
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 14
Bagaskara mengajak Aqilah ke rumah makan langganan Dewa dahulu, untuk membeli makan siang agar saat Rinjani dan kedua anaknya pulang sudah ada makanan. Bahkan Aqilah juga memesan sayur brokoli khusus untuk Attar.
Orang-orang akan menyangka kalau Bagaskara dan Aqilah bapak dan anak, karena keduanya begitu akrab sekali. Terlihat canda tawa kedua orang itu, sambil menunggu pesanan mereka.
"Kenapa Om Bagas begitu baik kepada aku dan keluargaku?" tanya Aqilah pada akhirnya setelah sekian lama dia pendam.
"Apakah harus ada alasan khusus seseorang berbuat baik kepada orang lain?" tanya Bagaskara balik dan itu membuat Aqilah terdiam. Memang benar kalau kita berbuat baik itu tidak ada perlu alasan khusus, kecuali karena Allah.
“Benar apa yang dikatakan oleh Om Bagas, tetapi bukannya kita harus punya niat dalam hati saat melakukan sesuatu. Kata ayah saat kita melakukan suatu pekerjaan itu harus karena Allah, agar kita mendapatkan pahala dalam segala perbuatan itu,” jelas Aqilah dan kini giliran Bagaskara yang dibuat terdiam oleh gadis kecil itu.
***
"Bagaimana kalau aku ajak kamu dan Attar ke Singapore untuk berobat? Tenang saja aku yang akan membiayai semua pengobatan itu," ucap laki-laki bernama lengkap Dirgantara.
Rinjani hanya mendelikkan matanya. Lalu, ditariknya napas dalam-dalam.
"Tidak. Terima kasih atas perhatian Anda Tuan. Attar juga mendapat pengobatan gratis di sini. Selain itu aku juga tidak mau berpisah dengan kedua anakku yang lain," jawab Rinjani. Dia mana mau kembali berurusan masalah uang dengan laki-laki ini. Bisa-bisa dirinya seumur hidup akan menjadi seorang budak, karena memiliki banyak hutang kepadanya.
Terlihat jelas sarat kekecewaan dari pancaran mata laki-laki itu. Dalam hati dia berharap kalau Rinjani mau menerima uluran tangannya.
"Tetapi, pengobatan di sana lebih canggih dan anakmu akan cepat sembuh," lanjut Dirga tidak menyerah.
"Di sini juga pengobatannya sudah bagus," balas ibu tiga anak.
"Kita bawa juga kedua anakmu yang lainnya," kata Dirga bersikukuh.
__ADS_1
"Om, jangan memaksakan kehendak kepada Ibuku!" teriak Azzam dengan ekspresi wajah terlihat emosi.
Dirga pun terdiam saat melihat raut muka anak laki-laki itu berubah menjadi merah. Terlihat Rinjani merangkul dan mengusap tubuh putranya.
Setelah terjadi perdebatan panjang antara Rinjani dan Dirga, akhirnya mereka pun melanjutkan kembali perjalanan mereka. Begitu sampai di rumah, Rinjani langsung membawa Attar masuk ke dalam dan menidurkannya. Aqilah yang baru saja selesai mencuci piring dan bekas masak sarapan tadi, datang menghampiri.
“Bu, bagaimana kondisi Attar?” tanya Aqilah.
“Alhamdulillah, semua sudah jauh lebih baik,” jawab Rinjani.
“Syukurlah, kakak senang mendengarnya.” Aqilah tersenyum lebar.
Gadis kecil itu pun memberi tahu kalau tadi Bagaskara datang ke rumah dan membelikan makanan untuk mereka. Rinjani semakin penasaran dengan sosok laki-laki yang sering membantu keluarganya.
Sementara itu, Azzam dan Dirga sedang berada di teras depan rumah. Kedua lelaki berbeda generasi itu terdiam dan saling menatap.
‘Kenapa bocah ini melototi aku terus?’ [Dirga]
Tidak lama kemudian datang Rinjani ke sana sambil membawa segelas air putih. Meski Dirga bukanlah tamu yang mereka harapkan kedatangannya ke rumah mereka, tetapi tetap saja harus dijamu dengan baik.
“Terima kasih atas tumpangannya,” balas Rinjani.
