Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 51. Mengunjungi Rumah Bagaskara


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 51


"Rinjani, senang sekali bisa bertemu lagi dengan kamu," ucap Mama Adira sambil memeluk Rinjani.


"Ini anak-anak kamu? Siapa nama kalian?" tanya Papa Bima sambil mengulurkan tangannya dan disambut oleh Aqilah.


"Aku … Aqilah, Opa," jawab gadis berjilbab biru.


"Cantik sekali. Kamu mirip Rinjani saat masih kecil," lanjut Papa Bima


"Ini mirip dengan Dewa. Siapa namanya," tanya Papa Bima sambil tersenyum tipis pada anak laki-laki yang berdiri di samping Rinjani.


"Azzam, Kek. Eh, Opa," jawab putra sulung Rinjani sambil tersenyum kaku.


"Semoga kamu bisa menjadi anak yang hebat. Opa sering dengar tentang kamu dari Bagas. Makanya ingin sekali bisa bertemu dengan kamu," puji Papa Bima.


Azzam melirik ke arah Bagaskara. Laki-laki itu mengacungkan jempol kepadanya.


"Ini pasti Attar?" Papa Bima berjongkok di depan anak kecil yang tersenyum manis.


"Lucu dan imut, 'kan, Pa?" Mama Adira yang pernah bertemu dengannya, dulu merasa langsung jatuh hati pada anak kecil ini.


"Iya, Ma." Papa Bima memangku Attar karena saking gemesnya pada bocah itu. Apalagi selalu menjawab setiap ditanya.


Rinjani merasa senang karena kedatangan keluarganya disambut dengan baik oleh Papa Bima dan Mama Adira. Ketiga anak Rinjani yang awalnya malu-malu menjadi senang saat mendapatkan perhatian dari papa dan mamanya Bagaskara. 


Sambil menunggu makanan dihidangkan, mereka berbincang-bincang. Mama Adira masih memperlakukan Rinjani seperti dahulu. Keresahan Rinjani selama ini yang berpikir kalau wanita paruh baya itu benci kepadanya tidak terbukti. 


"Sayang, Mama dengar dari Bagaskara kamu kembali bekerja di perusahaan?" tanya Mama Adira sambil mengeluarkan potongan buah-buahan dari kulkas.

__ADS_1


"Iya, Ma. Kakek ingin aku nantinya yang memegang perusahaan. Karena anaknya Om Agung tidak bersedia mengambil alih untuk menjalankan perusahaan di Indonesia," jawab Rinjani.


"Mama yakin kamu pasti bisa. Tapi, ingat jangan terlalu memaksakan diri. Ingat istirahat yang cukup. Kamu tahu tidak tadi Bagas uring-uringan karena kamu tidak mengangkat teleponnya," kata Mama Adira diakhiri berbisik.


"Kenapa, Ma?" tanya Rinjani.


"Dia takutnya kalau kamu lupa makan siang. Lalu, papanya menyuruh dia datang ke kantor kamu," jawab wanita yang kini sedang menata menu makanan di meja makan.


Rinjani tertawa kecil. Dia bisa membayangkan tingkah Bagaskara. Tadi saja dia lihat riwayat panggilan dari laki-laki itu lebih dari 100 kali panggilan.


Sementara itu di ruang keluarga, Bagaskara asyik bermain PS bersama ketiga anak Rinjani, karena tidak ada permainan lain di sana. Mereka sangat heboh, apalagi saat Azzam dan Aqilah yang main. Mereka baru pertama kali memainkan permainan ini.


Kakek Atmaja dan Papa Bima hanya ikut tertawa melihat anak-anak itu. Bagaskara pun sesekali memberi arahan kepada mereka berdua.


"Ayo, makanannya sudah siap. Kita makan!" ajak Mama Adira sambil tersenyum lebar karena merasa senang keadaan rumahnya kini ramai. 


Sejak dulu pasangan suami istri itu mengharapkan kehadiran cucu dari anak mereka. Kini kehadiran anak-anak Rinjani menjadi pengobat rasa itu.


"Ma, Dirga belum pulang?" tanya Papa Bima melihat ke arah jam di dinding yang sudah menunjukan waktu pukul 20:00.


