Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 55. Acara Lamaran (1)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 55


Bagaskara mengajak semuanya untuk makan siang di sebuah rumah makan bambu. Gara-gara insiden ciuman kening tidak di sengaja tadi, membuat kedua orang dewasa itu malu. Berbeda dengan Attar, si bocah yang menjadi saksi mata, dia biasa saja. Bahkan dia merasa sangat senang karena bisa makan sambil memberi makan ikan. Bocah itu bersama kakak laki-lakinya, sambil menunggu pesanan datang, mereka memberi makan ikan yang ada di kolam besar yang menyerupai danau buatan.


"Ini pertama kalinya kita makan di sini, ya?" Aqilah memecah kekakuan suasana di sana.


"Iya. Kalau kalian suka, kapan-kapan kita makan bersama ke sini lagi," balas Bagaskara.


Anak gadis itu tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan kedua orang berbeda gender itu. Dia hanya merasa keduanya menjadi sangat pendiam, berbeda dengan biasanya. Diam-diam Aqilah memperhatikan mereka berdua. Bagaskara yang sibuk dengan handphone miliknya yang jarang dia sentuh ketika mereka sedang bersama. Ibunya yang sibuk mencoret-coret sesuatu di kertas.


Bagaskara sengaja memeriksa email yang masuk dan membalas pesan jika itu diperlukan atau hanya sekedar membaca saja. Dia sungguh tidak enak hati karena sudah mencium Rinjani, walau dalam hatinya dia merasa sangat senang.


Sementara itu, Rinjani sendiri menyibukkan diri untuk menenangkan debaran jantungnya. Sebab, jika mereka beradu pandang, jantung dia kembali berdebar kencang. Wanita itu menjadi sangat gugup dan dia merasa tidak mau kalau sampai Bagaskara tahu keadaannya lewat pancaran mata.


Setelah pesanan datang, mereka pun makan bersana. Lagi-lagi Attar membuat kedua orang dewasa itu malu.


"Ibu, aaaa." Attar menyuapi Rinjani makanan di piringnya dengan sendok. Tentu saja Rinjani menerima itu dengan senang hati.


"Enak, Sayang. Terima kasih. Adik lanjutkan lagi makannya, ya?" Rinjani mengelus pipi si bungsu.


"Om Bagas, aaaa." Attar melakukan hal yang sama kepada Bagaskara. Seperti Rinjani, laki-laki itu pun menerima suapan dari anak ketiga Rinjani.


Attar melakukan hal yang sama kembali pada Rinjani dan Bagaskara secara bergantian. Mereka tidak sadar dengan perbuatan itu dan diperhatikan oleh kedua anak lainnya.


"Kok, Ibu dan Om Bagas di suapi oleh Attar memakai sendok yang sama?" Aqilah mengedarkan pandangannya ke arah Rinjani dan Bagaskara silih bergantian ingin melihat bagaimana reaksi mereka.


Deg

__ADS_1


Baik Rinjani maupun Bagaskara langsung tersentak. Keduanya baru sadar kalau tadi Attar menyuapi mereka dengan sendok miliknya.


'Itu … ciuman tidak langsung!' 


Rinjani dan Bagaskara berteriak dalam hati di waktu yang hampir bersamaan. Keduanya saling menatap dalam keterkejutan dan rasa malu langsung menyusup ke dalam perasaan mereka saat ini.


***


Papa Bima menyuruh Dirga mendatangi pertemuan para pengusaha yang bergerak di bidang real estate yang ada di Amerika. Sudah tiga hari laki-laki itu pergi ke Amerika. Dia tidak tahu kalau kakaknya akan melakukan lamaran kepada Rinjani. Selama ini tidak ada yang menyingung nama Rinjani jika berada Dirga di dekat mereka. Bahkan Bagaskara juga mendatangi rumah perempuan itu secara diam-diam untuk bertemu dengan anak-anak Rinjani.


Dirga selama ini sering memantau keberadaan Rinjani. Untungnya wanita itu sibuk mengurus perusahaan Kakek Atmaja. Saat ini jabatan yang dipegang oleh perempuan itu adalah Direktur Utama PT. ATMAJA. Laki-laki itu juga sering melihat Rinjani menghadiri pertemuan dengan klien mereka.


