
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 48
"Kamu kenapa?" tanya Rinjani dengan tatapan nanar melihat kondisi Bagaskara yang tiba-tiba saja seperti orang yang habis berkelahi.
"Hanya luka sedikit karena aku tadi sudah berbuat nakal," jawab Bagaskara sambil tertawa kecil.
Laki-laki itu sedang menahan debaran jantungnya agar jangan sampai Rinjani mendengar suara detak jantungnya yang sedang bertalu-talu. Mata Bagaskara kini tertuju pada bibir yang tadi sudah menciumnya. Rasanya dia ingin bisa merasakan lagi kelembutan dan kehangatannya.
'Aduh, apa yang aku pikirkan? Dosa Bagas, dosa! Sekarang belum boleh.' (Bagaskara)
"Om Bagas terluka? Ibu, tolong obati! Kasihan Om Bagas kesakitan," pinta Attar yang masih memakai handuk.
Kedua orang dewasa yang sedang berdiri itu malah saling beradu pandang. Ada rasa gugup dan malu yang tiba-tiba saja menyusup dalam perasaan mereka.
Rinjani melihat tatapan mata Attar yang polos dan bercahaya. Tatapan mata yang tidak bisa dia tolak.
"Ya, nanti ibu obati luka Om Bagas. Sekarang Adik cepat pakai baju," kata Rinjani.
Setelah selesai memakaikan baju putranya, Rinjani pun mengobati luka Bagaskara. Dia mengambil salep untuk mengolesi luka di sudut bibirnya yang sobek sedikit.
"Kenapa kamu sampai bisa luka seperti ini?" tanya Rinjani sambil meratakan salep di sudut bibir.
Jarak yang dekat ini membuat Bagaskara semakin berdebar jantungnya. Dia menelan ludahnya saat kembali melihat bibir ranum milik sang janda.
'Ya Allah, hilangkan pikiran-pikiran kotor aku. Kenapa selalu saja mata ini tidak bisa lepas dari bibirnya.' (Bagaskara)
"Sedang apa kalian?" Tiba-tiba saja ada suara yang mengejutkan kedua orang itu.
Rinjani melihat ada kakeknya datang menghampiri mereka. Lalu, dia pun dengan cepat menjauhkan dirinya dari Bagaskara.
"Ini, Kek. Sedang mengobati Bagaskara yang terluka," balas Rinjani.
"Telepon dokter saja, biar dia diperiksa sekalian sama badannya," ucap Kakek Atmaja dengan tatapan kesal.
Rinjani merasa ada yang aneh dengan kakeknya. Biasanya dia akan selalu tersenyum kepada Bagaskara kini memperlihatkan raut tidak suka.
'Kakek kenapa?' Rinjani menatap laki-laki tua itu yang kini duduk di depan mereka sambil menatap tajam.
'Aaa, jangan-jangan kakek yang sudah membuat Bagaskara seperti ini?'
__ADS_1
Rinjani dalam diam memperhatikan kedua laki-laki itu. Ada sesuatu yang berbeda dari biasanya.
"Kakek, ikut kita main, yuk!" Attar datang dan menarik tangan Kakek Atmaja.
"Main saja sama kakak dan abang, ya?" balas Kakek Atmaja.
"Tidak mau. Maunya Kakek juga ikut," kata Attar bersikukuh.
Mau tidak mau Kakek Atmaja pun pergi dengan Attar. Saat pergi Attar sempat memutar kepalanya dan beradu pandang dengan Bagaskara. Bocah kecil itu mengacungkan jempol padanya.
'Semoga sukses, Om!' (Attar)
Bagaskara pun tersenyum melihat tingkah anak bungsu Rinjani. Melihat laki-laki itu tersenyum sendiri membuat Rinjani mengerutkan keningnya.
"Dokter akan datang sebentar lagi. Jadi, sebaiknya kamu beristirahat dulu di kamar," ujar Rinjani sambil meletakkan handphone miliknya.
"Aku ingin bicara dengan kamu," ucap Bagaskara dengan tatapan mata yang tidak lepas melihat ke arah Rinjani.
Rinjani menghela napas dan duduk menggeser agak menjauh dari Bagaskara. Menyadari dirinya terlalu dekat duduk dengan wanita itu, maka dia pun ikut menggeser juga. Jadinya mereka duduk di ujung dan ujung sofa sekitar lebih dari 1 meter.
"Rinjani, mulai besok kamu akan masuk kerja. Mungkin ada beberapa orang yang merasa tidak suka dengan kehadiran kamu. Kalau ada apa-apa kamu harus cepat hubungi aku," ucap Bagaskara dengan serius.
"Ya, akan aku ingat. Tapi, setidaknya aku akan berusaha dulu sendiri," balas Rinjani.
