Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 62. Pembicaraan Rinjani Dan Bagaskara


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 69


"Jangan ingkari janji kalian yang akan menyerahkan semua harta dan saham yang kalian miliki itu kepadaku. Aku ingin bukti bukan sekedar ucapan saja," ucap Dirga. 


Laki-laki itu ingin melihat bagaimana reaksi dari orang-orang yang ada di sana. Mata dia membulat saat Papa Bima dan Bagaskara menelepon pengacara mereka masing-masing dan meminta pembuatan surat pengalihan semua harta, baik itu aset yang ada di dalam negeri mau pun luar negeri.


"Kami sudah melakukan apa yang kamu mau. Sebentar lagi pengacara aku akan datang ke sini. Kita tinggal tanda tangan saja, maka semua akan menjadi milik kamu," ucap Bagaskara tanpa ragu.


Dirga tersenyum kecut kepada kakaknya. Dia kesal, sebal, dan benci, karena semua yang selalu di inginkan oleh Bagaskara bisa dia dapatkan. Baik itu dengan cara mudah atau berliku.


Terdengar pintu diketuk. Perhatian semua orang terarah ke pintu. 


Bagaskara melirik ke arah Rinjani. Lalu, dia mengambil jilbab milik wanita itu dan memberikannya agar segera dipakai.


"Terima kasih," ucap Rinjani dengan mata yang berkaca-kaca. 


Wanita itu merasa tenang karena bisa menutup kembali auratnya. Sejak tadi dia berharap ada orang yang memahami keadaan dirinya yang ingin menutup kepala dengan kain lebar itu.


Pintu dibuka oleh Papa Bima dan masuk dua orang pengacara, mereka pun menandatangani semua berkas peralihan aset kekayaan kepada Dirga.


'Aku ingin lihat apa kakak punya muka ingin mempersunting Rinjani.' (Dirga)

__ADS_1


Dirga akhirnya mau melepaskan borgol di tangan Rinjani. Begitu terlepas perempuan itu berlari ke arah kakeknya dan menumpahkan tangis seperti anak kecil yang sering dia lakukan dulu.


"Sudah, kamu akan baik-baik saja," ucap laki-laki tua itu sambil menepuk-nepuk punggung cucu perempuannya.


"Aku marah dan kesal padanya, Kek," lirih Rinjani.


***


Attar, Azzam, dan Aqilah menempel pada Rinjani. Semenjak dia pulang ke rumah, anak-anaknya takut kehilangan ibunya. Apalagi Attar bilang kalau ibu mereka hilang dan diculik.


"Apa mereka sudah tidur?" tanya Bagaskara di balik pintu.


Rinjani melihat anak-anaknya tidur pulas saling berpelukan. Senyum manis tercipta dari wajah dia yang cantik. Perlahan wanita itu berjalan ke arah pintu. Dilihatnya calon suami yang kini menatap sendu padanya. Tidak ada tatapan jenaka atau nakal dan jahil ke saat ini, seperti yang sering dia lakukan kepadanya.


"Kita harus bicara," ucapnya dengan lirih.


"Kamu sudah tahu keadaan aku saat ini. Tidak memiliki apa pun lagi. Apa kamu masih mau menjadikan aku pendampingmu dan menjadi ayah bagi anak-anak kamu?" tanya Bagaskara tidak melepaskan tatapannya dari sosok sang pujaan hati.


Rinjani menarik napasnya perlahan. Sinar matahari agak menyilaukan karena terus bergerak ke arah Barat dan akan terbenam. Dia pun menggeser duduknya dan mengarahkan pandangannya kepada laki-laki yang masih menatapnya sejak tadi.


"Ya, aku mau lanjut. Sejak awal aku niatkan untuk beribadah kepada Allah. Aku mau menikah dengan kamu bukan karena harta atau rupa kamu. Aku mau menerima pinangan dulu, karena kamu berjanji akan melakukan hal yang terbaik untuk aku dan anak-anakku. Kamu juga sudah belajar bagaimana agar bisa menjadi suami yang bertanggung jawab dan seorang ayah yang penyayang," ucap Rinjani.


"Harta bisa kita cari lagi, tapi mencari pasangan sesuai keinginan kita itu sangat sulit. Dari sekian banyak laki-laki, kamulah yang menurut aku paling baik," lanjut Rinjani.


Jantung Bagaskara berdetak sangat kencang. Jika tidak tertutupi oleh bunyi dedaunan yang beradu karena tertiup angin, dia merasa wanita yang duduk di depannya akan bisa mendengarkan.

__ADS_1


"Beri aku waktu satu tahun untuk kembali merintis usaha," ucap Bagaskara.


Laki-laki itu tetap ingin memberikan mas kawin sesuai dengan yang sudah di sepakati bersama kemarin. Dia tidak mau menurunkan harga atau nilainya.


"Kamu tidak perlu cemas dengan mas kawin untuk pernikahan kita, semampu kamu saja. Tidak ada uang, pakai bacaan ayat-ayat Alquran juga bisa," kata Rinjani tidak mau memberatkan Bagaskara perihal mas kawin mereka.


"Tidak. Aku akan tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu. Bukannya Rasulullah juga memberikan maskawin terbaik untuk Khadijah?" Laki-laki itu bersikukuh.


"Sebaik-baiknya wanita, tidak memberatkan mas kawin kepada calon suaminya untuk pernikahan mereka," balas Rinjani.


"Rinjani, kamu wanita spesial dalam hidupku. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk dirimu. Izinkan aku melakukan hal itu. Bukannya kita juga merencanakan pernikahan ini paling terlambat tahun depan? Maka, aku akan memilih waktu itu," tukas Bagaskara dengan tatapan memohon.


Melihat keinginan calon suaminya yang seperti itu membuat ibu tiga anak ini menganggukkan kepala. Dia juga tidak mau membuat Bagaskara malu, nanti. Dia ingin menjaga nama baik laki-laki yang sudah berkorban untuk dirinya.


Bagaskara menolak saham pemberian Kakek Atmaja. Begitu juga saat Paman Agung akan memberikan saham miliknya di salah satu perusahaan yang bergerak di real estate. Laki-laki itu lebih suka membangun usaha dengan kerja keras sendiri.


Selama ini Bagaskara bekerja di perusahaan milik keluarga. Namun, dia juga punya perusahaan sendiri. Dan menanam modal di banyak perusahaan. Selain itu, kakak kandung Dirga ini punya banyak pertanian di Kalimantan dan Sumatera. Perkebunan Sawit, karet, dan cengkih. Semua itu kini sudah menjadi milik Bagaskara.


Tinggal satu usaha yang dia punya, yaitu sebuah restoran yang masih tahap pengembangan. Restoran itu baru selesai dibangun belum selesai semua surat-surat kepemilikannya, karena orang yang menjual restoran itu minta tenggang waktu satu bulan lagi. Saat ini Bagaskara sudah minta bantuan pada temannya untuk merenovasi ulang bangunan restoran itu jika sudah ditinggalkan oleh pemiliknya.


Setidaknya dia masih punya ladang usaha selain bekerja di kantor papanya. Jika, usaha testoran ini ramai dan berkembang pesat, akan dijadikan sebagai mas kawin untuk Rinjani. Sebab, waktu satu tahun itu tidak akan terasa.


***


Apakah Pernikahan Rinjani dengan Bagaskara akan berjalan lancar? Apa Dirga sudah menyerah begitu saja? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus kepoin novelnya. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.



__ADS_2