Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 8. Azzam Berkelahi


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 8


"Aqilah!"


Tubuh gadis kecil itu langsung menegang, karena dia merasa sangat terkejut saat ada orang lain yang memanggil namanya.


"Anda, siapa?" tanya Aqilah mencoba melawan ketakutannya. Dia selalu teringat akan ucapan ayahnya dahulu. Kalau kita tidak boleh takut pada makhluk ciptaan Allah, karena yang berhak ditakuti itu hanya Tuhan Semesta Alam, yang menghidupkan dan mematikan semua makhluk ciptaannya.


"Ini Om Bagas," jawab laki-laki itu sambil membuka helm miliknya.


Gadis kecil itu pun langsung tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya untuk mencium tangan laki-laki yang sudah dianggap sangat berjasa bagi keluarganya. Aqilah mencium tangan Bagaskara dengan takdzim. Meski Bagaskara bukan orang tua kandungnya, tetapi Aqilah melakukan hal ini sebagai adab yang harus dia lakukan kepada yang dia anggap sebagai orang yang dituakan.


"Mau ke mana?" tanya Bagaskara kembali dengan senyum simpulnya. Dia senang setiap bertemu dengan anak kecil ini.


"Mau pulang, Om," balas Aqilah dengan jujur dan tatapan mata yang polos.


"Temani Om makan, yuk!" ajak laki-laki itu.


Aqilah menggelengkan kepala karena dia harus cepat pulang dan mengerjakan tugas sekolah dasar. Gadis kecil itu meminta maaf tidak bisa menuruti keinginannya. Namun, dia memberi tahu Bagaskara tempat yang menurut dia enak masakannya. Tempat favorit dulu keluarga mereka jika ingin makan-makan di luar rumah.


"Kalau begitu Om antar kamu pulang saja, sebagai ucapan terima kasih karena sudah diberi tahu tempat itu," ucap Bagaskara dan Aqilah pun menyetujuinya. Jadilah, nanti ada alasan dia saat sudah tahu rumah Aqilah saat datang berkunjung.

__ADS_1


***


Azzam terlibat perkelahian dengan Juki, anak Mpok Atun. Awalnya kedua anak laki-laki itu sedang bermain bola bersama anak sekampung di lapangan dekat masjid. Juki yang merasa sangat kesal karena bolanya selalu berhasil di rebut oleh Azzam, mengolok-olok dia sebagai anak seorang pelakor. Tentu saja Azzam tidak terima dengan fitnah yang dituduhkan pada ibunya.


Teman-teman yang ikut bermain bola bersama dengan mereka, bukannya melerai malah memberi semangat dan memprovokasi agar kedua anak itu saling menyerang. Semakin keras teriakan mereka saat salah seorang dari keduanya jatuh ke tanah.


Kebetulan Pak RT dan Ustadz Hasan lewat ke sana dan melihat keributan mereka. Lalu, kedua orang dewasa itu pun melerai keduanya.


"Kenapa kalian sampai bisa berkelahi seperti ini?" tanya Ustadz Hasan. Laki-laki berkepala tiga yang merupakan guru mengaji kedua anak itu terlihat kecewa pada anak didiknya.


Azzam dan Juki saling berebut bercerita dan saling tuduh. Keduanya tidak mau disalahkan atas kejadian barusan. Anak-anak yang lainnya pun menceritakan kejadian dari awal kenapa mereka sampai berkelahi.


Kedua orang tua Azzam dan Juki dipanggil oleh Pak RT. Dia tidak ingin nantinya anak-anak menjadi pendendam dan suka bertindak arogansi kepada orang lain.


Rinjani membawa Attar dalam gendongannya saat mendatangi rumah Pak RT. Begitu sampai di rumah paling bagus di komplek rusun penduduk di sana, banyak anak-anak sedang duduk di teras rumah. Lalu, dia pun masuk ke dalam rumah begitu Bu RT memanggilnya. 


