Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 66. Liburan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 65


Hari yang ditunggu-tunggu oleh ketiga anak itu telah tiba. Mereka akan berlibur ke puncak selama 3 hari. Rinjani mempunyai sebuah villa peninggalan dari ibunya. Meski tidak terlalu mewah dan besar, tetapi tempat itu sangat nyaman untuk ditinggali. Sebenarnya, Rinjani sangat jarang mendatangi tempat itu saat masih remaja. 


Baru dua tahun belakangan, setelah perempuan itu kembali kepada Kakek Atmaja, dia mendatangi kembali rumah peninggalan keluarga pihak ibu. Lalu, Rinjani melakukan renovasi pada villanya, karena sudah sangat tua. 


Ini untuk keempat kalinya Rinjani beserta ketiga anak itu berlibur di sana. Ada pasangan suami istri yang mengurus villa dan kebun sayuran organik berupa brokoli dan kubis. 


"Non Rinjani, katanya villa Pak Djaka akan dijual. Apa Non Rinjani tertarik untuk membelinya?" Bibi Munaroh memberi tahu kalau villa yang ada di dekat bangunan itu akan dijual.


"Kenapa Pak Djaka menjual villa mewah itu?" tanya Rinjani. Dia tidak mau sembarangan membeli tanah atau rumah, takut terjadi sengketa nantinya.


"Istrinya berkata, kalau keluarga mereka terlilit hutang. Kedua anaknya suka melakukan judi online dan tanpa sepengetahuan Pak Djaka, anak-anak itu menggadaikan sertifikat tanah dan juga rumah mereka yang mereka tinggal di ibu kota," jawab Bibi Munaroh.


Rinjani langsung beristighfar dalam hati. Dia tahu kalau perbuatan seperti judi itu selalu banyak merugikan si pelakunya. Namun, meski begitu orang-orang tidak pernah kapok, sehingga melakukannya lagi dan lagi. Meski sampai harta kekayaan mereka sudah habis semua, judi tidak bisa dihentikan. Jalan lainnya meminjam uang ke rentenir. 


Banyak orang yang jatuh miskin gara-gara judi. Akan tetapi, mereka jarang menjadi pelajaran bagi orang-orang di sekitarnya.


"Nego saja, Bu, harganya. Lumayan, biasanya di tawar murah akan dikasih. Apalagi saat ini mereka sedang butuh uang," lanjut Mang Hamid.


"Mang Hamid ini bagaimana, orang sedang kesusahan malah dimanfaatkan," timpal Rinjani.


Pasangan suami istri itu pun tertawa. Keduanya tahu kalau Rinjani bukanlah tipe orang yang suka memanfaatkan kelemahan atau ketidak berdayaan orang lain, apalagi saat ini orang itu sedang kesusahan.


"Apakah villa Pak Djaka itu sangat bagus?" tanya Bagaskara penasaran.


"Iya. Bangunan villanya adalah yang paling megah dan bagus di sekitar sini," jawab Mang Hamid.

__ADS_1


Ternyata Bagaskara tertarik dengan villa itu. Dia ingin melihat tempat itu dan ingin tahu berapa harga yang diinginkan oleh sang pemilik. Lalu, Mang Hamid memberikan nomor kontak milik Pak Djaka kepada Bagaskara.


***


Sore harinya Pak Djaka dan istri datang menemui Rinjani dan Bagaskara. Lalu, mereka mengajak mereka untuk lihat-lihat isi bangunan villa. 


Villa itu sangat bagus dan terawat dengan baik, karena ada 4 orang yang selalu membersihkan dan menungguinya secara bergilir. Di sana ada kolam renang yang berukuran sedang, di samping bangunan. Saat lewat sana tanpa sengaja Rinjani jatuh terpeleset dan masuk ke dalam kolam itu.


Kejadian yang tiba-tiba itu membuat kaki Rinjani kram, sehingga dia tidak bisa berenang. Dia pun berteriak minta tolong.


Bagaskara yang takut terjadi sesuatu kepada Rinjani langsung saja melompat dan menarik tubuh sang kekasih ke tepi. Saking paniknya Bagaskara memberikan napas buatan kepada perempuan itu. Padahal Rinjani tidak dalam keadaan pingsan atau tidak sadar diri. 


