
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 44
Tanpa terasa waktu pun bergulir dengan cepat. Pembangunan madrasah dan beberapa rumah warga yang dibantu oleh Rinjani atas nama Dewa semua sudah selesai. Hati dia sekarang merasa tenang dan juga senang. Air mata kebahagiaan membasahi matanya yang indah. Apa yang dulu diimpikan dan diharapkan oleh suaminya dapat dia wujudkan.
"Mas, semoga Allah menerima segala amal baik dan ibadahmu. Aku harap di akhirat kelak kita dipersatukan kembali," ucap Rinjani saat dia mendatangi kuburan suaminya.
Meski sudah 1 tahun lebih sejak kematian Dewa, tetap saja Rinjani selalu meneteskan air matanya jika mengingat laki-laki ini. Begitu juga saat mendatangi kuburannya, pasti air mata dia tidak akan berhenti keluar.
"Mungkin kedepannya aku tidak akan sering datang mengunjungi kamu, Mas. Karena aku dan anak-anak akan tinggal di kota bersama dengan Kakek. Meski hati ini berat meninggalkan desa yang penuh dengan kenangan indah kita, aku tidak mau egois, sementara anak-anak ingin tinggal bersama dengan kakek buyutnya." Rinjani menahan suara tangisnya sambil memegang pusara bernamakan orang yang dicintainya.
***
Bagaskara setiap minggu selalu mendatangi rumah Rinjani agar bisa bermain bersama dengan ketiga anak itu. Tentu saja dia juga bisa bertemu dengan sang pujaan hati. Meski di antara mereka berdua tidak pernah terlibat pembicaraan yang serius, semenjak laki-laki itu ditolak untuk kesekian kalinya oleh Rinjani.
Beberapa bulan yang lalu, Bagaskara pernah mengutarakan isi hatinya kembali dan menginginkan Rinjani untuk menjadi pendamping hidup dia. Namun, wanita itu masih belum bisa menerima laki-laki lain dalam hatinya.
"Assalamualaikum, Attar." Bagaskara menyapa anak laki-laki yang sedang main di teras rumah bersama teman-teman seusianya.
"Wa'alaikumsalam, Om Bagas." Bocah itu pun berlari sambil merentangkan kedua tangannya seperti biasa.
"Apa kabar jagoan, Om Bagas?" tanya Bagaskara sambil menggendong Attar.
"Alhamdulillah, baik," jawab Attar sambil memeluk leher dan mencium pipi laki-laki dewasa ini.
"Om Bagas," panggil Aqilah yang baru saja keluar rumah.
Anak gadis yang kini sudah memasuki usia remaja tumbuh semakin cantik mirip Rinjani. Dia pun menyalami laki-laki yang kini sudah dianggapnya ayah oleh si bungsu.
__ADS_1
"Kakak, bagaimana ujiannya kemarin?" tanya Bagaskara sambil duduk di kursi setelah memberikan beberapa kantong bingkisan untuk mereka.
"Alhamdulillah, semua lancar, Om. Semoga nanti bisa jadi juara satu kembali," jawab Aqilah.
"Abang ke mana? Tumben tidak kelihatan," tanya Bagaskara sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok anak laki-laki berwajah mirip Dewa versi mini.
"Abang sedang pergi ke sungai di ajak sama teman-temannya tadi," jawab Aqilah sambil menyuguhkan air minum dan beberapa toples cemilan.
"Lalu, ibu kamu? Kok, tidak kelihatan," tanya laki-laki berbaju kasual. Biasanya Rinjani selalu datang menyambutnya jika dia berkunjung.
"Ibu dan Kakek sedang mengunjungi rumah Pak RT," jawab Aqilah dengan tersenyum manis.
Rumah Rinjani yang juga sudah direnovasi ini nantinya akan ditempati oleh seorang janda dan anaknya. Mereka akan mengurus rumah ini selama Rinjani tinggal di ibu kota. Bagaimanapun juga dia tidak mau rumah yang dulu dia bangun dengan susah payah bersama Dewa, menjadi terbengkalai. Lebih baik dia menggaji seseorang yang amanah dan benar-benar membutuhkan tempat tinggal.
Kebetulan ada seorang janda yang ngontrak di kontrakan Pak Haji Umar, bersedia mengurus rumah ini. Bahkan Rinjani memberinya upah, tentu saja membuat wanita itu senang. Selain tinggal di rumah yang lebih bagus dan bersih secara gratis, dia juga akan mendapat pemasukan tiap bulannya.
"Mbak Nurul aku minta jaga rumah kami baik-baik, ya! Mungkin aku tidak bisa datang setiap bulan ke sini. Jaga amanah yang aku percayakan kepadamu, Mbak," ucap Rinjani.
