Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)

Innallaha Ma'Ana (Sesungguhnya Allah Bersama Kita)
Bab 11. Ibrah (Pelajaran)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 11


Bagaskara terdiam sejenak, mana mungkin dia mengatakan kalau penyakit leukemia itu sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kematian bagi penderitanya. Jadinya laki-laki itu hanya tersenyum saja.


"Penyakit apapun itu, semoga saja adik segera cepat sembuh," kata Bagaskara akhirnya.


"Aamiin," ucap Aqilah dan Azzam bersamaan.


Malam ini Bagaskara menginap di rumah mereka, karena takut ada apa-apa jika terjadi sesuatu. Dia sudah meminta izin kepada Pak RT dengan mengaku sebagai saudara jauh dari Rinjani, agar tidak terjadi fitnah. Tentu saja kehadiran laki-laki ini membuat kedua bocah kecil itu merasa senang.


"Om, kita berdua mau pergi ke masjid dulu," ucap Azzam saat memasuki waktu Magrib.


Mendengar ucapan Azzam barusan hati Bagaskara ikut bergetar. Meski dia seorang muslim, tetapi ibadah wajib masih sering bolong. Banyak sekali alasan yang membuatnya tidak melakukan shalat tepat waktu. Kadang saking sibuknya dia sampai melupakan kewajiban itu.


"Diluar sudah mulai hujan, kenapa tidak shalat di rumah saja?" tanya Bagaskara setelah melihat keadaan diluar lewat kaca jendela.


"Aku ini laki-laki dan harus sholat wajib pergi ke masjid. Itu kata ayah, karena Rasulullah memerintahkan seperti itu. Kecuali kalau kita uzur karena suatu sebab," jawab Azzam yang sedang melampirkan sarung di lehernya.


"Iya. Kalau perempuan shalat di rumah. Karena setiap Magrib kita juga harus mengaji jadi sekalian aku berjamaah shalat di masjid," lanjut Aqilah yang memeluk tas jinjing berisi mukena dan Al-Qur'an miliknya dan juga milik Azzam.


"Wah, berarti kalian sudah pandai mengaji, ya!" Bagaskara tersenyum senang. Dia saja tidak pandai-pandai amat dalam urusan ini. Hanya tahu huruf Hijaiyah, sedangkan tajwid masih sering keliru.


"Tentu saja, karena sejak kecil ayah selalu mengajari kami mengaji. Ayah juga bilang kalau setiap hari kita harus membaca Alquran," balas Azzam.

__ADS_1


"Kata ayah, jika kita ingin memakaikan mahkota kepada orang tua kita di akhirat kelak, maka kita harus bisa membaca Alquran dan menghafalnya," tambah Aqilah dengan mata yang berbinar.


Lagi-lagi Bagaskara merasa tersentuh hatinya mendengar ucapan kakak beradik ini. Tidak ada seorangpun di keluarganya yang mengajari dia hal demikian. 


'Dewa, kamu memang laki-laki hebat. Pantas saja Rinjani begitu mencintaimu.' (Bagaskara)


"Orang yang suka membaca Al Quran dan mengamalkannya, itu juga merupakan keluarga Allah di dunia. Makanya kita harus menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup kita sehari-hari," lanjut Aqilah lagi.


Tanpa Bagaskara sadari air matanya luruh membasahi pipi. Dia pun langsung memeluk tubuh kedua bocah kecil itu. Tangisannya tumpah hanya mendengar kata-kata kebenaran dari mulut orang yang masih bersih hatinya.


"Kalau begitu Om Bagas juga akan ikut kalian ke masjid bersama sekarang," ujar Bagaskara sambil mengusap air matanya.


Tentu saja ini membuat Aqilah dan Azzam merasa sangat senang. Keduanya berharap kalau pakai sekarang adalah orang yang benar-benar baik dan bukan orang jahat. Dulu ibu mereka selalu mengingatkan jangan terlalu mudah percaya kepada orang asing.


"Kalau begitu Om berangkat dulu dengan Azzam. Nanti Azzam akan balik lagi untuk menjemput Kakak. Karena payung di rumah hanya ada satu," kata bocah berusia 6 tahun itu.