Tentu saja ini membuat ibu tiga anak itu shock. Bibir mereka saling menempel. Wanita itu merasakan hangat dari bibir Bagaskara. Dia pun memukul dada laki-laki itu agar menghentikan perbuatan.


Jantung perempuan itu bertalu-talu. Ada perasaan yang dulu sering dia rasakan saat bersama dengan Dewa. 


'Apa aku sudah menyukai Bagaskara?' (Rinjani)


"Maaf," lirih Bagaskara.


"Sebaiknya kalian ganti dulu pakaian. Ada baju di kamar atas," ucap Pak Djaka.


"Tidak perlu, Pak. Kami akan pulang saja," ucap Rinjani.


Bagaskara pun membeli villa itu dengan harga negosiasi. Pak Djaka merasa senang karena ada uang untuk membayar hutang ke bank, sehingga rumah mereka tidak disita.


***


Keesokan harinya mereka semua jalan-jalan di lingkungan puncak. Orang-orang mengenal mereka sebagai keluarga. Apalagi Attar yang selalu menempel pada Bagaskara. Azzam yang selalu menggandeng tangan ibunya. Aqilah yang kini sudah remaja terlihat seperti kakak beradik sama Rinjani.


Penduduk di sana yang mengenal Rinjani menyapa ramah. Mereka senang dengan sosok janda kembang yang sangat baik ke tetangga di sana.

__ADS_1


Petani sayuran di sana juga senang jika dimintai tolong saat panen tiba. Sebab, Rinjani selalu memberikan upah yang lumayan besar jika dibandingkan dengan juragan lainnya.


"Villa kamu bisa disewakan, loh. Apalagi sekarang banyak destinasi wisata di sini," ucap Rinjani.


"Iya, juga, ya. Lumayan daripada dibiarkan begitu saja tanpa menjadikan hasil," kata Bagaskara.


Di sana ada kolam air panas, biasanya anak-anak suka berendam di sana. Malam hari mereka berendam di kolam pribadi. Meski malam hari, banyak orang-orang yang datang ke sana.


Rinjani dan Aqilah berbeda tempat dengan Bagaskara dan kedua anak laki-laki Rinjani. Anak gadisnya itu sudah seperti seorang teman yang suka berbagi cerita.


"Bu, apa sekarang Ibu sudah cinta kepada Om Bagas?" tanya Aqilah menggoda ibunya.


"Apaan, sih. Ibu masih belajar membuka hati untuknya. Pesona Ayahmu masih terlalu kuat menjerat perasaan ibu," jawab Rinjani malu-malu.


Saat bicara dia teringat akan debaran jantungnya kemarin. Meski ada rasa marah karena Bagaskara tiba-tiba saja memberi napas buatan, tetapi dia tidak bisa membenci laki-laki itu.


"Tapi, Ibu dan Om Bagas sangat cocok, loh. Orang-orang juga bilang seperti itu," lanjut anak gadis itu seraya tersenyum jahil.


"Apa? Kakak jangan ikut-ikutan, deh, menggoda ibu," sahut Rinjani mencubit pipi anaknya. Aqilah malah tertawa bahagia karena melihat ibunya yang kini merasa malu.


"Semoga, Om Bagas adalah jodoh terakhir Ibu. Aku tidak mau lagi melihat ibu bersedih seperti saat ditinggalkan oleh ayah," lirih putri sulung sang janda.


"Saat itu, dunia ibu terasa runtuh dan gelap. Selain itu rasanya di dalam ini ada yang hilang dan terasa hampa. Jika saja tidak ada kalian bertiga, ibu pasti akan benar-benar terpuruk ditinggalkan oleh belahan jiwaku. Karena kalian, ibu ... bangkit. Karena kalian, ibu ... berjuang. Kalian adalah sumber kekuatan dan kebahagiaan ibu," aku Rinjani sambil membelai rambut putrinya.


"Semoga saja Om Bagas juga akan sama berartinya seperti ayah, bagi keluarga kita," kata Aqilah dan Rinjani mengiyakan sambil tersenyum.


***


Rinjani sudah malu-malu kucing tuh, pada Bagas. Apakah pernikahan keduanya akan lancar? Atau akan ada hambatan? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus kepoin novelnya. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian. Yuk, merapat yang suka cerita Romantis.

__ADS_1



__ADS_2