Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 15. Cinta Rinjani Untuk Dewa


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 15


Bagaskara yang baru saja pulang dari kantornya, dibuat terkejut dengan keadaan rumah yang terlihat menjadi kacau balau seperti kapal pecah. Dia melihat sang adik sedang duduk dengan tangan yang menutupi matanya. Dalam sekejap rasanya dia ingin memarahi dan menghajarnya, tetapi dia merasa itu bukan yang harus dilakukan saat ini.


"Dirga, apa-apaan ini?" Suara Bagaskara meninggi. Dia tidak suka kalau adiknya itu berbuat kekacauan, karena ujung-ujungnya akan menyusahkan orang lain.


Para pekerja di rumah yang berdiri tidak jauh dari ruangan itu, terlihat ketakutan. Bagaskara menyadarinya dan meminta mereka untuk pergi dari sana.


"Kenapa kau melakukan semua ini? Jika kau ada masalah sebaiknya bicarakan dengan baik-baik, bukan dengan menghancurkan barang. Memangnya dengan begini semua masalahmu akan selesai?" Bagaskara berdiri di hadapan Dirga.


"Diamlah Kak Bagas!" balas Dirga tidak suka diganggu oleh kakaknya. Lagi masalahnya tidak perlu dibicarakan kembali, karena dia sudah ditolak perasaan cintanya.


Bagaskara menatap tajam ke arah adiknya, orang yang selalu mengedepankan emosi daripada pikirannya. Bahkan dia yang selalu membereskan masalah yang ditimbulkan gara-gara ada di Dirga.


Hari ini juga saat dia sedang bersama Aqilah tadi, sang  asisten di kantornya menghubungi kalau klien mereka meminta pengajuan kembali kerja sama yang sudah ditolak oleh Dirga. Padahal kerjasama itu telah disepakati oleh papa mereka, dulu. Jadinya dia buru-buru pulang ke ibu kota hanya untuk menyelesaikan masalah kerjasama ini.


Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meski usianya di atas kepala lima. Dia menuruni anak tangga dengan perlahan tetapi kedua matanya menatap arah kedua laki-laki dewasa yang sudah dia lahirkan.


"Ada apa ini? Kenapa kacau sekali? Apa kalian habis bertengkar?" tanya wanita berambut disanggul rapi sambil menatap ke arah anaknya.

__ADS_1


"Dirga yang sudah melakukan kekacauan semua ini," jawab Bagaskara dan Dirga hanya diam saja sambil memalingkan mukanya.


Mendengar pengaduan itu Mama Adira hanya menghela napas. Dia tahu kalau putra keduanya selalu pelampiaskan dengan menghancurkan barang-barang, jika dia dalam keadaan marah besar atau kecewa sekali.


"Kamu punya masalah apa sampai kacau begini?" tanya Mama Adira yang masih terus melihat ke arah Dirga.


"Bukan urusan Mama," jawab Dirga sambil berdiri, lalu dia pergi ke lantai atas.


Mama Adira hanya menatap kesal pada Dirga. Padahal sejak kecil kedua anak itu dibesarkan dengan cara yang sama tetapi setelah remaja keduanya terlihat jauh berbeda. Lalu, dia pun meminta kepada para pekerja untuk membereskan semua kekacauan yang sudah dibuat oleh putra keduanya itu.


Ketika Bagaskara juga hendak pergi dari sana, Mama Adira menghentikan langkah kakinya. Mau tidak mau laki-laki itu harus mengikuti keinginan ibunya.


Kini kedua orang itu sedang duduk di teras halaman samping sambil melihat pemandangan taman bunga. Semilir angin sore yang berhembus di sana, membuat mereka merasa semakin nyaman untuk beristirahat di sana.


"Maaf, Ma. Bagas menolak usul itu. Biarkan Bagas mencari pasangan sendiri untuk menjadi pendamping hidup," jawab Bagaskara.


Terlihat jelas ekspresi wajah Mama Adira yang kecewa. Dia sangat berharap kalau putranya itu mau menikah dengan anak salah satu bisnis mereka.


"Apa kamu masih belum melupakan perempuan itu?" tanya Mama Adira langsung menebus jantung Bagaskara.


Bagaskara baru merasakan pertama kali jatuh cinta pada sosok perempuan yang manja dan suka mengikuti ke mana pun kakeknya pergi. Sikapnya yang ramah dan mudah bergaul dengan orang lain, membuat dia yang seorang pendiam menjadi jatuh cinta kepadanya. Bahkan sampai sekarang pun dia masih sangat mencintainya.


***

__ADS_1


"Pokoknya abang tidak mau punya ayah tiri," kata Azzam saat membahas kejadian tadi siang.


"Kakak juga," lanjut Aqilah.


Rinjani sendiri juga tidak punya keinginan untuk menikah lagi. Dia terlalu mencintai suaminya, sehingga merasa tidak ada lagi laki-laki sebaik Dewa yang dia kenal.


"Bagi ibu saat ini adalah ingin membesarkan kalian bertiga, agar menjadi anak yang diharapkan oleh keinginan ayah dahulu," ujar Rinjani.


Dewa selalu berharap kelak anak-anaknya bisa menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. Anak-Anak yang bisa membaca Alquran dan memahami agamanya sendiri. Menjadi orang yang berguna bagi umat manusia. Anak-Anak yang saling menyayangi saudaranya satu sama lain. Menjadi orang yang sukses di dunia sampai akhirat. Itu semua sedang diwujudkan oleh Rinjani, sebagai bentuk rasa cinta dia kepada almarhum suaminya.


Aqilah dan Azzam ingat kembali akan ucapan mereka saat bersama dengan ayahnya dahulu. Saat itu mereka sedang merasa malas untuk pergi mengaji, tapi ayahnya masih saja memberikan semangat agar keduanya mau pergi ke masjid. Mereka juga sering mendengar doa orang tuanya agar bisa menjadi orang yang selalu berada di jalan lurus dan benar. 


"Ayah dulu sering bilang kepada kita, 'Berpegang teguhlah pada jalan yang diridhoi oleh Allah, agar kita bahagia di dunia dan akhirat', " ucap Azzam ingat kembali ucapan ayahnya sebelum pergi bekerja hari di mana kecelakaan itu terjadi.


"Itu artinya kita harus menjadi orang yang hanya menyembah Allah dan menjalankan perintah-Nya, serta menjauhi larangan-Nya," lanjut Aqilah dengan mata yang berkaca-kaca karena mengingat kembali sosok laki-laki yang selalu menjadi pahlawan baginya.


Rinjani pun memeluk kedua anaknya. Mereka menangis terisak mengingat kembali orang yang sangat berharga dalam kehidupannya.


'Mas, aku akan terus berjuang sampai akhir hayatku. Semoga kita dipertemukan kembali di akhirat.' (Rinjani)


***


Bisakah Rinjani mewujudkan keinginan Dewa semasa hidupnya? Bagaimana reaksi keluarga Rinjani saat tahu kalau Bagaskara dan Dirga kakak beradik? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2