang sama malam ini. Perasaan bahagia bisa berkumpul kembali dan melihat orang yang disayangi setelah sekian lama.


Hal yang tidak terduga sesaat sebelum tidur adalah Kakek Atmaja ingin tidur bersama ketiga cucunya. Tentu saja disambut baik oleh anak-anak Rinjani. Kini mereka semua berada di kamar tidur yang sangat luas. Untungnya tubuh mereka itu kecil dan ukuran kasur cukup besar, sehingga bisa membuat semua orang.


"Sini, Kek. Biar kakak pijat," kata Aqilah sambil memijat bahu laki-laki tua yang kini duduk di atas kasur.


"Adik juga mau pijat Kakek," ujar Attar sambil memijat lengan Kakek Atmaja dan baginya malah terasa seperti di elus.


"Kalau begitu biar bagian kaki yang dipijat sama Abang," lanjut Azzam tidak mau kalah. 


"Wah, cucu kakek ini pintar sekali memijat.


Kalau begini kakek bisa-bisa minta di pijat setiap hari pada kalian bertiga," kata Kakek Atmaja.


"Tidak boleh setiap hari, Kek. Kata ayah bagusnya satu bulan sekali. Tetapi bisa juga seminggu sekali, jangan tiap hari, itu tidak baik untuk tubuh," jelas Aqilah.


"Iya, Kek. Kakek bisa berendam air panas. Eh, maksudnya air hangat," lanjut Azzam dan menutup mulutnya diiringi tawa.


Rinjani yang mengintip lewat celah pintu tersenyum bahagia saat melihat interaksi antara sang kakek dengan ketiga anaknya.


'Alhamdulillah. Engkau sudah melembutkan hati kakek dan anak-anak, sehingga mereka saling mengasihi dan menyayangi.' (Rinjani)

__ADS_1


Rinjani sengaja tidak ikut bergabung di sana karena ingin memberikan ruang dan waktu agar keempat orang itu bisa saling berinteraksi lebih bebas. Meski tadi dia sempat merasa was-was akan penolakan sang kakak terhadap anak-anak. Namun, kini itu semua tidak terbukti. Justru Kakek Atmaja merasa sangat bahagia karena telah hadir anggota baru di keluarganya.


Rinjani yang mengintip lewat celah pintu tersenyum bahagia saat melihat interaksi antara sang kakek dengan ketiga anaknya.


'Alhamdulillah. Engkau sudah melembutkan hati kakek dan anak-anak, sehingga mereka saling mengasihi dan menyayangi.'


Rinjani sengaja tidak ikut bergabung di sana karena ingin memberikan ruang dan waktu agar keempat orang itu bisa saling berinteraksi lebih bebas. Meski tadi dia sempat merasa was-was akan penolakan sang kakak terhadap anak-anak. Namun, kini itu semua tidak terbukti. Justru Kakek Atmaja merasa sangat bahagia karena telah hadir anggota baru di keluarganya.


***


Pagi harinya ketiga anak Rinjani diajak jalan-jalan oleh kakek Atmaja untuk mengelilingi halaman rumahnya sambil berolahraga pagi. Banyaknya pohon dan bunga yang tumbuh di sana membuat udara di sana terasa segar serta wangi. Aqilah dan Azzam berlarian kesana-kemari, sedangkan Attar dan Kakek Atmaja hanya berjalan santai sambil berbincang-bincang. Meski Attar bicara kadang masih cadel, tetapi laki-laki tua itu bisa memahami ucapannya.


"Kakek, nanti main ke rumah kita, ya!" pinta Attar yang berjalan sambil bergandengan tangan dengan Kakek Atmaja.


"Di kampung sana ada apa saja?" tanya laki-laki yang sudah berusia 80 tahun.


"Banyak. Ada sapi punya Mbah Jurig, bebek milik Mang Sapri, lalu ada juga burung besar milik Pak RT," jawab Attar sambil mengacungkan jari tangannya.


"Pak RT punya burung yang besar? Burung apa itu?" tanya Kakek Atmaja penasaran.


***


Apa jawaban Attar yang akan dia berikan? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.


__ADS_1


__ADS_2