Celoteh riang kedua kakak beradik itu mewarnai sepanjang perjalanan mereka ke masjid yang jaraknya menurut Bagaskara lumayan jauh. Namun, kedua anak kecil itu tidak terlihat mengeluh malah terlihat bersemangat. 


Jarak lumayan jauh, hujan, becek, dan keadaan mulai gelap karena minim lampu jalan, membuat kebanyakan orang pasti akan memilih diam di rumah saja. Hanya orang yang punya keimanan kuatlah bersedia pergi ke masjid dalam suasana seperti ini.


Bagaskara diam di masjid sambil memperhatikan anak-anak yang sedang mengaji dan yang setor hafalan Al-Qur'an. Hati dia bergetar, dalam dirinya muncul rasa iri melihat semangat anak-anak kecil yang mencari itu dengan tujuan beribadah kepada Allah. Selama ini dia hanya belajar agama Islam saat masih ada kakek neneknya dahulu.


'Ya Allah, tumbuhkanlah semangat dalam diriku ini untuk mempelajari kembali agama Islam. Dan permudahkan pemahaman aku.' (Bagaskara)


Setelah menghabiskan waktu sampai Isya di masjid, ketiga orang itu pun pulang. Lagi-lagi Bagaskara salut pada anak-anak Rinjani ini. Kegelapan malam tidak membuat mereka takut. Sungguh, lelaki itu harus berjalan dengan berhati-hati agar tidak terpeleset, tetapi Aqilah dan Azzam terlihat biasa saat berjalan.


"Apa setiap hari kalian pulang pergi ke masjid tanpa membawa senter?" tanya Bagaskara.

__ADS_1


"Senter kami sudah rusak. Dulu tidak sengaja jatuh dan tidak bisa lagi menyala," balas Azzam.


Rasa prihatin Bagaskara masih saja berlanjut. Ketika, kakak beradik itu berkutat di dapur malam-malam membuat keripik. Dia sudah melarang Aqilah dan Azzam untuk bekerja membuat keripik. Namun, kedua anak kecil itu tidak menghiraukannya. Mereka justru bergerak cepat saat memotong singkong dengan alat agar terpotong tipis-tipis.


"Apa ibu kalian juga selalu melakukan hal seperti ini setiap harinya?" tanya Bagaskara sambil ikut membantu memotong singkong.


"Iya. Ibu lebih jago dari kita-kita. Memotong singkong sebanyak ini saja tidak sampai 1 jam," balas Azzam.


"Ibu, kalau mengerjakan suatu pekerjaan akan dilakukan dengan sangat cepat," lanjut Aqilah.


Mata Bagaskara berkaca-kaca, dia tidak tahu harus bicara apa. Ketangguhan, kesabaran, dan keikhlasan keluarga Rinjani dalam menjalani kehidupannya sungguh patut jadi ibrah bagi dirinya. Laki-laki yang selama ini hidup dengan serba kecukupan, tetapi tidak pernah merasa bersyukur. Dia merasa itu hal yang biasa saja.


Ketiga orang itu menyelesaikan semua pekerjaannya sampai jam 09:00 malam. Bagaskara tidur bersama dengan Azzam, sedangkan Aqilah tidur sendiri di kamarnya.


***


Kondisi kesehatan Attar kini sudah membaik dan bisa melakukan rawat jalan. Tentu saja ini membuat Rinjani merasa senang. Selain itu, Attar juga sudah terlihat ceria kembali.


"Adik, nanti makan yang banyak, ya. Biar cepat sehat kembali," kata Dokter Hambali yang menangani Attar.


"Baik, Pak Dokter," balas Attar dengan suara cadelnya.


Rinjani tersenyum senang, dia bersama dokter Hambali sudah banyak berbicara mengenai penyakit yang diderita oleh Attar. Seperti makanan apa saja yang boleh dimakan atau yang tidak boleh dimakan.


Saat Rinjani pulang dengan menaiki kendaraan umum bersama dengan putranya, dia melihat seseorang yang dia kenali.


***

__ADS_1


Siapakah orang itu? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2