“ Tidak apa-apa, lagian aku ada perlu sama kamu," tukas Dirga.
Perasaan Rinjani sudah tidak menentu saat melihat pancaran mata laki-laki berbaju casual. Dia bisa menebak ke arah mana laki-laki ini akan berbicara kepadanya.
Meski Azzam masih kecil, dia akan selalu membela dan menjaga ibunya. Melihat reaksi perempuan yang sudah melahirkan dan menyusuinya, tidak memberikan respon pada ucapan Dirga. Maka, dia pun bisa menilai kalau sang ibu tidak merasa nyaman dengan kehadiran laki-laki yang mobilnya dulu sudah tertabrak oleh almarhum ayahnya.
"Keperluan apa?" tanya Rinjani dengan nada dingin.
"Rinjani, aku hanya ingin bicara saja berdua dengan kamu," balas Dirga dengan melirik sejenak ke arah Azzam.
__ADS_1
"Tidak boleh berduaan! Om dan Ibu bukan muhrim, nanti ada setan jadi yang ketiga," kata Azzam menolak permintaan laki-laki yang bukan keluarganya ini.
Rinjani merasa senang mendengar perkataan anaknya yang tegas dan dengan berani tidak menyetujuinya. Dia juga berharap putranya akan menjadi kepala keluarga yang baik nantinya.
"Katakan saja apa yang ingin Anda bicarakan, biar Azzam menjadi saksi," ucap Rinjani masih dengan tatapan tajam seakan menembus ke jantung Dirga.
Laki-laki itu tadinya mau mengungkapkan isi hatinya. Namun, dia kembali memikirkan lagi karena keberadaan bocah laki-laki yang pasti akan menjadi saksi ungkapan perasaannya. Ada dua kemungkinan yang nanti bisa dia rasakan di bertemu Azzam pasca pengakuan ini. Pertama, malu seumur hidup jika ditolak. Kedua, bangga karena sudah membuat Rinjani jatuh ke dalam pesona dirinya.
"Aku serius ingin meminang dirimu, karena kesabaran, keteguhan, dan kebaikan hatimu sudah membuat aku jatuh cinta kepadamu," aku Dirga dan untuk urusan diterima atau ditolak perasaannya, dia belum mau memikirkan hal itu.
Azzam terlihat mengerutkan kening sampai kedua alis nyampe rumahnya. Bocah kecil itu berpikir tidak mau memiliki seorang ayah tiri, apalagi laki-laki seperti Dirga.
"Maafkan saya, Tuan. Rasa cinta saya untuk almarhum suami masih begitu besar tidak akan pernah lupa seumur hidupku," balas Rinjani.
Dirga merasa sangat kecewa sekali, padahal dia berharap cintanya disambut baik oleh sang janda. Perasaan cinta dia untuk Rinjani ini benar-benar perasaannya. Bukan bohongan atau karena sesuatu.
***
Dirga pun pergi meninggalkan rumah Rinjani dengan perasaan kecewa. Laki-laki itu jika sudah mencintai seseorang maka cintanya cenderung kepada obsesi. Begitu dia sampai ke rumah, semua barang yang ada di dekatnya dibanding begini saja, untuk melampiaskan perasaannya saat ini.
"Rinjani, aku benar-benar mencintaimu!" teriak Dirga dan suaranya memenuhi ruang keluarga yang berukuran sangat luas.
"Kenapa kau menolak cintaku? Apa karena masalah hutang itu? Kalau iya, aku akan bebaskan kau dari hutang itu dan mengembalikan kembali semua uang milikmu," racau Dirga.
Pekerja yang bekerja ada di rumah itu menjadi ketakutan karena mendengar suara teriakan dari anak pemilik rumah. Mereka lebih memilih berdiam diri dan menjauh dari Dirga, sampai emosi miliknya mereda.
"Dirga! Apa-apaan ini?" Suara bentakan seseorang mengalihkan perhatian Dirga yang sedang memejamkan matanya dan mengalihkan pandangan ke arah sumber bersuara.
"Diamlah Kak Bagas!" balas Dirga tidak suka diganggu oleh kakaknya.
***
__ADS_1
😱 Nah sudah tahukan siapa itu Bagas? Apa yang akan terjadi pada keluarga Rinjani selanjutnya? Tunggu kelanjutannya, ya!