Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 59. Pencarian Rinjani


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 59


Dirga membawa Rinjani ke kamar hotel tempat menginap semalam. Dia membaringkan wanita itu di atas ranjang yang berukuran besar dengan kain sprei yang halus. Kamar hotel yang mewah dan nyaman sangat cocok untuk menghabiskan waktu bersama pasangan. Namun, sayangnya mereka bukanlah pasangan apalagi mereka tidak punya ikatan yang halal.


"Kenapa kamu mau menerima cinta Kak Bagas sedangkan aku, kamu tolak mentah-mentah. Apa yang berbeda dengan kami? Aku lebih hebat dari Kak Bagas dalam segi apa pun." 


Dirga membelai pipi, hidung, dan bibir Rinjani. Dia mengagumi sifat wanita cantik yang tidur di sampingnya. Bagi dia, ibu beranak tiga ini merupakan seorang wanita langka, yang memiliki banyak kelebihan dalam dirinya.


"Rinjani, aku begitu sangat mencintaimu!" ucap Dirga dengan kesungguhan segenap hati. Terlihat jelas perasaan dia dari pancaran matanya.


"Jadilah milikku! Maka aku akan buat kamu hidup dengan penuh kebahagiaan," lanjut laki-laki yang semakin mendekatkan wajahnya pada wanita yang kini sedang tidak sadarkan diri.


Dibukanya jilbab wanita itu dengan perlahan sampai semua yang menutupi kepala Rinjani terbuka. Rambut hitam legam kini tergerai indah di atas bantal. Memperlihatkan kecantikan sempurna seorang perempuan. Alis hitam melengkung indah, bulu mata yang panjang dan lentik, bibir ranum berwarna pink segar, serta kulit wajah yang mulus tanpa ada noda.


Dalam pandangan Dirga, janda kembang ini semakin terlihat cantik, menawan, dan menggoda. Dimainkannya surai yang terasa lembut dan halus itu. Diciumnya rambut yang wangi sampho dan membuat lelaki ini terbuai ingin terus menghirup wanginya.


"Kau akan menjadi milikku, Rinjani," bisik Dirga di telinga kanan sang wanita.


Dengan perlahan dia mulai mencumbu Rinjani yang tidak berdaya. Diciumnya pucuk kepala wanita itu, turun ke kening, dan kedua kelopak matanya.


"Semua ini adalah milikku, tidak akan aku biarkan Kak Bagas memilikinya."


Dirga berbaring sambil memandangi wajah Rinjani, dia belum berani berbuat lebih dari itu. Setidaknya dia bukan laki-laki berengsek yang akan memuaskan hasratnya pada wanita yang tidak sadarkan diri. Dia ingin melakukan hal itu, ketika mereka berdua dalam keadaan sadar.


***


Bagaskara berusaha memeriksa rekaman yang ada di mobil Rinjani. Saat dia melihat Rinjani menaikan seorang nenek-nenek, perasaannya mulai tidak menentu. Dia terus memutar rekaman video itu sampai wanita itu membius Rinjani dan wanita itu sampai tidak sadarkan diri.


"Si_al! Dasar nenek Lampir, bisa-bisanya dia membuat Rinjani tidak sadarkan diri," umpat Bagaskara dengan emosi.

__ADS_1


Tidak lama kemudian terlihat ada tangan laki-laki yang membuka sabuk pengaman dan mencoba mengeluarkan Rinjani dari mobil. Tanpa dia sadari kalau wajahnya terekam meski dari samping. 


"Dirga?" gumam Bagaskara yang terkejut saat melihat adiknya adalah dalang atau orang yang sudah menculik Rinjani.


Meski wajah laki-laki itu tidak terlihat dari depan, tetapi dia yakin kalau dia adalah Dirga, adiknya. Sebagai saudara tentu dia tahu meski hanya melihat siluet bentuk muka saja. Apalagi jam tangan yang dipakai olehnya adalah miliknya hadiah dari sang mama yang hanya ada satu-satunya di dunia ini.


"Siapa?" tanya Kakek Atmaja saat mendengar Bagaskara menggumamkan sesuatu.


"Aku akan periksa dulu, Kek. Untuk memastikan kalau dugaan aku tidak salah," ucap Bagaskara masih memperhatikan video rekaman. 


Bagaskara semakin yakin dengan prasangka dia tadi, saat melihat rekaman mobil yang kini ampilkan sosok yang dikenal dengan baik olehnya.


