Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 42. Pulang Ke Kampung


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 42


Bagaskara pun mengantarkan keluarga Rinjani pulang ke kampung setelah sholat Zuhur. Mereka juga mengajak Kakek Atmaja untuk melihat tempat tinggal cucu buyutnya menghabiskan kesehariannya selama ini. 


Dalam perjalanan ketiga anak Rinjani tiada hentinya berceloteh. Menceritakan apa saja yang sudah mereka alami selama ini. Kebanyakan keseruan saat bermain bersama teman-teman sekolah atau teman di lingkungan rumah.


Kakek Atmaja sesekali menanggapi ucapan mereka dan selebihnya dia tertawa karena mendengar cerita yang diceritakan oleh anak-anak Rinjani. Dalam hatinya dia menyesali keputusannya dulu, sehingga dia terlambat melihat tumbuh kembang ketiga buyutnya ini. Jika saja waktu bisa diputar pastinya dia tidak akan memberikan restu pada Dewa dan Rinjani, sehingga  tidak akan membiarkan Rinjani pergi. Namun, semua sudah terjadi dan dia sudah salah menilai kalau kebahagian rumah tangga itu akan bahagia jika mereka punya banyak harta. Sebab, selama ini masalah finansial yang sering menjadi masalah dalam rumah tangga.


Rinjani dan Dewa bisa hidup bahagia meski hidup pas-pasan. Rinjani yang manja dan tidak pernah melakukan pekerjaan rumah juga kini sudah menjadi seorang ibu yang bisa mengurus rumah dan anak. Bahkan Kakek Atmaja suka dengan masakan buatannya.


Jika mengingat kejadian dahulu, Kakek Atmaja selalu meneteskan air mata. Betapa kesepian dan menderitanya dia setelah kepergian Rinjani dulu. Dia mengira cucunya yang manja dan cengeng akan kembali ke rumah dan tidak tahan hidup sederhana, karena dia sudah terbiasa hidup dengan bergelimang harta. Nyatanya sampai hampir 11 tahun, sang cucu baru datang menemuinya setelah dia bilang rindu dan ingin bertemu.


"Kakek, tidur saja kalau mengantuk," kata Rinjani saat melihat ketiga anaknya sudah tidur, sedangkan sang kakek masih terjaga.


"Kakek tidak mengantuk," jawab Kakek Atmaja sambil tersenyum tipis.


"Sebaiknya kamu juga tidurlah," ucap Bagaskara kepada Rinjani yang duduk di kursi paling belakang bersama Attar. Azzam duduk di kursi paling depan di samping Bagaskara. Aqilah dan Kakek Atmaja duduk di kursi tengah.


Akhirnya mereka pun sampai ke rumah Rinjani sore hari. Kepulangan mereka disambut oleh Pak RT dan Bu RT yang rumahnya tidak jauh dari rumah mereka. 

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya kalian pulang juga," kata Pak RT.


"Alhamdulillah, Pak RT. Kenalkan Pak, ini kakek saya," ucap Rinjani mengenalkan Kakek Atmaja kepada Pak RT dan Bu RT.


Mereka pun berbincang-bincang di teras rumah, karena kursi di letakan di sana. Kakek Atmaja melihat rumah cucunya yang sangat sederhana, tetapi asri dan bersih. Banyak tumbuhan yang ditanam di halaman rumah.


Pak RT banyak bercerita tentang kehidupan keluarga Dewa dan Rinjani. Baru kali ini Kakek Atmaja mendengar sosok Dewa yang begitu disegani dan dihormati oleh orang-orang. Meski laki-laki itu sudah meninggal, tetapi orang-orang kampung masih sering menyebut namanya, karena begitu banyak kebaikan yang dilakukan olehnya semasa hidupnya.


Benar kata peribahasa 'Gajah mati meninggalkan gadingnya, harimau mati meninggalkan belangnya, dan manusia mati meninggalkan jasanya.' Kadang seseorang itu disebut baik atau buruk, saat orang-orang membicarakan hal yang sama tentang dirinya. Meski tidak semuanya itu benar, bisa saja ada yang dengki kepadanya, sehingga tersebar fitnah. Hanya waktu yang akan memberitahukan kebenarannya itu.


