Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 64. Berziarah


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 65


Kedatangan Rinjani beserta keluarganya di sambut baik oleh warga desa. Mereka berkumpul di rumah Pak RT untuk menerima bantuan atas nama Dewa sebagai pemberi bantuan. Tentu saja orang-orang itu mendoakan kebaikan untuk Dewa di alam barzah.


"Terima kasih Bu Rinjani, semoga segala amal ibadah Pak Dewa diterima di sisi Allah Subhanallah Wa Ta'ala," ucap orang-orang desa saat menerima bantuan sembako, sedekah atas nama mendiang suami Rinjani.


"Aamiin. Semoga sedekah ini bermanfaat bagi ibu sekeluarga," balas Rinjani.


Anak-anak Rinjani pun memberikan perlengkapan alat tulis dan satu kantong snack untuk anak-anak di sana. Betapa bahagianya mereka saat menerima beberapa buah buku, pensil, penggaris, dan peralatan menggambar. Apalagi dengan gambar karakter yang sedang digandrungi anak-anak zaman sekarang.


"Sekolah yang rajin, ya!" pinta Aqilah pada anak yang menerima dua kantong berisi perlengkapan menulis dan snack.


"Terima kasih, Kak. Semoga Pak Dewa di tempatkan di surga," ucap bocah seusia Azzam.


"Aamiin," balas Aqilah.


Acara pembagian kebutuhan pokok untuk masyarakat di kampung Suka Jaya berjalan dengan lancar. Malam harinya diadakan pengajian di rumah Rinjani yang masih ditempati oleh Mbak Nurul dan kedua anaknya. Banyak sekali yang datang untuk mendoakan mendiang Dewa.


***


Keesokan harinya keluarga Rinjani mendatangi kuburan Dewa. Tanah lapang yang dipenuhi oleh rumput hijau dan beberapa pohon di besar tumbuh subur di sana. Suasana sepi dan semilir angin sejuk di rasakan oleh semua orang yang datang ke sana.


"Assalamu’alaikum ahlad-diyaar minal mu’miniina wal muslimiin. yarhamulloohul mustaqdimiina minnaa wal musta’khiriin. wa inna insyaa alloohu bikum la-laahiquun. wa as alullooha lanaa walakumul ‘aafiyah."


Artinya: "Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian".

__ADS_1


Rinjani dan keluarganya berjalan ke arah kuburan di mana Dewa duku dikebumikan. Makam itu terawat dengan baik karena ada kuncen yang suka membersihkannya.


Wanita itu melakukan ziarah kubur sesuai sunah yang diajarkan dalam Islam, yaitu menghadap ke kiblat saat berdoa untuk almarhum suaminya. Dia memposisikan dirinya menghadap kiblat. Lalu, membaca tasbih, takbir, tahmid, dan zikir.


Astaghfirullah hal adzim alladzi la ilaha illa huwal hayyul qoyyumu wa atubu ilaihi."


Artinya: "Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepadaNya."


Setelah itu dilanjutkan dengan membaca surat Al-fatihah, surat Al-Ikhlas, surat Al Falaq, dan surat An-Nas. Lalu, mengucapakan, "Laailaaha Illallah." ("Tiada Tuhan selain Allah.")


Air mata Rinjani kembali luruh membasahi wajahnya yang cantik mengiringi lantunan doa untuk Dewa. Dia masih saja selalu mengeluarkan bulir bening dari netranya jika mendatangi makan sang kekasih.


Allahummaghfìrlahu war hamhu wa 'aafìhìì wa'fu anhu, wa akrìm nuzuulahu wawassì' madholahu, waghsìlhu bìl maa'ì watssaljì walbaradì, wa naqqìhì, mìnaddzzunubì wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu mìnad danasì.


Wabdìlhu daaran khaìran mìn daarìhì wa zaujan khaìran mìn zaujìhì. Wa adkhìlhul jannata wa aìdzhu mìn adzabìl qabrì wa mìn adzabìnnaarì wafsah lahu fì qabrìhì wa nawwìr lahu fìhì.”


Artinya: "Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran.


'Mas, aku rindu padamu.' (Rinjani)


Wanita itu hanya mampu mengatakan itu dalam hatinya, karena saat ini ada Bagaskara di sana. Bagaimanapun juga dia harus menjaga perasaan calon suaminya. 


Saat mereka pulang dari komplek pemakaman umum, keluarga Rinjani bertemu dengan Ibu Delima yang kini terlihat sangat kurus dan kusam. Kehidupan keluarganya hancur, harta kekayaan dibagi dua dengan Pak Handoko. Uang tebusan dirinya dari penjara itu juga tidaklah sedikit.


"Bu Delima?" tanya Rinjani sambil menatap ke arah seorang wanita yang sedang menenteng keresek.


"Rinjani?" Wanita itu terkejut saat melihat kecantikan Rinjani semakin bertambah dan berpenampilan anggun dan sangat menawan dilihat oleh siapapun.


"Ibu mau ke mana?" tanya Rinjani.

__ADS_1


"Mau pulang ke rumah," jawab Bu Delima sambil menunjuk ke arah sebuah rumah kecil dan sangat jauh dengan rumah yang dulu dia tempati dulu saat menjadi istri Pak Handoko.


"Habis belanja dari pasar, Bu?" tanya ibu beranak tiga basa-basi.


"Tidak. Aku berkeliling jualan gorengan," jawab Bu Delima sambil memperlihatkan barang dagangannya.


Hati Rinjani terasa sakit saat melihat keadaan wanita itu saat ini. Kehidupan akan terus berputar. Hari ini kita hidup dalam gemilang harta, belum tentu dengan keesokan harinya. Begitu juga dengan sebaliknya, saat ini kita hidup dengan sedikit harta, mungkin saja keesokan harinya akan menjadi seorang jutawan.


"Ini berapa harga satu bungkusnya?" tanya Rinjani.


"dua ribu yang kecil dan lima ribu yang bungkus besar," jawab Bu Delima dengan sungkan.


"Aku beli semuanya, Bu. Kebetulan kami semua suka sama gorengan," ucap Rinjani.


Bu Delima menangis tergugu karena sudah beberapa hari ini jualannya sangat sepi. Namun, hari ini semua laku diborong oleh orang yang dulu dia fitnah.


"Kenapa kamu baik sekali kepadaku? Padahal aku dulu sudah jahat kepadamu," ucap Bu Delima diiringi isak tangis.


"Setiap manusia pasti pernah lupa dan bersalah. Tapi, bukan berarti mereka tidak bisa berubah. Aku yakin kalau Bu Delima kini sudah menjadi orang yang baik dan tidak akan melakukan hal yang seperti dulu lagi. Semua itu tidak ada manfaatnya bagi Ibu, 'kan? Yang ada malah membuat hidup ibu sengsara, kalau terus-terusan melakukan perbuatan buruk," pungkas Rinjani.


"Terima kasih, Bu Rinjani." Bu Delima memeluk ibu dari Attar itu.


Orang-orang yang menyaksikan itu tersenyum dengan penuh haru. Memaafkan kesalahan orang lain lebih baik dari pada menyimpan dendam. Hidup pun akan terasa lebih nyaman dan bahagia dengan tidak adanya dendam dalam hati.


***


Apakah usaha Bagaskara mengalami kemajuan atau gagal? Bagaimana dengan Dirga yang kini sudah menjadi seorang konglomerat? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus kepoin novelnya. Karena ini sudah tamat bisa baca maraton. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian. Yuk, merapat yang suka cerita Komedi Romantis dan Action penuh misteri.

__ADS_1



__ADS_2