Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 37. Rinjani & Bagaskara (1)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 37


"Barusan aku sudah berbicara dengan kakek Atmaja. Beliau bilang, katanya kamu belum ingin kembali untuk memegang perusahaan?" tanya Bagaskara dengan pandangan masih melihat ke arah Rinjani.


"Aku ingin hidup tenang bersama dengan ketiga anakku. Di mana mereka ingin tinggal maka aku pun akan memiliki keinginannya itu. Jika mereka menginginkan tinggal di desa, maka kami akan tiba di sana dan aku berharap kakek akan ikut bersama kami. Jika anak-anak kamu tinggal di sini maka aku pun akan dan di sini. Dan untuk perusahaan aku masih bisa membantu kakek untuk memantaunya," jawab Rinjani sambil menatap langit biru yang berhias awan putih.


Bagaskara masih menatap ke arah wajah Rinjani. Laki-laki itu mengagumi betapa cantiknya rupa wanita ini. 


"Bukannya jika kamu memutuskan untuk tinggal di sini akan terasa lebih baik bagi anak-anak. Semua fasilitas bisa mereka dapatkan dengan mudah di sini. Mereka itu termasuk anak-anak yang sangat pintar. Pastinya mereka sangat membutuhkan semua fasilitas yang bisa mendukung perkembangan prestasi mereka," ucap Bagaskara yang masih menatap ke arah ibu beranak tiga ini.

__ADS_1


Kini pandangan Rinjani mengarah kepada Bagaskara. Netra keduanya saling beradu pandang dan mulut mereka terdiam. Keheningan langsung menyelimuti keduanya, bahkan suara gemersik dedaunan yang biasanya tertiup oleh angin pun tidak terdengar. Seakan semua yang ada di sana ikut terdiam.


"Aku lebih mengutamakan kebahagiaan anak-anak. Jika mereka lebih nyaman tinggal di desa maka aku tidak bisa memaksanya untuk tinggal di sini, begitu juga sebaliknya. Kalau fasilitas aku bisa memenuhi kebutuhan mereka di mana pun mereka tinggal," kata Rinjani memecah kebisuan di antara mereka.


"Kalau perusahaan PT. ATMAJA tanpa diri aku pun masih berjalan dengan baik sampai saat ini," lanjut wanita berjilbab.


"Tapi Kakek Atmaja berharap kalau kamu bisa menjalankan perusahaan yang kelak akan kamu wariskan kepada anak-anakmu," ujar laki-laki berwajah tampan dengan kulit kuning langsat.


"Apa kamu tidak memahami kesulitan yang dialami oleh anak-anak saat ini? Aku yang melihatnya saja merasa hati ini sakit. Saat melihat perjuangan mereka berjualan untuk mencari uang," tanya Bagaskara dengan lirih menggambarkan situasi hatinya saat ini.


Rinjani pun berdiam dan mengingat kembali kenangan dia dan ketiga anak-anaknya, setelah kematian sang suami. Betapa banyak cobaan yang mereka hadapi secara berturut-turut. Kedua anaknya juga ikut membantu mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.


Bahkan dia sempat mendengar ketika kedua anaknya saling membicarakan curahan hati mereka. Aqilah yang bercita-cita ingin menjadi seorang dokter dan Azzam ingin menjadi seorang dosen di universitas terkenal. Kedua anak itu berjanji akan saling mendukung dan membantu untuk mencapai cita-cita mereka.

__ADS_1


"Aku tahu kamu wanita cerdas dan tangguh. Tapi, apa dengan kamu tinggal di desa dengan keadaan seperti itu bisa membuat anak-anak menjadi orang yang diharapkan oleh Dewa?" lanjut Bagaskara.


Rinjani terdiam dan memikirkan ucapan Bagaskara. Belum juga mulutnya terbuka untuk mengucapkan sesuatu, laki-laki itu sudah memotongnya kembali.


"Atau kamu tidak mau kembali ke sini karena ada aku?" tanya Bagaskara dengan tatapan tajam seakan menembus jantung Rinjani.


***


Jawaban apa yang akan Rinjani katakan pada Bagaskara? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.


__ADS_1


__ADS_2