Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 50. Rinjani Masuk Kerja


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 50


Rinjani kembali menduduki jabatan sebagai direktur keuangan di perusahaan PT. ATMAJA, kedatangan dia membuat beberapa temannya senang, tetapi ada juga orang-orang yang tidak suka dengan kedatangan salah satu ahli waris keluarga Atmaja ini. 


Baru saja kerja di hari pertama, Rinjani sudah melakukan sidak ke semua divisi di kantor pusat. Tentu saja ini membuat kebanyakan pegawai terkejut. 


"Apa maksudnya ini? Kenapa di pembukuan laporan bulanan di divisi penjualan dengan catatan laporan pembukuan pengeluaran barang di gudang, berbeda!" ucap Rinjani dengan tegas sambil menunjukan dua berkas kepada beberapa orang yang bertanggung jawab.


Orang-orang itu hanya terdiam. Sebab, mereka sudah bermain curang. Selama ini mereka merasa aman-aman saja. Sudah keenakan dan menjadi kebiasaan, tadinya mereka sedikit merubah data jumlah barang yang terjual, semakin lama semakin banyak yang mereka manipulasi jumlah produk barang yang berhasil dijual.


"Kalian pikir selamanya perbuatan buruk ini akan aman dan tidak akan ketahuan? Aku menemukan adanya penggelapan jumlah barang yang terjual dari pembukuan tujuh tahun lalu. Meski kejahatan yang awalnya kecil lama-lama jadi besar. Lalu, karena sudah menjadi kebiasaan jadi terbiasa. Kenapa kalian tega melakukan hal seperti ini? Apa gaji yang diberikan tidak sesuai? Apa gaji kalian sering ditunggak sampai harus berbuat curang balik?" Rinjani meluapkan kekecewaannya pada karyawan di perusahaan.


Orang-orang itu merasakan terhimpit saat mendengar kata-kata Rinjani. Ruangan yang luas itu pun terasa sempit. Bahkan mereka merasa udara di sana sudah habis dihisap semua. Ruang kantor divisi keuangan kini dipenuhi beberapa orang dari bagian gudang, bagian penjualan, dan bagian keuangan sendiri. Mereka itu tiga serangkai yang sudah melakukan penggelapan uang di perusahaan PT. ATMAJA selama Rinjani berhenti di kantor perusahaan itu.


"Kalian akan kena sangsi!" tegas Rinjani.


Kembalinya Rinjani ke kantor perusahaan dan memberikan peringatan keras ke orang-orang yang tadi pagi dipanggil ke tempatnya menjadi buah bibir di kalangan karyawan saat mereka beristirahat makan siang. Mereka terkagum akan sosok wanita yang dulu terkenal dengan sebutan 'Rinjani si tangan dingin'. Semua yang dia kerjakan selalu berjalan baik dan lancar. Bahkan proyek yang ditanggung jawabkan kepadanya juga selalu berhasil.


Orang-orang yang terlibat penggelapan uang diberi sangsi dengan tanda tangan kontrak dengan pemotongan gaji untuk mengganti uang yang mereka ambil. Jika, mereka tidak mau boleh keluar dari perusahaan dengan mengembalikan semua uang yang sudah mereka ambil.  Tentu saja Rinjani juga akan mem-black list mereka agar tidak diterima lagi bekerja di semua perusaahan milik keluarga Rinjani.


Seharian mengurus penggelapan uang oleh karyawannya sendiri membuat Rinjani lupa dengan waktu makan siang. Bahkan setelah selesai sholat Zuhur pun dia langsung memeriksa bagian pembelian bahan baku untuk produksi.


"Assalamu'alaikum," salam seseorang sambil mengetuk pintu.


"Wa'alaikumsalam, masuk!" balas Rinjani sambil mendongakkan wajahnya.

__ADS_1


Terlihat Bagaskara tersenyum lebar sambil membawa sekeresek makanan. Dia pun duduk di sofa dan meletakan kantong keresek yang berisi makanan.


"Kamu belum makan siang, 'kan?" Bagaskara berjalan ke arah meja kerja Rinjani. 


