Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 26. Azzam Minta Keadilan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 26


"Kakak kenapa menangis?" tanya Rinjani sambil memeluk si sulung.


Suasana petang yang di guyur hujan lumayan lebat sejak sore hari. Membuat perasaan ibu dan anak itu saling menyatu di gelapnya malam dan dinginnya suhu udara bumi.


"Kenapa selalu saja ada orang yang tidak suka sama keluarga kita? Padahal kita tidak pernah berbuat jahat pada mereka atau pada siapapun?" balas Aqilah dalam isak tangisnya.


Ditanya seperti ini, Rinjani tidak lantas menjawab pertanyaan putrinya. Dia teringat kembali perkataan Dewa dahulu, ketika ada orang lain yang tidak suka kepada kita meski kita tidak berbuat jahat kepadanya. Bahkan ada juga orang yang tidak suka kepada kita, tanpa tahu apa-apa tentang kita, mereka hanya mendengarnya saja dari kabar yang beredar dan belum tentu seperti itu kebenarannya.


"Karena setan suka membisikan sesuatu ke dalam hati manusia. Bukannya Rasulullah shalallahu alaihi wa salam juga banyak di benci oleh kaum kafir. Padahal Beliau tidak pernah berbuat jahat, justru sering berbuat baik kepada orang lain. Apalagi kita yang masih sering berbuat salah dan lupa kepada kepada Allah. Namun, meski begitu, Allah sebenarnya mengangkat derajat kita sebagai hamba-Nya agar kelak di akhirat bisa bersama dengan manusia-manusia yang dicintai oleh Allah," jelas Rinjani.


"Kakak jangan berputus asa atau marah kepada Allah, karena nasib yang sudah menjadi takdir kita," lanjut Rinjani.


Mendengar perkataan ibunya barusan, gadis kecil itu menggelengkan kepala. Bukan itu maksud dia.


"Kakak tidak marah sama Allah. Kakak hanya berpikir kenapa orang-orang tadi bisa berkelakuan seperti itu. Bagaimana jika hal yang sama menimpa kepada keluarga mereka. Apa yang akan mereka lakukan?" Aqilah menyeka air matanya yang keluar tanpa henti.

__ADS_1


Wanita cantik itu menatap lembut putri satu-satunya. Di tangkupnya kedua pipi milik Aqilah dan di adukannya kening serta hidung mereka. Lalu, kembali dia menatap gadis kecil ini.


"Kita jangan mendoakan keburukan kepada orang lain," kata Rinjani dengan suara yang lembut.


"Kakak tidak mendoakan keburukan untuk orang lain," bantah Aqilah dengan memanyunkan bibirnya.


"Bukannya barusan itu ucapan yang bisa jadi doa untuk orang lain?" tukas Rinjani dengan menahan senyumnya.


Aqilah pun terdiam, dia menyadari kesalahannya dalam berbicara. Dia membenarkan ucapan ibunya, kalau tadi tanpa langsung sudah mendoakan sesuatu yang tidak akan disukai oleh semua orang. Dia pun tersipu malu.


"Sebaiknya kita doakan kebaikan untuk orang lain. Karena apa yang kita doakan kepada mereka, malaikat pun mendoakan yang sama untuk kita. Jika, kakak mendoakan kebaikan untuk mereka, maka malaikat pun mendoakan kebaikan untuk kakak," ucap Rinjani dengan senyum lembutnya dan Aqilah pun mengangguk membenarkan ucapan ibunya.


"Tapi, banyak juga orang lain yang suka mendoakan keburukan orang lain. Apalagi orang yang merasa dirinya terdzholimi," balas gadis kecil itu.


"Benar juga, ya. Rugi kalau doa mustajab disia-siakan. Padahal itu salah satu jalan bisa membuat hidup kita bahagia," tukas Aqilah.


"Jika kita ingin hidup bahagia sebenarnya mudah. Yaitu, kita dalam menjalani kehidupan ini harus dengan perasaan ikhlas, sabar, dan bersyukur," lanjut Rinjani sambil mengusap pipi lembab putrinya yang masih basah oleh air mata.


"Iya. Ikhlas dalam menerima takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah. Bersabar dalam menjalaninya dan bersyukur atas segala yang dia berikan kepada kita," balas Aqilah.


Rinjani senang mendengar perkataan putrinya. Setidaknya Aqilah masih bisa mengingat nasehat dan pembelajaran hidup yang dulu sering dikatakan oleh ayahnya.

__ADS_1


***


Azzam bicara kepada Pak RT, tidak suka dengan perbuatan Ibu Delima tadi siang kepada ibunya. Dia juga ingin menuntut wanita itu untuk meminta maaf di depan umum karena sudah melakukan fitnah dan pencemaran nama baik ibu dan keluarganya. Dia ingin meminta keadilan bagi keluarganya.


Meski bocah laki-laki itu belum genap tujuh tahun, tetapi jiwa pemimpin dan ingin melindungi keluarganya sudah terpatri kuat dalam dirinya.


"Itu konsekuensi Ibu Delima yang sudah mempermalukan ibu di depan umum. Maka, dia juga harus minta maaf di saksikan oleh banyak orang juga," kata Azzam di depan para sesepuh desa yang kebetulan sedang berada di masjid. Mereka semua tertahan pulang karena hujan yang semakin deras.


"Benar juga, apa yang dikatakan bocah ini. Ini juga agar menjadi pelajaran bagi masyarakat agar jangan seenaknya memfitnah dan berusaha membuat malu orang lain dengan sengaja hanya karena perasaan cemburu dan iri," balas Kakek Kusno.


Orang-orang yang lain pun setuju, meski nanti pertemuan antara Ibu Delima dan Rinjani berada di ruangan tertutup dan si saksikan oleh beberapa orang. Terutama yang hadir saat wanita itu marah-marah di depan rumah sang janda. Agar mereka yang datang saat itu tahu kebenarannya dan menjadi saksi kalau Ibu Delima sudah meminta maaf atas kesalahannya.


Keesokkan harinya, bertempat di rumah Pak RT, Ibu Delima meminta maaf kepada Rinjani setelah didesak oleh para sesepuh desa dan beberapa warga yang ikut menyaksikan kejadian kemarin.


"Aku minta maaf karena hanya melihat tanpa tahu apa yang sudah kamu katakan kepada suamiku, saat itu," kata Ibu Delima masih mencoba membela dirinya dan dia merasa tidak bersalah sudah berbuat seperti itu kepada Rinjani. Menurutnya itu hal wajar dilakukan oleh seorang istri yang menduga ada pelakor dalam rumah tangganya.


***


🙄 Ibu Delima bisa saja dia ngeles-nya. Bagaimana status Rinjani yang wajib lapor ke kantor polisi? Apakah dia bisa segera bertemu dengan kakeknya? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.

__ADS_1



__ADS_2