
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 12
Aqilah dan Azzam senang saat mereka pulang ke rumah sudah ada ibu dan adik mereka. Apalagi Attar sekarang sudah terlihat ceria kembali. Bocah kecil itu sedang makan dengan lahap sambil memainkan mobilnya yang sudah rusak. Suasana rumah kemarin yang sepi kini mulai terasa ramai kembali.
"Apa Adik masih harus kembali menjadi pengobatan, Bu?" tanya Aqilah yang duduk di samping Rinjani sambil memijat bahu wanita yang sudah melahirkan dirinya.
"Iya, sampai penyakitnya dinyatakan sembuh oleh dokter," jawab perempuan berjilbab warna krem.
Ibu dan si sulung, menyiapkan bahan baku untuk membuat keripik singkong, sedangkan Azzam mau ngajak main Attar di ruang keluarga. Sesekali terdengar suara tawa kedua anak laki-laki itu dan membuat hati Rinjani merasa tenang dan senang. Di dalam hatinya, perempuan itu selalu mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebab, berkat-Nya dia masih diberi kesempatan untuk membesarkan putra bungsunya, dengan diketahui lebih dini penyakit turunan keluarganya.
Rinjani sangat terkejut saat mendengar cerita Aqilah, kalau laki-laki yang sering dipanggil om Bagas semalam menginap di rumahnya. Hati kecilnya merasa takut akan terjadi fitnah ke depannya nanti. Meski Aqilah sudah mengatakan kalau laki-laki itu mengaku sebagai saudara jauhnya kepada Pak RT dan warga di sana.
"Kakak lain kali jangan biarkan orang asing masuk ke rumah," ucap Rinjani mengingatkan anak sulungnya.
"Tapi, om Bagus bukan orang asing bagi kakak, Bu," pungkas gadis kecil berusia 9 tahun.
Rinjani pun memberikan penjelasan kenapa tidak boleh sembarangan memasukkan orang yang tidak memiliki ikatan keluarga ke rumah mereka. Selain menghindari fitnah dari orang lain, juga untuk menjaga diri mereka dari bisikan setan. Aqilah pun meminta maaf kepada ibunya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.
***
Kehidupan keluarga Rinjani berjalan seperti biasa. Attar menjalani pengobatannya dengan baik karena Rinjani selalu memberikan semua yang terbaik untuk putranya. Untungnya dari penjualan keripik dan buruh mencuci, mendapatkan uang yang lumayan besar. Begitu juga ada uang donasi dari para warga untuk membantu pengobatan yang tidak bisa ditanggung pembelian obatnya oleh pemerintah.
Sudah 6 bulan Rinjani menjalani hidup sebagai seorang tua tunggal dari tiga orang anak kecil. Banyak sekali suka duka yang telah dia jalani selama ini. Meski begitu dia merasa kuat dan sabar, karena ketiga anaknya merupakan sumber kehidupan dia.
Hari ini adalah kenaikan kelas bagi Aqilah dan Azam. Di mana biasanya semua orang tua murid datang ke sekolah untuk menerima raport anak mereka dan guru akan memberitahu perkembangan apa saja yang sudah dialami sang anak. Lalu, poin apa saja yang harus diperhatikan oleh orang tua agar anaknya menjadi lebih baik lagi tahun ajaran baru nanti.
Perasaan Rinjani saat ini merasa sedih, karena tahun lalu ada Dewa yang mendampingi dirinya saat mengambil raport milik Aqilah ataupun milik Azzam, yang saat itu masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
Di saat dia mengingat kembali momen bersama keluarganya dulu, air mata perempuan itu selalu luruh tanpa bisa dia tahan. Biasanya Dewa yang paling semangat saat akan pergi ke sekolah anaknya, dia akan membantu menyiapkan semua keperluan buah hati mereka. Namun, kini hanya dirinya dan kedua anaknya menyiapkan keperluan mereka.
"Bu, nanti kakak akan naik ke panggung mau membacakan puisi," kata Aqilah dengan penuh semangat.
