Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 49. Ajakan Bagaskara


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 49


"Katakan ada apa?" tanya Mama Adira kepada putranya.


"Aku mau tanya, Ma," balas si sulung dan terjeda untuk menarik napasnya.


"Kira-kira kesungguhan apa yang diinginkan dari wanita yang diajak menikah oleh laki-laki?" tanya Bagaskara langsung tanpa basa-basi.


Bagaskara pun menceritakan semua yang tadi sore hari dia bicarakan dengan Rinjani. Laki-laki itu juga mengutarakan kegalauan dirinya yang tidak paham tentang kesungguhan yang diminta oleh Rinjani.


"Kamu ini laki-laki yang paling bodoh, yang Mama kenal!" pekik Mama Adira sambil memukul bahu putranya.


Tentu saja hal ini membuat Bagaskara mengaduh kesakitan meski tidak seberapa rasa sakitnya. Dia berharap ibunya tidak melakukan hal itu kepadanya.


"Mama, kok, malah pukul aku?" Bagaskara mencoba melindungi dirinya dari serangan beruntun Mama Adira yang masih saja terus dilancarkan kepadanya.


"Karena kamu bodoh, tidak memahami maksud dari perkataan Rinjani," balas wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan Bagaskara.


"Makanya aku tanya sama Mama dan Papa, untuk memberi tahu aku apa yang diinginkan oleh Rinjani," ujar laki-laki anak pertama dari pasangan Adira dan Bima.


"Bukannya mama sudah merencanakan hal itu dengan kamu, dahulu. Sering-seringlah ajak Rinjani dan anak-anaknya main ke rumah ini. Membuat mereka semua semakin dekat dengan keluarga kita dan merasa nyaman di sini. Jika mereka sudah merasakan kerasan dan bahagia saat bersama kita, maka kamu tinggal meminangnya," jelas Mama Adira.


Bagaskara pun terperangah baru menyadari maksud kesungguhan yang dimintai Rinjani. Yaitu, mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. 


Dia juga lupa kalau dulu pernah berucap akan mengajak Rinjani dan ketiga anaknya untuk bermain ke sini dan mengenalkan mereka kepada mama dan papanya. Dia merutuki dirinya dan baru ingat sekarang.


'Kenapa aku sampai lupa akan hal penting seperti ini?' (Bagaskara)


Setelah tahu apa yang diinginkan oleh Rinjani, Bagaskara kembali ke kamarnya dan bisa tidur nyenyak. Bahkan dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Rinjani, besok.

__ADS_1


'Tunggu aku Rinjani.' (Bagaskara)


***


Keesokan harinya Bagaskara sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Rinjani. Dia sengaja datang pagi-pagi bahkan tidak sarapan di rumah. Laki-laki itu mau makan bersama sang pujaan hati dan ketiga jagoannya.


Bagaskara mendatangi rumah Kakek Atmaja dengan perasaan bahagia. Senyum tampan menghiasi wajahnya yang rupawan. Langkah kakinya terasa ringan dan mengayun dengan cepat.


"Assalamualaikum, Rinjani … 'Sayang'," salam Bagaskara dilanjutkan dalam hatinya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Rinjani saat membuka pintu setelah mendengar bunyi bel.


Bagaskara tersenyum saat mereka beradu pandang dengan sang pujaan hati. Jantung dia langsung bertalu-talu saking merasa senangnya melihat wanita cantik yang belakangan ini menghiasi mimpi dia di malam hari.


Senyum tipis juga menghiasi wajah Rinjani mendapati tamu di pagi hari yang selalu di nanti oleh ketiga anaknya. Laki-laki itu begitu mudahnya mencuri hati buah hati dan harta paling berharga milik sang janda kembang.


"Rinjani, ada sesuatu yang penting dan ingin aku bicara dengan kamu sekarang," kata Bagaskara dengan lembut begitu mereka masuk ke dalam rumah.