'Ternyata Rinjani tidak salah pilih pendamping hidupnya, dulu. Bodohnya aku tidak mau mengenal sosok Dewa terlebih dahulu. Meski dulu Rinjani sudah memberi tahu aku akan kebaikan hati dan perilakunya yang membuat dia mencintainya, aku malah menganggapnya hanya bualan saja, karena matanya sudah dibutakan oleh cinta.' (Kakek Atmaja)


"Kakek, kita main ke lapangan, yuk!" ajak Attar kepada Kakek Atmaja. Bocah kecil ini ingin memperlihatkan dia dan teman-temannya bermain bersama.


"Jangan dulu, Sayang. Kakek masih lelah dan perlu istirahat. Besok saja, ya?" kata Rinjani pada putra bungsunya dan Attar pun mengangguk.


***


Pagi-pagi tadi dia dan Attar jalan-jalan keliling kampung bersama Bagaskara. Banyak tempat yang mereka datangi dengan petunjuk dari Attar. Di mana Azzam sering mencari ikan dan Aqilah mengambil kangkung. Tempat bermain kucing-kucingan, main sepak bola, atau tempat mereka bermain sepeda.


"Kakek, apa mau tinggal di sini sampai Anak-anak menyelesaikan ajaran sekolahnya. Mungkin sekitar sepuluh bulanan lagi," kata Rinjani.


Tadi pagi dia bertanya kepada Aqilah dan Azzam. Mereka mau tinggal di ibu kota bersama Kakek Atmaja. Namun, Rinjani ingin menyelesaikan dulu urusan yang belum selesai di sini.

__ADS_1


"Kakek mau tinggal di mana pun, asal bisa bersama dengan kamu dan anak-anak," jawab Kakek Atmaja.


"Alhamdulillah, terima kasih, Kek." Rinjani memeluk kakeknya dengan perasaan senang. Akhirnya, keluarga Rinjani bisa berkumpul bersama. 


Dulu, Dewa ingin membangun tempat mengaji untuk anak-anak di kampung itu agar lebih lengkap dan luas. Maka Rinjani pun mendatangi Pak RT, Pak RW, dan yayasan pengurus madrasah, mereka membahas hal ini. Mereka semua setuju, bahkan lahan Pak Haji Umar yang di samping madrasah dibeli oleh Rinjani agar bangunan lebih luas dan kelas lebih banyak. Rinjani juga menyediakan arena bermain anak seperti ayunan, perosotan, dan jungkitan agar anak-anak bisa bermain juga di sana. 


Orang-orang di kampung heboh karena baru tahu kalau Rinjani itu adalah orang kaya. Bahkan rumah Mbah Surip, Mbok Mirah, dan Mak Ijum direnovasi agar lebih layak huni. Jalanan di kampung itu juga diperbaiki agar lebih mulus. Beberapa orang petani juga dibelikan peralatan yang baru dan benih. Tetangga yang sakit Rinjani bawa ke rumah sakit dan menanggung semua biayanya. 


"Alhamdulillah, semua bisa berjalan lancar. Tinggal hutang pada Dirga. Katanya besok dia baru bisa datang karena sedang sibuk. Aku sudah tidak sabar ingin membereskan semuanya," gumam Rinjani.


Seminggu ini Rinjani sibuk ke sana ke mari. Dia ingin secepatnya bisa melaksanakan apa yang dulu dia dan Dewa rencanakan.


***


Hari ini Dirga datang ke rumah Rinjani, betapa dia senang saat mendapat pesan dari wanita itu beberapa hari yang lalu. Sebenarnya dia ingin datang hari itu juga. Namun, apa daya dia harus menyelesaikan sebuah proyek besar. Dia tidak mau kalah dengan kakaknya. Dia juga akan membuktikan pada papanya kalau dia juga mampu.


"Assalamualaikum," salam Dirga.


"Rinjani!" panggil Dirga lagi.


***


Apakah Rinjani akan tahu Dirga adalah adiknya Bagaskara? Atau kenyataan itu masih tersembunyi? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.



__ADS_2