Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 46. Mimpi Rinjani


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 46


Rinjani sedang duduk melepas rasa lelah, dia bersandar pada kursi di dekat jendela. Tatapannya mengarah pada air hujan yang turun. Kenangan pahit yang selalu membayangi dirinya akan muncul ketika hujan itu turun.


"Mas Dewa," lirih Rinjani.


Rasa rindu yang semakin membuncah membuatnya tanpa sadar menggumamkan nama itu. Perlahan matanya tertutup dan akhirnya dia jatuh ke dalam dunia mimpi. Di mana dia bisa bertemu dengan suaminya.


Rinjani berdiri di depan sebuah bangunan megah seperti istana. Namun, berbeda dengan istana yang dia lihat di berbagai belahan dunia. Pintu yang begitu menjulang tinggi dan memiliki ukiran yang sangat indah. Dia pun membuka pintu itu dengan perlahan. Dilihatnya ada sebuah tempat tidur tapi bukan tempat tidur seperti miliknya atau kebanyakan orang. 


"Mas Dewa," panggil Rinjani dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Sayang," balasnya dengan senyum menawan yang selalu membuatnya jatuh cinta.


Rinjani pun berlari dan memeluk erat suaminya. Dia menarik tengkuk laki-laki itu dan mencium bibirnya dengan lembut dan menuntut. Rasa rindu yang begitu besar dia salurkan lewat ciuman itu.


"Sayang." Dewa seakan menahan Rinjani agar jangan menciumnya.

__ADS_1


Akan tetapi, seperti biasa sejak dulu wanita itulah yang sering mencium suaminya. Rinjani pun kembali menarik tengkuk Dewa dan menciumnya lebih dalam dan bernapsu dibandingkan dengan yang tadi. Apalagi, sekarang Dewa juga membalas ciuman itu.


"Apa kamu sudah puas?" tanya Dewa sambil tersenyum menggoda.


"Nggak. Aku nggak pernah puas. Aku masih menginginkan itu lagi," balas Rinjani dengan berderai air mata.


Dewa pun menghapus air mata itu dan menyandarkan kepala sang istri di dadanya. Lalu, mengusap kepala dan punggungnya secara bergantian, seperti yang sering dia lakukan.


"Sayang, sudah saatnya kamu merelakan diriku dan cari kebahagian yang baru," ucap Dewa.


Mendengar itu Rinjani tidak suka. Dia melepaskan pelukan suaminya. Lalu, menatap dengan tajam.


"Mas Dewa sudah tidak cinta sama aku? Mas mau aku melupakan dirimu? Orang yang sangat aku cintai." Rinjani bicara dengan air mata yang berderai.


"Aku juga mencintaimu. Malah sangat mencintaimu dari pada yang kamu tahu. Sampai kapan pun aku akan selalu mencintaimu. Tapi, aku mohon. Kamu masih bisa hidup lebih bahagia lagi," lanjut laki-laki yang memiliki rupa wajah mirip Azzam.


"Tapi, aku—"


"Jika kamu mencintai aku dan anak-anak, berikanlah yang terbaik buat kami," potong Dewa.


"Hanya kamu yang aku cintai dan tidak ada yang lain—"

__ADS_1


"Itu karena kamu menutup rapat pintu hatimu dan tidak mengizinkan orang lain memasukinya. Sehingga cinta dan kasih sayang yang tulus dari orang lain tidak bisa kamu lihat dan rasakan," potong Dewa.


"Kenapa Mas Dewa sekarang suka sekali memotong pembicaraan aku," balas Rinjani agak merajuk karena merasa kesal.


Laki-laki itu pun memeluk Rinjani dengan lembut. "Bukannya ada laki-laki yang selalu setia menantikan dirimu dengan cintanya yang dia pendam," bisik Dewa.


"Eh."


Rinjani membuka matanya dan dia mendapati dirinya sudah tertidur di kamarnya. Dia pun menyentuh kedua pipi yang masih basah oleh air mata. Lalu, dia pun beranjak dari tempat tidur. Waktu adzan Ashar sudah lewat maka dia pun bergegas ambil air wudhu.


***


Sementara itu, di ruang kerja milik Kakek Atmaja. Laki-laki tua yang sudah renta mengayunkan tongkatnya pada tubuh Bagaskara.


"Berani-beraninya kamu!" teriak Kakek Atmaja dengan ekspresi wajah yang sangat murka.


Bagaskara hanya diam tidak bergerak ketika Kakek Atmaja kembali memukulkan tongkatnya ke arah badannya. Dia menerima itu dengan pasrah.


***


Kenapa Kakek Atmaja marah kepada Bagaskara? Apakah Rinjani akan belajar membuka pintu hati untuk laki-laki lain? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.



__ADS_2