"Insha Allah, Bu Rinjani. Aku akan menjaga rumah ini dan mengurusnya baik-baik. Terima kasih sudah memberikan kepercayaan kepadaku. Aku tidak tahu lagi harus bilang apa. Kemarin sempat putus asa karena tidak punya uang untuk bayar kontrakan. Buruh di pabrik tahu hanya cukup untuk makan sehari-hari dan beli token listrik," balas Mbak Nurul dengan berlinang air mata.
"Alhamdulillah, aku senang bisa membantu Mbak Nurul meski hanya sedikit," ujar Rinjani dengan senyum tipis.
"Bagi aku dan kedua anakku, ini bantuan yang sangat besar dan berarti, Bu Rinjani. Aku tadinya mau pulang kampung saja ke rumah orang tua, karena keluarga mertua tidak mengharapkan kehadiran kami," aku Mbak Nurul sambil terisak.
"Mungkin ini sudah menjadi suratan takdir Mbak Nurul sekeluarga. Apa sudah siap pindah ke rumah aku?" tanya Rinjani.
"Sudah, Bu. Barang kami hanya segini," jawab Mbak Nurul sambil menunjukan beberapa dus dan dua tas besar.
"Biar Mang Jalil yang bawa barang-barang itu ke rumah aku," ucap Rinjani dan dia pun menuntun Kakek Atmaja.
Laki-laki tua itu kini semakin bersemangat menjalani hari-harinya. Dia juga terlihat sehat dan segar, serta agak gemukan badannya. Setiap hari Rinjani selalu memasakkan makanan kesukaannya.
__ADS_1
Sebenarnya dia lebih suka tinggal di sini sekarang. Namun, dia juga ingin agar Rinjani mau mengurus perusahaan miliknya.
"Kakek harap kita setiap bulan datang ke sini," kata Kakek Atmaja ketika mereka berjalan pulang ke rumah.
Laki-laki renta itu kini sudah banyak dikenal oleh warga di sana, jadi sering di sapa saat bertemu di mana pun. Mendapatkan perlakukan seperti itu membuatnya bahagia.
Saat mereka semua berjalan tanpa sengaja bertemu dengan Mpok Atun. Wanita itu masih menyimpan rasa tidak suka pada Rinjani. Bahkan sekarang semakin menjadi-jadi karena warga desa semakin mengelu-elukan sang janda kembang.
"Assalamualaikum, Mpok Atun," salam Rinjani saat berpapasan.
"Wa'alaikumsalam," balasnya dengan ketus sambil berlalu.
Kakek Atmaja yang sudah tahu permasalahan yang pernah terjadi antara cucunya dengan wanita tadi hanya tertawa terkekeh. Menurutnya Mpok Atun itu hanya iri kepada Rinjani karena disayangi oleh banyak orang, sedangkan dia yang kerjaannya mengghibah membuat orang-orang menjauhinya karena takut nanti malah dibalas diomongin sama orang lain.
Saat mereka sampai di rumah terlihat Bagaskara sedang bermain bersama dengan Attar. Putra bungsu pasangan Dewa dan Rinjani itu terlihat tertawa bahagia.
"Lihatlah. Anak-anak kamu bisa tertawa bahagia seperti itu ketika bersama dengan Bagaskara. Apa kamu masih ingin menutup pintu hati kamu untuknya?" tanya Kakek Atmaja.
***
Apakah Rinjani akan berusaha membuka hati untuk Bagaskara demi anak-anaknya? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.
Yusuf, seorang duda beranak satu yang baru saja ditinggal oleh Aisha–istrinya yang meninggal karena kecelakaan. Dia harus membesarkan Asiah–putrinya– seorang diri karena ibunya harus merawat ayahnya yang sakit stroke. Yusuf dan Asiah tinggal di apartemen milik perusahaan yang khusus diberikan oleh Sarah, CEO sekaligus putri pemilik perusahaan tempat dia bekerja sebagai Direktur Keuangan. Yusuf juga bertetangga dengan Zulaikha, seorang siswi SMA yang kurang kasih sayang orang tua dan suka menggoda dirinya, tetapi begitu sayang kepada Asiah. Zulaikha juga selalu terang-terangan bilang cinta dan sayang sama Yusuf. Namun, Yusuf selalu menganggapnya angin lalu.
Asiah selalu dititipkan di sebuah penitipan anak yang merangkap dengan lembaga pendidikan anak dini. Di sana mereka bertemu dengan Bilqis, mahasiswi magang yang mengingatkan pada sosok Aisha. Membuat Yusuf mulai terpaut hatinya karena kealiman dan kelembutan sifatnya. Namun, cintanya mendapat pertentangan dari keluarga Bilqis karena statusnya duda beranak satu.
Bagaimana kisah Yusuf dalam membesarkan Asiah yang aktif dan sering membuatnya mati kutu?
Siapa yang mendapatkan cinta Yusuf?
__ADS_1
Sarah anak perawan yang anggun dan cerdas? Zulaikha anak perawan penggoda dan jahil? Atau Bilqis anak perawan yang sholehah dan penyabar?