__ADS_1
Tentu saja Rinjani merasa sangat senang karena anak-anaknya selalu berusaha menjadi yang terbaik di kelasnya. Baik Aqilah maupun Azzam biasanya mendapatkan ranking 1 dan Dewa akan memberikan hadiah untuk mengapresiasi prestasi mereka.
"Ibu senang kalau Kakak akan tampil di atas panggung nanti. Puisi apa yang akan bawakan?" tanya Rinjani sambil memakaikan pakaian bagus untuk Attar.
Gadis kecil itu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum nakal kepada ibunya. "Rahasia."
Rinjani hanya tertawa kecil menanggapi jawaban dari putrinya itu. Dia harus bersabar untuk tahu isi puisi yang dirahasiakan olehnya sampai Aqilah tampil dan beraksi di atas panggung.
***
Hari itu pun Aqilah naik panggung dan membacakan sebuah puisi tentang 'Ibu'. Gadis kecil itu berdiri di atas panggung disaksikan oleh ratusan orang.
Ibu,
Engakau adalah wanita yang paling mulia di muka bumi ini.
Ibu,
Engkau sudah mengandung aku selama 9 bulan 10 hari.
Ibu,
Sehingga aku tahu betapa indah dan agungnya alam semesta ciptaan Allah.
Ibu,
Engkaulah yang sudah membesarkan dan mendidik aku menjadi seperti saat ini.
Ibu,
Betapa besar pengorbananmu kepada anak-anakmu.
Walau begitu banyak rintangan dan halangan yang kau hadapi untuk menghidupi anak-anakmu.
Perjuanganmu penuh dengan darah dan keringat.
__ADS_1
Ibu,
Maafkanlah anak-anakmu jika ada salah
Maafkanlah anak-anakmu yang tidak bisa membalas semua kebaikan dirimu.
Ibu,
Kasih sayangmu sepanjang masa, Cintamu seumur hidup.
Ibu,
Kami semua mencintaimu dan menyayangimu.
Aqilah membaca puisi itu dengan penuh penghayatan. Air matanya berderai sejak awal di bersuara. Bukan hanya dia saja yang menangis, tetapi banyak orang di sana juga merasakan hal yang sama. Begitu juga dengan Rinjani. Perempuan itu menangis tertahan sambil mendekap Attar. Dia berusaha agar tidak pecah suara isak tangisnya.
Tepuk tangan langsung bergemuruh memenuhi lapangan sekolah. Mereka sangat suka dengan tampilan Aqilah barusan.
Pembagian raport pun telah selesai dan sesuai prediksi teman-teman sekolah, kalau Aqilah akan kembali menjadi juara 1. Gadis kecil itu membawa banyak hadiah karena selain menjadi juara kelas dan baca puisi. Dia juga menjuarai kuis yang diberikan oleh pihak sekolah. Juara terajin dan berprestasi dalam nilai tertinggi se-kecamatan.
Azzam juga mendapatkan juara 1 serta beberapa lomba MTQ dan Azdan. Selain itu dia juga menjadi murid terajin.
"Maafkan ibu, ya, Nak. Kali ini ibu tidak bisa memberikan kalian hadiah apa-apa. Hanya doa yang bisa ibu berikan untuk kalian," ucap Rinjani dengan perasaan getir.
***
Keesokan harinya datang Bagaskara ke rumah Rinjani. Namun, hanya ada Aqilah yang ada di rumah. Sebab, Rinjani sedang pergi ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan Attar dan pergi bersama Azzam.
"Jadi, kamu sendirian di rumah?" tanya Bagaskara yang kini sedang duduk di kursi teras depan rumah.
"Iya. Karena Azzam bilang akan menjaga mama dan Attar," jawab Aqilah yang duduk di depan tamunya.
Bagaskara senang mendengar ucapan gadis kecil itu. Dia tahu kalau Azzam adalah anak laki-laki yang bertanggung jawab dan selalu berusaha menjaga dan melindungi ibu dan saudara-saudaranya.
"Om, kenapa pagi-pagi sudah datang ke sini?" tanya Aqilah dan laki-laki itu terkejut saat ditanya seperti itu oleh Aqilah.
__ADS_1
***
Jawaban Apa yang akan diberikan oleh Bagaskara? Tunggu kelanjutannya, ya!