Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 53. Permintaan Rinjani Kepada Bagaskara


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 53


Dirga menatap orang-orang yang ada di sana dengan penuh kebencian. Lalu, dia pun pergi dari sana.


Rinjani merasa tidak hati sekarang. Dia tidak pernah memberikan harapan atau memberikan perhatian khusus pada Dirga. Dia tidak punya perasaan apa pun kepadanya. Terlebih anak-anak tidak suka kepadanya.


"Maafkan putra kami, Rinjani," kata Papa Bima memecah keheningan di ruang makan itu.


"Iya, Pa. Aku tidak tahu kalau Dirga adalah anak kedua Papa Bima dan Mama Adira," balas Rinjani.


"Ya, sejak masuk sekolah tingkat SMA, Dirga memang sekolah di Australia. Dia mendapatkan beasiswa dari pemerintah sana. Makanya kamu tidak kenal dan belum pernah bertemu dengan dia," lanjut Mama Adira.


"Dirga juga orangnya pendiam dan suka berdiam diri di kamar sejak masih kecil. Dia kurang bersosialisasi dengan orang lain. Makanya dia sering egois dan kurang memahami orang lain," tambah Papa Bima.


Rinjani menyadari hal ini. Dirga dan Bagaskara sangat bertolak belakang sifatnya. Dia juga membenarkan kalau Dirga itu orangnya kurang rasa simpati dan empati terhadap orang lain. Hal ini dikarenakan kurangnya bersosialisasi dengan orang lain.


Rinjani dulu saat pindah ke desa juga selalu merasa malu jika harus bergabung dengan warga di sana. Namun, Dewa selalu menasehatinya agar dirinya mau berbaur dengan orang-orang sekitar. Sebab, menjalin hubungan baik dengan para tetangga juga merupakan suatu ibadah. 


Hablumminannas dimaknai sebagai tindakan menjaga hubungan kepada sesama manusia dengan senantiasa menjaga hubungan baik, menjaga tali silaturahmi, mempunyai kepedulian sosial, tepa selira, tenggang rasa dan saling menghormati.


“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”(Surah An-Nisa Ayat 36)


***


Rinjani dan keluarganya pun pulang saat jam sudah menunjukkan pukul 21:00 dan Attar juga sudah jatuh tertidur di pangkuan Mama Adira. Sebenarnya kedua orang tua Bagaskara menginginkan mereka semua menginap, tetapi Rinjani menolaknya dengan halus.


Bagaskara seakan enggan berpisah dengan Rinjani, setelah mengantarkan mereka pulang ke rumah Kakek Atmaja. Dia meminta waktu sebentar kepada ibu muda itu untuk membicarakan sesuatu.

__ADS_1


"Katakanlah?" Rinjani dan Bagaskara berdiri di teras yang menghadap halaman samping.


Angin malam yang terasa dingin tidak menyurutkan keduanya untuk masuk ke dalam rumah. Mungkin karena pemandangan langit malam yang begitu indah dihiasi oleh jutaan bintang, ingin mereka lihat sambil berbicara.


"Jika kamu merasa kurang nyaman kedepannya pada Dirga. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan itu. Aku akan ikut ke mana pun kamu ingin tinggal. Kalau kamu mau Dirga yang dijauhkan, aku akan mengirim dia ke luar negeri," kata Bagaskara.


Rinjani memang kini merasa kepikiran bagaimana hubungan mereka ke depannya. Jika laki-laki yang dulu mengejar-ngejar dia dan pernah mengajaknya menikah sering bertemu, apalagi tinggal di satu atap dengannya. Dia pasti tidak akan merasa nyaman dan betah.


"Aku malah semakin pusing dengan kalian berdua," jujur Rinjani.


"Kamu jangan pusing. Kamu hanya perlu membuka hati kamu saja kepadaku," balas Bagaskara.


Kini keduanya berdiri saling berhadapan dan beradu pandang. Bagaskara bisa melihat dengan jelas buku mata lentik milik Rinjani.


"Aku masih belum bisa merasakan apa pun dalam hatiku ini untuk kamu," aku Rinjani.


Meski ada rasa sakit yang menyusup ke dalam hati Bagaskara, tetapi dia hanya bisa tersenyum manis. Dia rasanya ingin memeluk dan kembali mencium bibir ranum milik wanita ini.


Rinjani bisa melihat kesungguhan dan kejujuran akan perasaan dan perkataan dari Bagaskara. Dia tahu laki-laki ini berbeda dengan Dirga.


"Satu hal yang aku pinta darimu, Bagas." Rinjani kini bicara dengan menatap langsung ke arah mata laki-laki itu.


"Apa? Katakanlah! Aku akan melakukan apa pun yang kamu mau selagi aku mampu," ucap Bagaskara.


"Jadilah seorang suami yang bisa mengayomi aku dan anak-anakku. Seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab atas diri istri dan anak-anaknya. Seorang laki-laki yang bisa membawa keluarganya di jalan yang lurus dan dalam ridho Allah," tukas Rinjani.


"Insha Allah. Aku akan melakukan hal itu. Meski aku bukan Dewa, tetapi aku akan melakukan yang terbaik untuk kalian. Jika kita menikah anak-anak kamu berarti anak-anak aku juga. Aku pun akan melakukan hal yang tidak beda jauh dari Dewa untuk kalian," pungkas Bagaskara.


Hati laki-laki ini merasa sangat bahagia sekarang. Sang pujaan hati sudah memberikan lampu hijau akan kelanjutan hubungan mereka.


***

__ADS_1


Sementara itu, Dirga pergi dari rumah dan mendatangi sebuah klub malam. Ini pertama kali baginya mendatangi tempat itu.


"Hei, siapa ini? Akhirnya kamu menginjakkan kaki ke tempat seperti ini," ucap salah satu teman Dirga.


"Mana Boby?" tanya Dirga.


"Tuh, di sana bersama Dendi!" balasnya sambil menunjuk ke arah pojok.


Dirga melihat Boby sedang bicara dengan temannya yang sedang menggerayangi tubuh seorang wanita seksi yang bajunya sudah terbuka di sana sini.


"Bob, aku butuh teman bicara," kata Dirga begitu sampai di sana.


Dia merasa jijik pada Dendi yang sedang memainkan tubuh wanita malam di depan banyak orang.


"Hei, Dirga! Kebetulan kalau begitu, cari saja wanita di sini, lalu ajak bicara sambil bersenang-senang," balas Dendi.


Boby yang tahu Dirga paling tidak suka diejek oleh orang lain, dengan cepat ditarik oleh Boby dan pergi dari sana.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Boby.


"Ternyata calon istri Kak Bagas itu adalah Rinjani yang selama ini aku cari," jawab Dirga yang kini bicara dilantai atas sambil menikmati minuman non alkohol.


"Apa? Terus apa yang akan kamu lakukan?" tanya Boby masih memperlihatkan ekspresi wajah terkejut.


***


Apa yang akan dilakukan oleh Dirga? Apakah hubungan Rinjani dan Bagasakra akan berjalan lancar? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.


__ADS_1


__ADS_2