"Boby?"


'Jadi, ini kejahatan yang sudah direncanakan? Bukannya Dirga sekarang sedang berada di Amerika? Cepat juga dia datang ke sini.' (Bagaskara)


"Kek, aku pergi dulu, mau mengecek sesuatu untuk memastikan," kata Bagaskara kepada Kakek Atmaja.


Laki-laki tua itu hanya mengangguk. Dia percaya kalau calon suami Rinjani itu akan melakukan yang terbaik baik buat cucunya. Sungguh dia tidak mau kehilangan kembali cucu kesayangan ini. Apa pun akan dia lakukan demi mendapatkan kembali ibu dari ketiga buyutnya.


***


Lewat cctv bandara, Bagaskara bisa melihat ada Dirga di pintu kedatangan internasional. Lalu terpantau kembali di kamera cctv parkir yang memperlihatkan dia menaiki taksi. Laki-laki itu mencatat plat nomor taksi dan menghubungi perusahaan jasa transportasi itu. Meminta alamat ke mana sopir mengantarkan pelanggan di tengah malam. Untungnya semua itu berjalan dengan lancar.


"Tunggu Rinjani, aku akan mendapatkan kamu kembali," gumam Bagaskara sambil berlari ke arah parkiran dan melajukan mobilnya menuju hotel tempat Dirga diantarkan semalam oleh sopir taksi.


"Dirga, kalau sampai terjadi sesuatu kepada Rinjani, maka aku tidak akan tinggal diam!" 


***


Sementara itu, Attar yang disuruh Kakek Atmaja diam di rumah, kini hanya menangis seorang diri sambil memeluk foto ayahnya—Dewa—sesekali dia memanggil laki-laki yang meninggalkan sedikit kenangan dalam ingatannya.


"Ayah, tolongin ibu," lirih Attar sambil terisak.

__ADS_1


Pintu kamar di ketuk oleh seseorang. Attar mengira itu adalah Bagaskara atau pelayan di rumah kakeknya. Jika itu ibu atau Kakek Atmaja, pasti langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


Langkah Attar yang kecil berlari ke arah pintu, begitu dibuka ada seorang laki-laki tua yang semalam dikenalkan oleh ibunya sebagai Kakek Agung.


"Kakek Agung?" Mata Attar semakin berkaca-kaca dan bibirnya bergetar menahan suara tangisannya.


"Nak, ada apa? Kenapa di rumah sepi? Kemana Kakek Atmaja?" tanya Paman Agung sambil berjongkok.


Akhirnya tangisan anak kecil itu pecah. Dia memeluk leher adik dari sang kakek kandung.


"Ibu hilang," jawab Attar.


"Apa?" Tubuh Paman Agung langsung menegang.


"Tadi, ibu belum juga menghubungi adik. Lalu, Kakek Atmaja menelepon ke kantor, tapi ibu tidak datang ke sana." Attar bercerita dengan terisak.


Paman Agung paham apa yang sedang terjadi kepada Rinjani saat ini. Dia pun menyuruh Attar jangan bersedih atau takut karena dia akan membantu mencari ibunya.


***


Rinjani membuka mata dan yang dia lihat adalah langit kamar yang asing baginya. Saat merasa ada seseorang yang tidur di sampingnya, maka dia pun mengalihkan arah wajahnya ke arah kanan.


Betapa terkejutnya Rinajni saat melihat ada Dirga tidur di samping dia. Wanita itu mencoba bangun dan hendak pergi dari sana, tetapi tidak bisa karena tangannya terborgol dengan tangan laki-laki itu.


'Ya Allah, apa yang sebenarnya sudah terjadi kepada aku? Kenapa aku bisa sampai berada di sini bersama dengan Dirga?'


Air mata Rinjani meluncur tanpa dia sadari. Rasanya dia ingin memukul laki-laki yang masih tertidur lelap ini. Namun, tenaganya masih lemah.


'Ampuni aku, Ya Allah. Ampuni aku, Ya Allah. Jadikanlah aku termasuk golongan orang yang selalu menjaga diri dari perbuatan zina dan dosa lainnya.' (Rinjani)


***


Apa yang akan di lakukan Dirga saat terbangun nanti? Apakah Bagaskara akan menemukan Rinjani tepat waktu? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Apalagi sudah tamat, bisa baca secara maraton.



__ADS_2