Ustadz Hasan pun memberi nasihat kepada kedua keluarga itu khususnya dan orang-orang yang ada di sana. Sebab, ada juga orang yang datang karena penasaran apa yang sedang terjadi di rumah Pak RT.


"Saya berharap Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu tidak memprovokasi atau meracuni anak-anak dengan sesuatu yang tidak baik," ucap laki-laki yang memiliki wajah teduh dan bola mata yang jernih.


Mpok Atun merasa tersentil, karena dia tadi menceritakan kejadian yang dialami olehnya saat bersama Rinjani kepada suami dan anaknya. Dia juga bilang kalau anaknya jangan lagi main-main dengan anak pelakor, takut kena imbas juga.


Kedua keluarga itu saling meminta maaf dan memaafkan atas suruhan Pak RT dan Ustadz Hasan. Rinjani tidak mau menyalahkan atau sok-sok menasehati anaknya di depan umum seperti Mpok Atun.


"Juki, Loe tahu kalau berkelahi itu tidak bae. Buat apa selama ini Loe mengaji jika tidak mana tahu mane yang bae mana yang kagak!" Suara Mpok Atun memenuhi halaman depan rumah Pak RT dan disaksikan oleh warga kampung se-RT. Sebenarnya dia berniat menyindir Rinjani dan Azzam. Namun, secara tidak langsung. Bagi orang lain itu terlihat baik, walau sebenarnya tidak. 

__ADS_1


Jika, kita hendak menegur atau menasehati seorang jangan di depan umum, tetapi di tempat yang bersifat pribadi atau jauh dari tontonan orang banyak. Hal ini untuk menjaga nama baiknya. Meski orang itu salah, bukan berarti dihakimi di depan banyak orang. Tadi juga Ustadz Hasan meminta Azzam dan Juki untuk datang ke rumah Pak RT, tetapi anak-anak yang lainnya pun ikut sebagai saksi. Hanya saja para tetangga yang kepo akan urusan orang lain jadi penasaran dan datang.


Rinjani merangkul bahu Azzam dan membawanya pulang.


Begitu sudah sampai ke rumah, Azzam disuruh membersihkan dirinya dan berwudhu. Baru setelah itu Rinjani bertanya kejadian yang sebenarnya, meski tadi sudah diberi tahu oleh Pak RT menurut ke saksikan anak-anak yang ikut bermain.


"Abang, kedepannya jangan mudah melakukan adu jotos seperti tadi. Jika ada masalah lebih baik dibicarakan dengan baik-baik. Jika, masih sulit dinasehati tinggalkan saja dia," ucap Rinjani.


Aqilah yang baru saja menyelesaikan mengerjakan tugas sekolah, ikut nimbrung. Setelah itu dia berbisik-bisik pada Azzam setelah ibunya pergi.


"Ini dari Om Bagas," kata Aqilah sambil menyerahkan satu set perlengkapan menulis dan menggambar.


"Kakak jadi ikutan lomba kaligrafi, dong! Sekarang sudah punya peralatannya," ucap Azzam senang.


"Iya, bahkan Om Bagas barusan kasih kita ayam bakar dan sate—"


"Kakak, itu banyak makanan di atas meja makann milik siapa?" tanya Rinjani di depan pintu kamar putrinya.


"Itu pemberian dari Om Bagas, karena kakak sudah memberi tahu tempat yang enak makanannya. Ternyata Om Bagas membukukan untuk kita," jawab Aqilah. 


Hari itu kesedihan dan kemarahan Azzam tersapu oleh rasa bahagia karena mendapatkan satu set perlengkapan sekolah dan bisa makan enak seperti saat masih ada ayahnya.


"Kak, Om Bagas itu siapa? Kenapa dia baik sama kita?" tanya Rinjani.


***

__ADS_1


Siapakah Bagaskara sebenarnya? Kenapa dia selalu mendekati Aqilah? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2