Besok adalah hari digelarnya pesta yang sudah disiapkan oleh Rinjani. Dia tidak banyak mengundang tamu. Hanya sekitar 250 orang saja, itu juga dari semua kalangan.


Rinjani yang terlalu sibuk mengurus perusahaan sampai kurang istirahat. Bahkan saat ini dia masih saja sibuk menghadiri pertemuan dengan rekan kerja sama perusahaan. Tadinya akan di hadiri oleh sekretaris dan asisten kepercayaan dia, tetapi keduanya keracunan makanan hari kemarin saat makan siang. Jadi, mau tidak mau Rinjani menggantikan mereka. 


"Rinjani? Sedang apa di sini?" tanya Bagaskara saat mereka berpapasan di restoran hotel.


"Seharusnya kamu istirahat, agar besok bisa menyambut tamu undangan ke acara lamaran kita," ucap Bagaskara.


"Tenang saja, sebelum magrib aku akan berada di rumah dan akan istirahat total besok," jawab si janda kembang.


"Aku tidak mau terjadi apa-apa kepadamu, Rinjani. Jangan sampai kamu jatuh sakit karena kelelahan," ujar Bagaskara dengan lirih dan tatapan mata tidak lepas dari sosok perempuan beranak tiga.


"Terima kasih sudah memedulikan aku," lirih Rinjani dengan senyum tipis.


"Bodoh. Tentu saja aku selalu peduli kepadamu. Wanita yang sangat aku cintai," aku Bagaskara.


Ada perasaan senang merambat dalam hati yang bisa dirasakan oleh Rinjani. Kini dia senang mendapatkan perhatian atau perlakuan baik dari Bagaskara.


"Mungkin kita akan bertemu lagi besok. Kamu juga jaga kesehatan, jangan terlalu memeras tenaga. Istirahat yang cukup, karena aku tidak mau besok mengadakan acara lamaran tanpa adanya dirimu," kata Rinjani dengan pipi merona.

__ADS_1


Bagaskara tersenyum lebar dan dia merasa sudah tidak sabar ingin segera menjadikan Rinjani miliknya. Bahkan saat ini dia berharap sekali bisa memeluk wanita yang berdiri di depannya ini.


***


Hari-hari yang ditunggu-tunggu oleh Bagaskara dan Rinjani akhirnya tiba. Nanti malam acara lamaran akan diadakan, seharian ini Rinjani melakuakan perawatan wajah dan tubuhnya. Badan dia yang kaku dan keras pun mendapat pijatan agar menjadi segar bugar, kembali.


"Ibu sangat cantik hari ini," ucap Attar dengan jujur saat melihat ibunya yang baru saja selesai melakukan perawatan wajah.


"Benarkah?" balas Rinjani menggoda Attar. Senyum malu-malu terukir di wajah yang terlihat segar dan kencang. Anak kecil itu menganggukkan kepala beberapa kali, membenarkan ucapan dia tadi.


"Nanti, jika Om Bagas dan ibu menikah, apa kita akan tinggal satu rumah?" tanya Attar dengan tampang polos.


Mendengar pertanyaan dari putra bungsunya, kini otak Rinjani langsung membayangkan mereka tinggal bersama. Lalu, dia pun mengangguk.


"Asyik, nanti akan ada adik bayi. Adik akan punya adik dan menjadi kakak!" seru Attar senang.


"A—" Pipi wanita itu langsung memerah karena perkataan putra keduanya. Dia membayangkan dirinya akan punya anak dengan Bagaskara.


'Nanti anak aku dengan Bagas akan mirip siapa, ya?'


'Astaghfirullahal'adzim, apa yang aku pikirkan? Menikah saja belum sudah memikirkan rupa anak kita nanti.'


Muka Rinjani semakin merah, karena malu. Dia pun segera mencuci wajah dan berwudhu.


***


Apakah acara lamaran akan berjalan lancar? Bagaimana reaksi Dirga saat tahu kakaknya melakukan lamaran saat dia berada di luar negeri? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus kepoin novelnya. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.


__ADS_1


__ADS_2