Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 16. Dituduh Pencuri


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 16


Hari ini Rinjani menerima pekerjaan mencuci dan menyetrika di rumah Bu Delima, orang paling kaya di RT-nya tempat tinggal mereka. Attar kali ini tidak dibawa bersamanya karena kedua kakaknya sedang berada di rumah, masih dalam rangka liburan sekolah.


Seperti biasa perempuan itu akan memeriksa saku baju atau celana, takutnya ada barang berharga yang tertinggal. Setelah memisahkan pakaian putih dengan yang berwarna, Rinjani pun lantas segera mencuci pakaian-pakaian itu secara terpisah.


"Bu Rinjani, sini istirahat dulu! Jangan memaksakan diri kalau lelah," ucap Pak Handoko, suami Bu Delima.


"Terima kasih, Pak. Saya tidak merasa kecapekan, karena sudah terbiasa," jawab Rinjani begitu selesai menjemur pakaian berwarna putih.


Perempuan itu selalu membatasi dirinya bergaul dengan laki-laki, karena takut terjadi fitnah seperti kemarin-kemarin. Selain itu, Rinjani juga merasa tidak nyaman dengan tatapan Pak Handoko terhadap dirinya sejak tadi. Jadi, yang terbaik adalah dia secepatnya menyelesaikan semua pekerjaan yang dimintai kepadanya.


Semua pekerjaan yang diberikan kepadanya diberikan kepadanya diselesaikan dengan cepat oleh Rinjani. Sekarang tinggal menyetrika pakaian yang berada di dalam keranjang cucian yang menggunung.


Laki-laki Pak Handoko mendekati Rinjani dan mengajak bercakap-cakap. Perempuan itu hanya menjawab sekedarnya saja. 


"Bu Rinjani, bagaimana kabar anak-anak?" tanya Pak Handoko yang kini duduk tidak jauh di samping Rinjani.


"Alhamdulillah, baik," balas ibu tiga anak ini.


Pak Handoko dan Ibu Delima merupakan pasangan suami istri yang tidak memiliki seorang anak dari hasil pernikahan mereka. Sudah berbagi cara pengobatan kedua orang itu lakukan agar mereka segera memiliki keturunan.

__ADS_1


"Aku sangat mendambakan sekali ingin memiliki anak yang banyak, tapi sepertinya takdir tidak memihak kepadaku," ujar laki-laki yang usianya sudah menginjak kepala empat.


Rinjani tangannya semakin cekatan mengerjakan pekerjaannya, karena semakin tidak nyaman berada di rumah itu. Dia sempat melihat istri dari laki-laki ini melirik beberapa kali ke arahnya.


"Aku dengar anakmu yang paling kecil sedang sakit. Bagaimana kabar dia sekarang?" Pak Handoko menanyakan keadaan Attar.


"Alhamdulillah, penyakitnya sudah berangsur membaik karena ditangani oleh dokter dan langsung dalam pengawasannya," jawab Rinjani.


Seluruh tubuh Rinjani kini dipenuhi oleh keringat, karena dia benar-benar menggunakan tenaga ekstranya agar pekerjaan menyetrika cepat selesai. Ternyata benar saja biasanya dia memerlukan 2 jam untuk menyetrika pakaian sebanyak itu, sekarang hanya membutuhkan waktu 1 jam saja.


'Alhamdulillah, Ya Allah akhirnya selesai juga. Sebaiknya aku harus cepat-cepat pulang.' (Rinjani)


Begitu selesai, Rinjani pun mendatangi Bu Delima yang sedang berada di ruang keluarganya sambil menonton televisi. Setelah memeriksa hasil pekerjaannya, nanya rumah pun memberikan uang upah kepada Rinjani.


"Terima kasih, Bu Rinjani. Aku sangat tertolong sekali. Sudah tiga hari ini Bi Ijah mengeluh seluruh badannya terasa sakit sehingga tidak kuat untuk melakukan pekerjaan rumah," ucap wanita yang usianya lebih tua dari Rinjani.


***


Saat Rinjani berjalan kaki hendak pulang ke rumah, tiba-tiba saja terdengar suara klakson motor. Maka dia pun menghentikan langkahnya dan melihat siapa orang yang sudah memberikan tanda barusan.


"Hei, Rinjani! Kamu sudah mencuri cincin milikku, ya?" tuduh Bu Delima begitu turun dari motornya dengan memasang wajah muram durja.


Rinjani yang tidak tahu apa maksud wanita itu, hanya menatap heran. Dia merasa tidak mengambil barang apapun di rumah Ibu Delima tadi.


"Sepertinya Ibu salah sangka karena saya tidak mengambil apapun. Barang-barang yang ada di dalam saku baju juga sudah saya serahkan semua kepada Ibu tadi, 'kan?" Rinjani membela dirinya.

__ADS_1


Perempuan itu meraba semua badan Rinjani untuk mencari cincinnya. Namun, menjadi bersikukuh tidak mengambil apapun.


Orang-orang yang sedang berada di warung melihat ke arah Rinjani dan Ibu Delima. Mereka penasaran karena mendengar suara bentakan Ibu Delima kepada sang janda kembang. Para warga pun berbondong-bondong mengelilingi dua wanita itu.


"Ada apa ini?" tanya Mbok Mirah.


"Wanita ini sudah mencuri cincin berlian milikku!" jawab Ibu Delima dengan sengit.


"Astaghfirullahal'adzim. Aku sama sekali tidak mengambil apa pun di rumah Ibu. Harus berapa kali aku katakan," balas Rinjani.


"Mana mungkin ada maling mengaku!" teriak Ibu Delima.


Para warga pun menyuruh untuk menggeledah tubuh Rinjani. Siapa tahu memang cincin itu disembunyikan di dalam tubuhnya. 


Betapa merasa terhinanya Rinjani saat digiring oleh warga ke rumah Pak RT atas tuduhan mencuri. Pak RT dan Bu RT yang sedang berada di teras rumah terkejut, ketika para warga datang berbondong-bondong ke rumahnya.


"Ada apa ini?" tanya Pak RT.


"Bu Delima sudah kehilangan cincin berlian miliknya. Dia mencurigai kalau Rinjani sudah mengambil saat mencuci dan setrika di rumahnya tadi," balas salah seorang warga.


"Iya, Pak RT. Aku tidak terima kalau dia benar-benar mengambil cincin berlian pemberian ibu mertuaku dulu," lanjut Ibu Delima.


"Tidak, Pak RT. Untuk apa aku mencuri, itu perbuatan dosa," bantah Rinjani.


***

__ADS_1


Benarkah Rinjani sudah mencuri cincin berlian Mlmilik Ibu Delima? Di mana sebenarnya cincin berlian itu berada? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2