"Aku terlalu sibuk sampai lupa akan waktu makan siang," balas Rinjani.


"Sudah sering aku ingatkan dari dulu, kamu jangan memprosir tenaga dan tubuhmu. Aku tidak mau kalau kamu jatuh sakit. Makanlah dahulu, aku bawakan makanan kesukaan kamu."


Rinjani terdiam sejenak seakan orang yang berbicara barusan itu adalah Dewa. Dulu, laki-laki itu yang selalu mengingatkan dirinya untuk beristirahat dan membawakan makan siang. Hatinya kembali merasa teriris saat mendapati kenyataan kalau suaminya itu sudah meninggal.


"Terima kasih, aku akan makan itu lima menit lagi, karena ini tanggung mau selesai," ucap Rinjani.


"Tidak. Kamu harus makan sekarang atau aku akan menyuapi kamu," kata Bagaskara.


"Aku bukan Attar yang masih suka makan disuapi," balas Rinjani.


Bagaskara tersenyum, dia tahu dari siapa sifat manja Attar itu turun. Anak bungsu itu wajahnya perpaduan Dewa dan Rinjani, tetapi dari segi sifat mirip dengan wanita ini. Manja, cengeng, ceria, dan mudah tersenyum kepada orang lain.


"Nanti malam aku akan jemput kamu dan anak-anak," kata Bagaskara.


"Iya," balas Rinjani sambil beranjak.


Saat hendak melangkah kaki Rinjani tersandung kaki meja. Dia pun terhuyung ke depan, untung sebelum tubuhnya jatuh menghantam lantai Bagaskara berhasil menangkapnya. Namun, kesalahan Bagaskara yang tidak disengaja adalah dia menahan tubuh Rinjani dibagian dada dan perut.


"Eh!" Rinjani dan Bagaskara sama-sama terkejut.


"Astaghfirullahal'adzim." Keduanya langsung saling menjauh.


"Maafkan aku! Sungguh barusan aku tidak sengaja," kata Bagaskara dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


Muka Rinjani merah padam. Dia marah, kesal, dan ingin memaki kepada Bagaskara yang sudah menyentuh bagian tubuhnya yang berharga. Selama ini hanya Dewa yang sudah menyentuhnya dan ketiga anaknya. Namun, hari ini laki-laki yang bukan keluarganya sudah menyentuh aset berharga miliknya.


'Besar sekali.' (Bagaskara)


"Dasar laki-laki mesum! Keluar dari ruangan aku sekarang juga!" pekik Rinjani saking malunya saat ini. Dia juga tidak terima bagian tubuhnya disentuh oleh orang lain.


Bagaskara langsung pergi ke luar ruangan itu. Dia merasa jantungan, tetapi ada perasaan senang yang terselip di dalam hatinya. Dia tidak menyangka kalau dada Rinjani sebesar itu karena selalu tertutup oleh jilbabnya.


***


Malam hari anak-anak Rinjani sudah bersiap-siap untuk mendatangi rumah Bagaskara. Mereka memakai baju yang sopan dan paling bagus menurut mereka.


Rinjani juga memakai baju yang paling sopan dan nyaman saat mereka hanya menghadiri acara makan malam bersama dengan keluarga Bagaskara.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Bagaskara kepada anak-anak.


"Sudah. Tinggal menunggu ibu," ucap Aqilah sambil melihat ke arah anak tangga karena mendengar teriakan Attar yang memanggil ibunya.


Bagaskara terpana melihat Rinjani yang tampil dengan make up tipis dan pakaian gamis dan jilbabnya yang lebar. Jantung dia terasa tiba-tiba mau jatuh karena terlalu kencang berdetaknya.


'Masya Allah. Cantik sekali ibunya anak-anak. Eh, calon istriku. Biar jadi doa.' (Bagaskara)


***


Apa yang akan terjadi di rumah Bagaskara saat keluarga Rinjani datang bertamu ke sana? Tunggu kelanjutannya, ya!


Kalau ada typo atau kalimat yang kurang sreg, tandai ya 🥺. Biar nanti aku benarkan lagi.


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus kepoin novelnya. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.

__ADS_1



__ADS_2