"Lalu," bisik Bagaskara terdiam sejenak, "aku masih serius ingin meminang dirimu. Aku ingin menjaga kamu dan anak-anak. Aku sangat menyayangi dan mencintai kalian."
Dada Rinjani bergemuruh. Dia teringat kembali mimpinya bersama dengan Dewa tadi. Selama ini dia tahu kalau Bagaskara itu mencintai dirinya dan juga menyayangi anak-anaknya. Namun, dia masih belum bisa memberikan rasa cinta itu untuknya.
"Tapi … aku belum bisa membalas cintamu. Perasaan itu masih milik Dewa," balas Rinjani. Kalau dulu dia pasti akan menolaknya dengan tegas. Namun, kali ini dia jadi ragu dan bimbang. Dewa memang sudah meninggal dan anak-anak membutuhkan figur seorang ayah.
Bagaskara bisa melihat mata perempuan itu yang berkaca-kaca. Rasanya dia ingin memeluk dan mendekapnya di dada. Dia sudah berjanji kepada ketiga anak Rinjani akan menjadi ayah yang baik sesuai harapan mereka. Bisa membahagiakan ibu yang sudah mengandung dan membesarkan mereka.
"Aku rasa cinta itu bisa hadir karena kita terbiasa bersama. Aku tidak memaksa kamu untuk membalas cintaku. Tapi, izinkan aku agar selalu bersama denganmu dan anak-anak. Sungguh aku menyayangi kalian," aku Bagaskara dengan jujur dan sungguh-sungguh.
"A-ku …." Bulir bening akhirnya jatuh di pipi Rinjani. Wanita itu masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Aku tidak akan meminta kamu menjawabnya sekarang. Berikanlah jawaban itu saat kamu sudah benar-benar yakin dengan perasaan dan keinginan kamu. Karena aku juga ingin mengutamakan kebahagiaan kamu," ucap Bagaskara.
"Beri aku waktu satu bulan," balas Rinjani dengan suara yang bergetar.
Sebenarnya dia juga sering mendapat permintaan dari anak-anaknya agar Bagaskara selalu bersama mereka. Namun, Rinjani bisa memberikan alasan kepada ketiganya, kenapa dia tidak bisa membalas perasaan laki-laki itu dan tidak bisa bersama dengannya.
"Baiklah jika itu keinginan kamu," ujar Bagaskara dengan tersenyum lembut.
__ADS_1
"Terima kasih, tapi aku minta selama satu bulan itu kamu memperlihatkan kesungguhan kamu lebih serius lagi," lanjut Rinjani.
Bagaskara menganga, dalam pikirannya dia memikirkan ucapan Rinjani barusan. Perasaan dia semua sudah dia lakukan dengan sungguh-sungguh. Entah kesungguhan apalagi yang harus dia perlihatkan kepada wanita itu.
'Adakah yang mau memberi tahu aku, kesungguhan apalagi yang harus aku lakukan untuk menyakinkan hati Rinjani?' (Bagaskara)
***
Laki-laki itu berguling di atas ranjang di kamarnya. Dia masih memikirkan kesungguhan apalagi yang harus dia tunjukan kepada Rinjani. Semakin dia memikirkannya semakin sakit kepala yang dia rasakan.
'Apa aku tanya sama papa dan mama, ya?'
Bagaskara pun beranjak dari kasur dan pergi menuju ke kamar kedua orang tuanya. Dia tahu saat ini sedang tengah malam dan pastinya mereka sedang tidur.
"Pa … Ma!" Bagaskara mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.
Tidak lama kemudian pintu itu terbuka dan menampakkan seorang laki-laki paruh baya.
"Ada apa Bagas? Malam-malam begini mengganggu kami," tanya Papa Bima.
Bagaskara hanya menyeringai lalu berkata, "Ada hal yang penting mau aku tanyakan. Ini penting sekali!"
"Sepenting apa?" tanya laki-laki paruh baya itu dengan memasang wajah kantuknya.
"Masa depan Bagaskara dan kesejahteraan keluarga ini," balas laki-laki yang usianya kini 35 tahun.
"Masuk!" titah Papa Bima.
Mama Adira kini sudah bangun dan duduk di sofa bersama suaminya. Wanita paruh baya itu menatap sebal pada putra sulungnya yang sudah mengganggu waktu tidur mereka.
"Katakan ada apa?" tanya Mama Adira.
"Aku mau tanya. Kira-kira kesungguhan apa yang diinginkan dari wanita yang diajak menikah oleh laki-laki?" tanya Bagaskara langsung tanpa basa-basi.
***
Kesungguhan apa yang dimaksud oleh Rinjani 😁? Tunggu kelanjutannya, ya!
😭 Lupa nama papanya Bagaskara itu siapa. Ubek-ubek baca bolak-balik baru ketemu, hampir setengah jam cuma cari nama "Bima".
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.
__ADS_1