Rinjani pun menghentikan langkahnya, lalu mengarahkan perhatian kepada laki-laki yang penampilannya sangat rapi ini. Terlihat pancaran binar dari netra Bagaskara. Entah kenapa perasaan wanita itu sekarang menyukai tatapan matanya.


Tidak mau membuang-buang waktu yang berharga bagi perempuan itu, maka Bagaskara pun langsung saja mengutarakan maksudnya


"Aku ingin mengajakmu dan seluruh keluarga ini nanti malam untuk menemui mama dan papaku. Kita akan makan malam bersama," kata Bagaskara dengan tersenyum tipis.


Rinjani sangat terkejut saat mendengar ucapan laki-laki yang duduk di dekatnya. Dia tidak menyangka kalau Bagaskara sudah memikirkan langkah selanjutnya dalam keseriusan untuk menjalin hubungan kedepannya. 


"Aku sudah mengutarakan keinginan aku untuk meminang dirimu kepada papa dan mama. Mereka merasa sangat senang dan minta aku segara mempertemukan dengan kamu dan anak-anak," ucap Bagaskara lagi.


Ada perasaan lain yang menyusup dalam hati Rinjani. Wanita itu menginginkan hubungan yang mendapatkan restu dari kedua keluarga mereka. 


"Lalu, anak-anak. Apa kamu juga sudah bercerita tentang mereka?"


Dia sadar diri kalau saat ini dirinya adalah seorang janda beranak tiga. Rinjani tidak mau jika, keluarga Bagaskara mau menerima dirinya, tetapi tidak mau menerima keberadaan anak-anaknya. Sebab, baginya ketiga buah hati hasil pernikahan dengan Dewa adalah segalanya dalam hidup dia.

__ADS_1


"Mama dan papa juga ingin berkenalan dengan calon cucu mereka," lanjut Bagaskara.


"Ya, aku akan beri tahu anak-anak nanti," balas Rinjani dengan perasaan haru, karena kedua orang tua Bagaskara ingin mengenal anak-anaknya.


Betapa bahagianya anak-anak saat tahu akan diajak ke rumah Bagaskara nanti malam. Bahkan laki-laki itu mengatakan akan mengajak mereka jalan-jalan ke Aquarium sea world keesokan harinya sebelum mereka masuk sekolah.


"Kalian menginap saja di rumah Om, agar besok kita bisa langsung berangkat dari rumah pagi-pagi," kata Bagaskara.


"Asyik! Adik mau … adik mau!" seru Attar sambil melompat-lompat senang.


"Kakak juga mau ikut menginap di rumah Om Bagas," kata Aqilah sambil tersenyum lebar.


"Abang ikut ibu saja. Ibu menginap maka Abang juga akan menginap. Jika ibu pulang, maka Abang juga pulang," ucap Azzam.


"Eh." Attar dan Aqilah saling melirik.


"Kita juga akan menginap jika ibu menginap," tukas Aqilah akhirnya.


Rinjani tersenyuman tipis. Dia tidak mungkin menginap di rumah Bagaskara. Nanti malah timbul fitnah.


"Kalian jangan menginap di sana. Kakek tidak memberikan izin!" pekik Kakek Atmaja dengan tegas dan membuat terlonjak ke orang-orang yang ada di meja makan.


"Kenapa, Kek?" tanya Attar dengan takut.


Rinjani sangat terkejut saat mendengar perkataan kakeknya tadi. Padahal dulu laki-laki tua itu sering mengajaknya menginap kalau kemalaman saat membicarakan bisnis dengan papanya Bagaskara.


"Tidak ada bantahan. Ini demi kebaikan kalian semua," jawab Kakek Atmaja.


"Apa, mama dan papanya Om Bagas, galak?" tanya Attar pada Kakek Atmaja.


***


Kenapa Kakek Atmaja melarang Rinjani dan anak-anaknya menginap di rumah Bagaskara? Akankah mereka bertemu dengan Dirga? Bagaimana reaksi Rinjani dan ketiga anaknya saat bertemu Dirga di sana?

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.



__ADS_2