"Sejak patah hati, anak itu sering lembur, Pa. Tubuhnya semakin kurus dan tidak terawat. Siapa wanita yang sudah berhasil membuat dia jadi begitu, ya? Mama ingin bertemu dengannya," jawab Mama Adira.


Kedua orang tua Bagaskara tidak tahu kalau perempuan yang sudah mencuri hati putra bungsu mereka adalah si janda kembang beranak tiga yang kini sedang duduk bersama dengan mereka. Mereka juga tidak tahu permasalahan antara Dirga dengan Rinjani. Hanya Bagaskara yang tahu tentang permasalahan yang pernah terjadi di antara Dirga dengan Rinjani dahulu.


"Kita makan duluan saja, kasihan anak-anak nanti keburu ngantuk karena sudah waktunya tidur," ujar Bagaskara sambil menyerahkan satu mangkuk kecil berisi buah-buahan kepada ketiga anak Rinjani.


"Makan buah-buahan yang banyak, ya!" perintah Bagaskara.


***


Dirga berjalan dengan gontai menuju mobilnya. Hari ini dia pergi ke pusat kebugaran milik salah seorang temannya. Untuk menghilangkan rasa sakit hati atas kepergian Rinjani yang entah ke mana bagai di telan bumi, dia mengalihkan perhatiannya dengan bekerja keras dan kadang-kadang berolahraga sambil menemui temannya.


"Dirga, apa kamu akan pergi ke pesta ulang tahun Starla?" tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba saja muncul di dekat mobilnya.

__ADS_1


"Entahlah, Bob. Aku akan pulang dulu, mama sejak tadi menelepon aku terus. Katanya calon istri Kak Bagas yang dulu kabur kini sudah kembali. Mereka saat ini sedang makan malam di rumah," jawab Dirga sambil menepuk bahu Boby.


"Lalu, apa kamu sudah menemukan wanita itu?" tanya Boby.


"Belum. Kata warga desa katanya Rinjani pergi ke ibu kota. Tadi tidak ada yang tahu di mana alamatnya," balas Dirga sambil membuka pintu mobil.


Boby adalah salah satu sahabat baik Dirga semenjak mereka duduk di SMA dan kuliah di Australia, dulu. Mereka dulu terkenal dikalangan teman-teman wanitanya saat di sekolah. 


"Semoga kamu bisa menemukan wanita itu," ucap Boby pada Dirga saat kaca mobil itu dibuka.


"Ya. Aku menyesal dulu cara pendekatan aku salah. Kenapa tidak langsung saja minta dia jadi istriku untuk menggantikan mobil yang rusak," kata Dirga sambil tertawa kecil.


"Dasar tukang maksa!" umpat Boby. Namun, tidak ditanggapi oleh Dirga yang sedang memundurkan mobilnya.


Dalam perjalan pulang, Dirga membayangkan kalau Rinjani sedang duduk di sampingnya. Wanita itu tersenyum cantik ke arahnya seperti yang sering dia perlihatkan kepada si bungsu.


"Semakin gila saja aku dibuatnya." Dirga menggelengkan kepalanya.


Saat mobil dia memasuki pekarangan rumah terlihat ada mobil milik Kakek Atmaja. Laki-laki itu tahu kalau keluarga Atmaja akan datang malam ini kerumahnya.


"Pasti Kak Bagas sedang bahagia bersama wanita itu," gumam Dirga sambil berjalan masuk ke rumah.


Terdengar celotehan suara anak-anak dari ruang makan. Dirga merasa tidak asing dengan suara mereka. Tadinya dia berniat langsung naik ke lantai atas dan beristirahat. Namun, gara-gara mendengar suara anak kecil yang terbayang dalam pikirannya, dia pun berjalan ke ruang makan untuk melihat tamu undangan yang datang malam ini.


"Ma … Pa, aku pulang!" salam Dirga berjalan melewati pintu.


***


Bagaimana reaksi Rinjani dan anak-anaknya saat bertemu dengan Dirga? Sebaliknya bagaimana reaksi Dirga saat tahu Rinjani adalah calon istri Bagaskara yang dulu kabur? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus kepoin novelnya. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.


__ADS_1


__ADS_2