
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 36
"Boleh tidak Om Bagas menjadi ayahnya Attar?" tanya Bagaskara sambil menatap ke arah bocah yang masih berada dalam gendongannya.
"Boleh. Nanti mau dipanggil dengan ayah—"
"Adik. Tidak boleh seperti itu. Tidak ada yang boleh menggantikan ayah," potong Azzam dengan sengit. Hal itu membuat Attar dan Bagaskara sangat terkejut.
Aqilah pun tidak mau ada yang menggantikan posisi ayahnya. Bagi dia, Dewa adalah satu-satunya orang yang akan dia panggil ayah. Dia juga tidak mau kalau ibunya sampai melupakan ayah mereka nanti karena sudah punya suami baru.
Dada Bagaskara terasa ditikam, sakit sekali tapi tidak ada darahnya. Dia tidak menyangka kalau anak-anak Rinjani yang lain akan menolak dirinya. Selama ini laki-laki itu tidak pernah memikirkan akan penolakan dari mereka.
'Bagas, kamu terlalu percaya diri sekali sudah bisa merebut hati mereka. Ternyata pada kenyataannya mereka tetap saja menganggap dirimu orang yang tidak pantas untuk menggantikan posisi ayah mereka.' (Bagaskara)
"Anak-anak, ayo, sarapan!" Terdengar suara panggilan dari Rinjani.
Aqilah dan Azzam berjalan ke arah rumah. Di susul oleh Bagaskara yang menggendong Attar. Ternyata Kakek Atmaja sudah di tuntun oleh oleh Rinjani berjalan masuk ke dalam rumah.
Wanita itu tahu kalau ada Bagaskara di sana, dia menyangka kalau laki-laki yang sedang bersama anak-anaknya itu adalah salah satu pegawai. Dia baru sadar ada Bagaskara saat laki-laki itu mendudukkan Attar di kursi dan beradu pandang dengannya.
"Bagaskara, sejak kapan kamu sampai ke sini?" tanya Rinjani.
"Tadi, saat anak-anak bermain di depan," jawab Bagaskara.
"Kamu sudah sarapan?" tanya sang janda kembang.
__ADS_1
"Belum," jawab laki-laki itu sambil menyeringai lebarnya dengan malu-malu.
Rinjani menarik napasnya. Dia tahu kalau sifat laki-laki ini suka berbuat semaunya. Dia mengira kalau Bagaskara buru-buru datang ke rumah kakeknya saat tahu kalau mereka sedang berada di sini sekarang. Sampai-sampai lupa untuk sarapan hanya untuk bertemu dengan anak-anak.
"Duduklah, sarapan bersama kami!" titah Rinjani dan tentunya membuat hati laki-laki itu merasa senang.
Suasana meja makan semakin ramai dengan kehadiran Bagaskara bersama mereka. Apalagi anak-anak saling berebut bercerita akan pengalaman mereka.
Setelah sarapan, Bagaskara mengajak ketiga anak Rinjani berenang di kolam renang yang ada di rumah Kakek Atmaja. Sebenarnya dia tadi ingin mengajak mereka berenang di wisata hiburan yang sedang viral. Namun, Rinjani melarang mendatangi tempat seperti itu. Akhirnya, mereka berenang di rumah.
Kakek Atmaja pun mendadak membeli perlengkapan renang untuk cucu-cucu buyutnya. Beberapa alat pelampung yang dipasang di kedua lengan dan leher. Kasur pelampung yang berukuran besar, sehingga ketiga anak itu bisa naik bersamaan.
Suara tawa riang gembira mereka menghiasi rumah mewah itu. Bahkan Kakek Atmaja sengaja menyuruh kepala pelayan untuk merekam kegiatan mereka. Sementara itu, dia hanya memerhatikan dan tertawa di kursi samping kolam.
