Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 19. Setelah Kesulitan Itu Ada Kemudahan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 19


Beberapa saat sebelumnya ….


"Abang … Bu, mana?" tanya Attar dengan suara khas anak-anak yang cempreng dan cadel.


"Ibu, pulangnya nanti," jawab Aqilah karena Azzam malah diam saja dengan mata yang berkaca-kaca.


"O-iya. Beli obatnya harus naik mobil," kata Attar dengan mata menyipit karena tersenyum menggemaskan.


Ini malah membuat Azzam menangis tersedu-sedu. Attar masih saja tersenyum senang, lalu bersholawat dengan suaranya yang kencang dan cadel. Saat ini hari sudah mulai gelap dan waktunya dia tidur. Bocah kecil itu berdiri di dekat jendela sambil menatap ke luar rumah. Dia berharap kalau ibunya segera pulang.


"Adik mau bobo?" tanya Aqilah.


"Mau sama ibu," jawab Attar sambil menggelengkan kepala.


"Ibu mungkin masih lama pulangnya. Adik tidurnya bersama kakak saja, ya!" ajak Aqilah.


Akhirnya, Attar pun mau pergi tidur juga bersama Aqilah. Ketiga orang itu memilih tidur di rumah sendiri, dibandingkan tidur di rumah Pak RT. Meski mereka merayu dengan berbagai cara, tetapi tidak membuat ketiganya mau ikut.


Tempat tidur ukuran queen size, berisi tiga orang anak yang tidur saling berpelukan. Mereka berharap saat membuka mata besok, sudah ada sang ibu di rumah.


"Kak, kenapa Allah begitu sering memberikan ujian kepada keluarga kita setelah kepergian ayah?" tanya Azzam yang merasa kalau cobaan terus datang bertubi-tubi tiada henti.

__ADS_1


"Karena, Allah mau mengangkat derajat keluarga kita. Bukannya Dia sangat suka pada hamba-Nya yang selalu mengingat Dia di saat kesulitan. Percayalah, sesungguhnya Allah selalu bersama kita," jawab Aqilah.


"La Tahzan Innallaha ma'ana," lanjut Azzam mengingat kembali kata-kata yang sering ucapkan oleh ayahnya dulu.


"Ya. Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Kita hanya perlu berserah diri saja pada Sang Pemilik Takdir," tambah Aqilah dengan senyum tipis terukir di wajahnya.


"Abang, jadi kangen sama Ayah," gumam Azzam sambil menatap kakaknya.


"Kakak juga," balas gadis kecil itu.


"Apa ayah di alam barzah, saat ini sedang bahagia?" tanya anak laki-laki berusia 7 tahu kurang itu.


"Insha Allah, akan merasa bahagia jika kita selalu mendoakannya. Bukannya hanya doa anak sholeh yang bisa menjadi bekal amal bagi orang tua yang sudah meninggal?" jawab Aqilah.


***


Betapa terkejutnya Rinjani saat melihat wajah laki-laki itu ketika mengangkat kepalanya. Tubuhnya langsung mematung di tempat dan raut wajahnya berubah menjadi pucat.


"Bagaskara!" pekik Rinjani akhirnya.


"Ya, ini aku. Sudah lama kita tidak bertemu, ya?" tanya Bagaskara.


Perempuan itu masih terdiam di tempatnya dan tidak menjawab pertanyaan yang baru saja diajukan kepadanya.


"Se-dang a-pa kamu di sini?" tanya Rinjani tergagap.


Laki-laki itu tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan dari si janda kembang. Dia masih saja melihat lekat pada wajah Rinjani yang semakin terlihat dewasa dan cantik.

__ADS_1


"Apa aku harus menjawabnya?" tanya Bagaskara balik.


"Apa kamu yang sudah membebaskan aku dari penjara dengan jaminan?" tanya Rinjani lagi.


Sebenarnya Bagaskara tidak mau kalau sampai Rinjani tahu akan hal ini. Namun, apa boleh buat sekarang dia sudah terlanjur tahu.


Dikarenakan hari yang sudah malam membuat Rinjani menerima tawaran dari Bagaskara untuk mengantar dia sampai pulang ke rumah. Mau tidak mau dia harus naik mobilnya, karena dia sudah tidak bisa bersabar lagi, ingin segera pulang ke rumah dan menemui ketiga anaknya.


"Bagaimana kamu tahu kalau aku sedang berada di penjara kantor polisi? tanya Rinjani.


"Bolehkah aku tidak menjawab pertanyaan kamu?" balas Bagaskara.


Akhirnya Rinjani pun memilih diam dan bersandar pada kaca jendela mobil. Perempuan itu duduk di kursi belakang, meski tadi Bagaskara menawarinya untuk duduk di depan.


"Aku ucapkan banyak terima kasih karena kamu sudah mau menolong aku," kata wanita itu sambil menegakkan tubuhnya kembali.


"Kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena aku juga melakukan hal ini untuk diriku sendiri," balas Bagaskara.


"Maksudnya?" tanya Rinjani.


"Aku tidak suka kalau perempuan yang aku cintai bersedih," jawab Bagaskara.


Deg!


Rinjani merasa jantung berhenti berdetak. Dia pun menundukkan kepalanya, setelah mereka beradu pandang lewat kaca spion.


***

__ADS_1


Apa yang terjadi di masa lalu antara Rinjani dan Bagaskara? Kenapa Bagaskara mau menolong keluarga Rinjani? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2