Rasa luka di hati Bagaskara kini sudah terobati oleh tawa dan canda dirinya dengan mereka. Dia berpikir kalau saat ini masih belum mendapat dukungan dari anak-anak Rinjani untuk menjadi ayah sambung mereka. Namun, anak-anak itu masih sayang dan menerima dirinya dengan baik.
Rinjani diam-diam memerhatikan kegiatan ketiga anaknya dan Bagaskara. Dia senang kalau melihat mereka seperti saat ini. Wanita ini tahu kalau anak-anaknya itu begitu dekat dan mudah bergaul dengan Bagaskara. Hal ini dia rasa karena laki-laki itu memang orang baik.
***
Dirga sedang berada di sebuah mall, dia membeli banyak peralatan sekolah dan mainan untuk anak-anak Rinjani. Dia ingin menjadi orang yang baik di mata mereka.
Tidak setiap orang yang dengan mudah mengubah cara pandangnya. Dulu, Dirga sudah membuat kesusahan keluarga Rinjani. Bahkan membuat anak-anaknya dalam keadaan takut dan bersedih. Tentu saja mereka memberikan nilai yang buruk kepadanya.
"Semoga saja mereka suka," ucap laki-laki berpenampilan kasual dengan tubuh yang proporsional.
Seandainya saja cinta itu hadir pada pandangan pertama dan membiarkan Rinjani tidak perlu mengganti rugi kepadanya. Mungkin saja kisah mereka akan lain. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kini dia harus bisa menambahkan pelengkap saja agar bisa menikmati bubur itu agar menjadi lebih enak dan nikmat saat dimakan. Makanya, dia akan melakukan apa pun untuk mencuri hati anak-anak Rinjani.
Laki-laki itu pun pergi dengan perasaan senang setelah selesai membeli apa yang dia ingin beli. Langkahnya ringan dan mulutnya bersenandung ria, seakan melupakan hari kemarin yang membuatnya kesal karena tidak bisa menemui Rinjani.
__ADS_1
'Rinjani, akan aku buat kamu jatuh cinta kepadaku dan kita akan menghabiskan waktu bersama sampai maut memisahkan kita.' (Dirga)
***
Anak-anak Rinjani tertidur dengan pulas setelah lelah bermain di kolam renang. Mereka tidur di kamar masing-masing yang sudah disiapkan oleh Kakek Atmaja. Kecuali, Attar yang tidur di kamar milik Rinjani.
Cuaca yang cerah dan suasana lingkungan rumah yang tenang, membuat orang ingin bersantai menikmati hari libur mereka. Pemandangan halaman rumah yang terlihat indah dan asri membuat Rinjani terlena untuk duduk di kursi sambil memejamkan mata.
Bagaskara yang baru saja selesai membicarakan urusan pekerjaan dengan Kakek Atmaja, mencari keberadaan Rinjani. Dia ingin sekali menghabiskan waktu berdua meski hanya sebentar.
Rasa rindunya masih belum terobati. Tadi dia hanya bisa curi-curi pandang padanya. Saat melihat pintu ke arah balkon terbuka, maka dia pun melangkahkan kakinya ke arah sana. Dilihatnya ada Rinjani sedang duduk sambil memejamkan mata.
'Apa dia sedang tertidur?' (Bagaskara)
"Rinjani," panggil Bagaskara sambil mengguncangkan tubuh wanita itu.
"Apa?" tanya Rinjani sambil membuka matanya.
Bagaskara pun tersenyum, kemudian dia duduk di samping Rinjani. Rasanya dia ingin menarik wanita itu ke dalam dekapannya dan menyuruh tidur kembali.
"Ada yang mau aku bicarakan," jawab Bagaskara dengan tatapan masih mengarah pada wajah cantik Rinjani.
Kini Bagaskara dan Rinjani berbicara di balkon lantai dua. Kedua orang itu terlibat pembicaraan serius.
***
Apa yang menjadi pembicaraan mereka sampai serius seperti itu? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton. Cus meluncur ke novelnya, jika kalian yang belum pernah baca.
__ADS_1